. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Wakaf Berupa Uang Tunai, Bolehkah?

Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim, istilah wakaf sudah tidak asing lagi. Banyaknya lembaga-lembaga wakaf yang mendengung-dengungkan ajakan untuk berwakaf juga sudah tidak sulit ditemukan di negeri ini. Tetapi pemahaman masyarakat mengenai ilmu wakaf, masih sangat minim.  Wakaf hanya dipahami dalam bentuk barang yang memiliki nilai tinggi, bangunan, atau tanah.

Karenanya, Wakaf Daarut Tauhiid (DT), sebagai lembaga wakaf profesional berbasis pesantren, memberikan pemahaman fiqih wakaf secara menyeluruh kepada para pengelolanya, dan edukasi wakaf kepada masyarakat. Terutama wakaf berupa uang yang masih jarang dipahami oleh masyarakat.

Ustaz Fahrudin, Direktur Utama Wakaf DT menyampaikan, wakaf dalam bentuk uang justru memiliki manfaat yang lebih besar. Mengapa? Karena uang tersebut dapat digunakan untuk membeli aset wakaf yang lebih startegis dan memiliki potensi yang lebih tinggi.

“Kalau berupa tanah, kondisi ataupun lokasi tanah tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap Ustaz Fahrudin.

Mengenai waktu dan jumlah nominal dalam berwakaf, Ustaz Fahrudin menjelaskan dengan mengutip sebuah hadis, bahwa Rasulullah saw tidak pernah membatasi waktu untuk berwakaf. Apakah setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, atau seumur hidup sekali. Sedangkan jumlahnya, Rasulullah membatasi hanya sepertiga dari harta yang dimiliki.

“Hadis inilah yang kemudian menjadi landasan bahwa Rasulullah hanya membatasi jumlah harta yang kita wakafkan, dan tidak membatasi berkaitan dengan berapa kali kita berwakaf,” jelasnya. (Erna)

LEAVE A COMMENT