. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Zakat yang Menyucikan

Kejahatan sering kali lahir dari masalah ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan perut, orang bisa melakukan apa saja, termasuk dengan melakukan tindak kejahatan, terlebih bagi orang yang tipis imannya.

Terjadinya kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin bisa pula menumbuhsuburkan kejahatan. Maka, agama kita telah mengatur sedemikian rupa agar potensi-potensi keburukan di tengah masyarakat tidak sampai bermunculan. Satu di antaranya adalah dengan disyariatkannya perintah zakat.

Rasulullah saw. memiliki perhatian yang sangat besar dalam masalah zakat ini. Beliau memastikan tidak ada kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin sehingga harta tidak hanya berputar pada sekelompok orang saja. Maka, sekitar tahun sebelas Hijriyah, ketika Islam sudah tersebar ke seantero Jazirah Arabia, bahkan sudah mencapai batas negara Syiria dan Irak, syariat zakat dipraktikkan dengan sangat baik.

Rasulullah saw. mengutus sejumlah sahabat ke daerah daerah yang penduduknya telah masuk Islam untuk menghimpun khumus (seperlima dari harta kekayaan). Di antara sahabat yang Nabi saw. utus adalah Ali bin Abi Thalib ke Najran, Ka’ab bin Malik ke Bani Aslam dan Ghifar, Walid bin Uqbah ke Bani Mushthaliq, dan lainnya.

Ketika hendak diberangkatkan, mereka diberi nasihat oleh Nabi saw. Mereka diperintahkan untuk tidak mengambil harta pilihan (terbaik), menyalurkan harta zakat dan sedekah kepada yang berhak, dan tidak mengambil sedikit pun dari harta tersebut, kecuali kalau ada lebihnya.

Para amil zakat ini menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan jujur seperti yang diajarkan Nabi saw. Di antara mereka pernah datang ke suatu kaum, lalu dia diberi unta yang besar, tetapi pemberian itu ditolaknya. Diberi lagi unta yang lebih kecil, juga ditolak.

“Langit mana yang akan melindungiku, bumi mana yang akan menyembunyikanku, jika aku menghadap kepada Rasulullah sementara aku telah mengambil unta terbaik seorang Muslim?” ujarnya ketika itu. (Sejarah Madinah, Dr. Nizar Abazhah)

Zakat adalah rukun Islam ketiga setelah syahadat dan shalat. Hal ini didasarkan pada sejumlah hadis sahih. Salah Satunya ketika Jibril as. mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw, “Apakah itu Islam?” Nabi saw. menjawab. “Islam adalah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan selam Allah dan Muhammad adalah rasuI-Nya, mendirikan shalat membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan haji bagi yang mampu melaksanakannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Urutan ini tidak terlepas dari pentingnya kewajiban zakat (setelah shalat) bagi seorang Muslim. Siapa pun yang menunaikannya, dia mendapatkan pujian, keberkahan dan balasan yang berlipat. Namun, siapa pun yang mengabaikan atau mendustakan, dia layak mendapatkan sanksi hukum. dia layak mendaparkan celaan, bahkan

mendapatkan sanksi hukum

Ada satu kisah menarik berikut ini.

Abi Sinan namanya Suatu hari dia didatangi oleh sejumlah sahabatnya Abi Sinan kemudian mengajak mereka untuk mengunjungi tetangganya yang tengah ; berduka karena ditinggal mati saudaranya.

Sesampainya di sana, mereka melihat tetangga Abi Sinan terus menangis. Dia tidak bisa dihibur atau dinasihati. Saat ditanya mengapa, dia menjawab,“ ”Aku paham nasihat kalian. Namun aku menangis karena  sesuatu yang menimpa saudaraku yaitu azab!”

tetangga Abi Sinan itu lalu berkisah tentang bagaimana saudaranya itu dimakamkan Awalnya biasa saja. Namun, setelah penguburan selesai. tiba-tiba dia mendengar teriakan dari dalam kubur Teriakannya amat menyayat hati

”Suaranya itu membuatku menangis Aku pun menggali kuburan itu agar terlihat keadaannya Saat itulah aku melihat api melilit di leher saudaraku. Dia berkalung api. Aku pun berusaha untuk melepaskan kalung api, tapi justru jemari dan tanganku terbakar. Kulihat tangan saudaraku pun sudah gosong. Maka, tanah kuburan itu aku kembalikan dan aku pulang. Bagaimana aku tidak sedih dan menangis?”

saat ditanya tentang apa yang dikerjakan saudaranya di dunia, dia menjawab, “Zakat hartanya tidak dikeluarkan.”

Abi’ Sinan dan para sahabatnya kemudian teringat akan janji Allah dalam Surah ali Imran 3: 180 (MukasyafatuI Qulub lmam AI Gh’azali)

Peringatan keras terhadap orang yang tidak membayar zakat tidak hanya berupa hukuman yang sangat pedih di akhirat (misalnya, QS 9:34-35; 3:180), tetapi juga hukuman di dunia. Dalam sejumlah hadis sahih disebutkan hal-hal berikut.

