. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Umat Mandiri, Umat yang Dinanti

Seorang anak perempuan berusia lima tahun tampak bersiap-siap berangkat ke sekolah. Tanpa dibantu orangtuanya, anak tersebut mandi, memakai baju, sarapan, dan berangkat ke sekolah sendiri. Sesekali, ia pun membantu ibunya mengurus adiknya yang masih balita dengan menyuapi dan memakaikannya pakaian. Setelah pulang sekolah, ia menyempatkan diri membantu ibunya membuat gorengan untuk dijual. Setelah gorengannya jadi, anak itu ikut membantu menjajakan gorengan ke tetangga-tetangganya.

Ilustrasi kisah ini merupakan salah satu contoh bentuk kemandirian seorang anak. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah dapat melakukan hal-hal yang jarang dilakukan oleh anak-anak seusianya. Ketika ada hal yang bisa dilakukan sendiri, ia melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan, di usianya yang masih dini, ia sudah bisa membantu meringankan beban orang lain, ibunya.

Sederhananya, “mandiri” berarti tidak bergantung pada orang lain, atau dapat berdiri sendiri tanpa mengandalkan orang lain. lebih jauh lagi, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menjelaskan, mandiri adalah salah satu sikap yang membuat seseorang dimuliakan oleh Allah SWT.

Tidak dapat dipungkiri, tidak ada manusia yang tidak membutuhkan orang lain. hampir seluruh aktivitasnya dilakukan dengan campur tangan tangan orang lain. Namun, akan jadi masalah ketika ketergantungannya kepada orang lain menjadi sebuah karakter dan menjadi beban orang lain.

Mandiri Itu Mulia

Aa Gym, secera mendalam menjelaskan bahwa kemandirian merupakan salah satu hikmah dari asma Allah, yakni al-Qayyuum. Yang Mahaberdiri Sendiri. Allah tidak membutuhkan sesuatu pun dalam mengurus semesta ini. Sedangkan manusia, semandiri apa pun pasti tetap membutuhkan sesuatu.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi umat mandiri, yang tidak bergantung pada orang lain. Islam pun mengajarkan umatnya untuk tidak bergantung kepada selain Allah, karena kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah SWT.

Dalam sebuah ceramahnya, Aa Gym menjelaskan, kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan sejati. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri. Orang yang mandiri, hidupnya akan bebas dan merdeka.

Jika sudah terlanjur bergantung dan bersandar kepada selain Allah, biasanya orang akan enggan kehilangan sandarannya itu, dan takut jika sandarannya diambil orang lain. Karenanya, bersikap mandiri adalah salah satu perbuatan mulia yang membuat hati tenang tanpa takut ditinggalkan oleh sesuatu yang menjadi sandaran kita selama ini, termasuk mandiri secara ekonomi.

Hingga saat ini, masih sangat banyak umat Islam yang masih belum bisa mandiri secara ekonomi. Berbagai faktor menyebabkan umat Islam masih menggantungkan atau bersandar pada kemurahan hati atau kebaikan seseorang. Jika orang yang baik hati itu tidak ada, mereka akan kebingungan mencari sandaran orang lain. Padahal, dalam Islam, seseorang tidak boleh menjadi beban orang lain apalagi dengan menjatuhkan harga dirinya dengan meminta-minta.

Karenanya, umat Islam harus bersatu dan membantu saudara-saudara lainnya yang masih belum bisa mandiri dengan menjadikannya mandiri secara akidah dan ekonomi. Secara akidah berarti ia tidak menjadikan makhluk sebagai sandaran hidupnya, dan secara ekonomi berarti ia memiliki penghasilan materi yang layak dan dengan cara yang terhormat.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menunaikan zakat. Zakat  dapat disalurkan melalui lembaga yang terpercaya dan konsisten dalam memberdayakan dan memandirikan umat. (Astri Rahmayanti)

 

LEAVE A COMMENT