Orang yang tidak mengeluarkan zakat akan ditimpa kelaparan dan kemarau panjang.

Apabila zakat bercampur dengan kekayaan lain, kekayaan itu niscaya akan binasa.

Pembangkang zakat dapat dihukum dengan denda, bahkan dapat diperangi dan dibunuh.

Hukuman terhadap orang-orangyang menolak membayar zakat dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak ‘ lama setelah Rasulullah wafat. Pada waktu itu, ada banyak suku Arab yang membangkang tidak mau membayar zakat dan hanya mau mengerjakan shalat. Maka, Khalifah Abu Bakar ra. pun bersumpah, “Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang membeda-bedakan zakat dari shalat.”

Berdasarkan hal ini, kita dapat memahami betapa asasi dan pentingnya zakat dalam ajaran Islam. Bahkan, dapat dikatakan bahwa orang yang mengingkari kewajiban zakat dapat dihukumi sebagai kafir dan sudah keluar dari Islam (murtad). Pada kenyataannya, zakat bukan sekadar untuk memenuhi Baitul Maal dan menolong orang yang lemah dari kejatuhan yang semakin parah. Tujuan uta diperintahkannya zakat adalah agar manusia lebih tinggi nilainya daripada harta, sehingga manusia menjadi tuannya harta bukan menjadi budaknya.

Dengan demikian kepentingan tujuan zakat terhadap si pemberi (muza ki) sa dengan kepentingannya terhadap si penerima (mustahik)

Saudaraku, berikut ini sejumlah manfaat zakat, baik bagi para muzaki, mustahik, maupun masyarakat secara keseluruhan.

Manfaat Zakat bagi Muzaki

  • Harta menjadi bersih dan berkah.
  • Mempermudah urusan hidup.
  • Didoakan kebaikan oleh malaikat.
  • Menolak bala dan bencana.
  • Memperpanjang dan memberkahkan usia.
  • Membersihkan jiwa dari sifat serakah, kikir, egois, dan lainnya.
  • Menumbuhkan jiwa kasih sayang kepada sesama.
  • Didoakan orang lain, khususnya orang-orang miskin, dan lainnya.

Manfaat Zakat bagi Mustahik

  • Merasa terbantu dalam mengatasi kesulitan hidup.
  • Hidup selalu optimis.
  • Merasa diperhatikan dan disayangi.
  • Merasakan kemahaadilan Allah Ta’ala.
  • Bisa terhindar dari kemurtadan, kekafiran, dan kebencian kepada orang kaya.
  • Merasakan indahnya ajaran Islam dan lainnya.

Manfaat zakat bagi masyarakat luas

  • Menggalang jiwa dan semangat saling menunjang dan solidaritas sosial di kalangan masyarakat Islam.
  • Merapatkan dan mendekatkan jarak antara kaum berharta dan kaum miskin sehingga kesenjangan ekonomi di masyarakat dapat diminimalisasi.
  • Menanggulangi pembiayaan yang mungkin timbul akibat bencana alam.
  • Menutup biaya-biaya yang timbul akibat terjadinya konflik, persengketaan, wabah penyakit, dan masalah sosial lainnya di masyarakat.
  • Menyediakan dana taktis dan khusus untuk menanggulangi biaya hidup bagi para gelandangan, pengangguran, dan para tunasosial lainnya, termasuk dana untuk membantu pembiayaan pendidikan, pernikahan, dan sebagainya.
  • Hikmah Diwajibkannya Zakat bagi Seorang Muslim
  • Manifestasi rasa syukur atas nikmat dari Allah Swt. dan dengan bersyukur, nikmat dari Allah akan berlipat ganda dan menjadi berkah.
  • Melaksanakan pertanggungjawaban sosial, sebab harta kekayaan yang kita peroleh tidak lepas dari andil dan bantuan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Membantu golongan ekonomi lemah sehingga dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan perdamaian di tengah masyarakat.
  • Mendidik seorang Muslim untuk bersikap dermawan dan menjauhkan diri dari sikap kikir serta rakus.
  • Mengantisipasi lahirnya berbagai kerawanan dan penyakit sosial yang disebabkan oleh kemiskinan dan lebarnya iurang pemisah antara golongan kaya dan miskin.

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu dia berkata, ”Ya Tuhanku mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematianl-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh ?”(QS AI-Munafiqun, 63:10)

Ketahuilah, ”Setiap yang menyia-nyiakan kesempatan beramal saleh akan menyesal ketika datang kematian. Dia meminta dipanjangkan waktu walau sebentar untuk bertobat dan mendapatkan kembali apa yang luput darinya. Tidak mungkin bisa, yang lalu telah berlalu, telah datang apa yang harus datang. Dan setiap orang menyesal sesuai dengan penyia-nyiannya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

siapa memiliki harta yang sudah bisa menyampaikannya untuk berhaji ke Baitullah atau mewajibkannya zakat, tetapi tidak melaksanakannya, dia akan minta raj ‘ah (dikembalikan lagi ke dunia) ketika sudah mati.”(HR At Tirmidzi). (Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT