. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Tobat Sumber Kebahagiaan

Tobat. Inilah kata yang tidak asing lagi di telinga. Namun, tahukah engkau apa itu tobat? Sederhananya, tobat adalah menghitung, mengakui, menyesali, dan meminta ampunan atas segala kesalahan dan kelemahan diri kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati.

Bertobat laksana membersihkan sebuah gelas kotor yang dipenuhi air kotor. Gelas itu bagaikan tubuh, sedangkan air adalah hati dan jiwa. Apabila jiwa berlumur dosa, tubuh pun akan menerjemahkan apa yang ada dalam jiwa. Maka, apabila dibiarkan, hidup akan terjerembab ke dalam jurang dosa yang membinasakan.

Saudaraku, bertobat itu harus dilakukan semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah Ta’ala. Adapun prosesnya, kita bisa mengawalinya dengan banyak bertafakur, menyendiri, sambil bermuhasabah atau “menghitunghitung” diri. Pada saat itu, kita bisa merenungkan lika-liku perjalanan hidup yang telah dilewati, menelisik kekurangan diri, dosa, kemaksiatan, dan aneka kekhilafan yang telah dilakukan.

Setiap akan bertafakur dan bermuhasabah, bermohonlah kepada Allah Ta’ala dengan ungkapan doa yang kita bisa.

Ya Allah, ya Lathif ya Fattah, ya Ghaffar. Ya Allah, ya Rabbana, Engkaulah AI-Lathff, Zat Yang Mahalembut, lembutkan hati ini untuk bisa mengakui kekurangan diri. Hanya dengan pertolongan-Mu, hamba bisa mengakui kekurangan dan kesalahan diri.

Ya Allah, ya Fattah. Engkaulah Tuhan Yang Maha Pembuka hati, bukakanlah hati ini dari hijab-hijab yang menghalangi hamba dari kesucian jiwa dan dari mencintai-Mu.

Ya Allah, ya Ghaffar. Engkaulah Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa hamba, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, baik yang terlihat maupun tidak terlihat, baik yang kecil maupun yang besar. Amin, ya Allah, ya Rabbal ‘alamin.

Saudaraku, teruslah memohon pertolongan kepada Allah, terkhusus ketika kita telah bermaksiat atau saat mendapatkan kesempatan untuk bermaksiat. Sungguh, karena hanya Allah semata yang kuasa menjaga diri dan membukakan hati kita. Dialah yang kuasa memberi cahaya sehingga kita bisa melihat dan mengakui kesalahan diri. Jika kita tidak mampu melihat dan mengakui dosa-dosa, tobat pun akan hampa.

Pertobatan kita akan sempurna apabila kita tahu kepada pihak-pihak manakah kita telah berbuat dosa.

Pertama, kepada Allah Swt.

Dosa yang paling utama harus kita tobati adalah dosa syirik, yaitu menduakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya. Kemusyrikan ini tidak harus selalu menyembah patung. Ada kemusyrikan yang sangat halus dan terselubung, semisal menganggap seseorang: suami bagi istri sebagai pemberi dan penjamin rezeki. Atau sebaliknya, seorang suami meyakini istrinya sebagai sumber kebahagiaan. Atau, seorang pria yang bersikap alim di depan calon mertuanya dengan harapan mereka menjadikannya menantu. Keyakinan dan tindakan seperti ini adalah suatu kemusyrikan yang harus ditobati Sebenarnya, tiada yang bisa menjadi sumber rezeki dan kebahagiaan selain Allah Ta’ala. Manusia hanyalah sebagai media atau jalan semata.

Kedua, kepada Rasulullah saw.

Salah satu bagian penting dari kalimat syahadat adalah bersaksi atas kebenaran Rasulullah saw. sebagai nabi dan rasul beserta risalah yang dibawanya. Di antara konsekuensi dari persaksian ini adalah berusaha menjadikan beliau sebagai teladan dalam hidup. Kita menjadikan sunnahnya sebagai bagian dari keseharian diri, sejak bangun tidur sampai tidur kembali.

Namun, di sinilah masalahnya, kita sering kali tidak bersungguh-sungguh melakukan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Kita makan, minum, bergaul, dan mencari nafkah, tapi cara melakukannya jauh dari apa yang beliau contohkan. Jika demikian, kita layak bertobat atas semua kesalahan ini.

Ketiga, kepada kedua orangtua.

Dua orangtua kita adalah orang yang paling berjasa dalam hidup. Sejak dalam kandungan sampai kita dewasa, tidak berlalu hari-hari kecuali ada limpahan kasih sayang dari mereka. Maka, sangat pantas apabila kita memohon kepada Allah Ta’ala agar mereka dimuliakan hidupnya, diampuni dosa-dosanya, dan dimudahkan segala urusannya. Sesungguhnya hal mi termasuk salah satu bentuk syukur kita kepadanya.

Terungkap dalam Al-Quran, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibubapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS Luqman. 31:14)

Keempat, kepada pasangan hidup.

Suami dan istri adalah partner hidup, teman seiya dan sekata, orang yang saling mengisi dalam perjalanan kehidupan. Dalam berinteraksi sebagai pasangan hidup, terbuka bagi keduanya celah untuk melakukan kesalahan dan kekeliruan, entah disengaja ataupun tidak. Semisal. berbumk sangka, merasa diri lebih pintar, menyakiti dengan kata-kata ataupun perbuatan, tidak menuruti perintah dan nasihat. tidak memenuhi hak serta kewajiban, dan sebagainya.

Di sinilah kita harus memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla atas dosa yang kita lakukan sebagai pasangan suami dan istri. Tentu saja, kita pun harus menyempurnakannya dengan memohon keridhaan pasangan kita.

Kelima, kepada anak-anak.

Ada banyak dosa yang dilakukan orangtua kepada anak. baik terasa maupun tidak terasa. Namun, dosa terbesar orangtua kepada anak adalah membiarkan anak tidak mengenal Allah Ta’ala, mengajari anak-anak lebih senang beramal karena manusia daripada karena Allah Ta’ala. Akibatnya, anak-anak kita shalat bukan karena Allah Ta’ala. melainkan karena takut kepada ibunya atau bapaknya. Tentu saja, hal ini bukanlah kesalahan anak, akan tetapi kesalahan orangtua dalam mendidik mereka.

Keenam, kepada saudara sekandung.

Banyak hal yang bisa menyebabkan terjadinya perbuatan dosa kepada saudara (kandung). Salah satunya adalah kita mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingkan saudara sendiri. Padahal, dengan saudaralah kita hidup bersama, susah dan senang. Mengapa mereka yang dekat dengan kita dibiarkan dan tidak diperhatikan?

Oleh karena itu, bagaimana pun kondisi saudara kita, jangan sampai kita termasuk orang yang mengkhianati keluargadenganmembiarkan mereka hidup serba kekurangan,

sedangkan kita hidup berkecukupan. Semoga kita tidak termasuk orang yang durhaka terhadap saudara-saudara kita.

Ketujuh, kepada tetangga.

Salah satu contoh dosa terhadap tetangga adalah membiarkan tetangga berada dalam kesusahan, padahal kita sanggup memberikan pertolongan. Atau, bisa pula, kita membuat tetangga merasa tidak nyaman. Sebagai contoh, kita membiarkan suara-suara bising yang mengganggu terdengar oleh para tetangga. Atau, kita memarkir kendaraan di halaman rumah tetangga tanpa izin. Atau,kita membiarkan binatang peliharaan berkeliaran bebas sehingga mengganggu, mengotori, dan merusakkan halaman tetangga, dan lainnya.

Sesungguhnya Rasullullah saw. bersabda bahwa salah satu tanda keimanan kita kepada Allah dan Hari Akhir adalah menghormati dan berbuat baik kepada tetangga.

Kedelapan, kepada sahabat karib.

Jangan pernah melupakan sahabat lama hanya karena datangnya sahabat baru yang membawa keuntungan duniawi semata. Persahabatan yang dilandaskan karena Allah Ta’ala adalah persahabatan terbaik. Persahabatan jenis ini akan abadi sampai di akhirat.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah saw. bersabda bahwa ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan pada Hari Kiamat. Salah satunya adalah mereka yang bersahabat karena Allah Ta’ala.

Kesembilan, kepada guru.

Guru adalah orang yang sangat berjasa bagi kita, bank itu guru mengaji, guru TK, SD, SMP, SMA, dcmen, maupun guru di bidang lainnya. Kita harus menghormati dan menghargai mereka. Membahagiakan guru termasuk perbuatan yang sangat mulia, terlebih kepada guru yang menjadi jalan bagi kita untuk mengenal Allah dan rasul Nya.

Maka, apabila kita memiliki kesalahan kepada seorang guru, bersegeralah untuk meminta maaf. Atau, kalau tidak memungkinkan, semisal guru kita sudah wafat atau keberadaannya tidak kita ketahui, jangan putus untuk mendoakan mereka beserta keluarganya. Amalkan ilmunya dan laksanakan nasihat kebaikan darinya.

Kesepuluh, kepada mertua.

Mertua sering kali menjadi sosok yang banyak dizalimi oleh menantu, baik melalui lisan maupun perbuatan. Maka, andai kita berposisi sebagai seorang menantu, banyaklah bertobat apabila jarang membahagiakan mertua.

Sesungguhnya merekalah yang telah membesarkan, mendidik, dan menyekolahkan pasangan hidup kita. Jasa mereka sangat banyak walau kita jarang menyadarinya. Maka, bersegeralah untuk bertobat meminta ampunan dariNya. Tanamkan dalam hati kita bahwa posisi mertua sama seperti orangtua kandung kita. Jangan pernah kita membeda, bedakan mereka.

Kesebelas, kepada pembantu (khadimat) atau karyawan.

Salah satu penyakit hati yang sering melanda adalah perasaan lebih dari orang lain, apalagi jika dibandingkan dengan pembantu (khadimat) di rumah. Apabila ada perasaan semacam ini, segeralah bertobat. jangan sungkan Untuk meminta maaf kepada mereka apabila ada kata kata, sikap, atau perbuatan kita yang melampaui batas. Boleh jadi derajat mereka di sisi Allah jauh lebih mulia daripada kita. bos atau majikannya.

Saudaraku, memohon ampunan Allah Ta’ala bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Hanya saja, dengan kesempurnaan ilmu-Nya, Allah Ta’ala sudah menyediakan waktu yang sangat tepat untuk itu. Salah satunya pada sepertiga malam terakhir.

Inilah salah satu momen yang sangat indah, spesial, dan sempurna dalam siklus harian seorang Muslim. Bahkan, dalam bahasa metaforanya disebutkan bahwa pada waktuwaktu itu malaikat menjadi begitu dekat, pintu-pintu pertolongan dan rahmat Allah dibukakan.

“Tuhan kita (Allah) Azza wa ]aIIa tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir.” Rasulullah melanjutkan, “Pada saat itulah Allah Ta’ala berfirman, ‘Siapa berdoa kepada-Ku pasti Aku kabulkan; barang siapa memintd kepada-Ku pasti Aku beri; dan siapa meminta ampunan kepada-Ku pasti Aku ampuni.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Apabila kita renungi hadis ini, kita akan mendapatkan sebuah kesimpulan yang mencengangkan. Bagaimana tidak, saking mulianya shalat Tahajud dan saking berkahnya waktu sepertiga malam terakhir, Allah Azza wa Jalla sampai “menyengajakan diri” mendatangi hamba-Nya demi memberikan ampunan dan mendengar serta mengabulkan apa saja yang dimintanya, baik dari urusan duniawi maupun ukhrawinya.

Betapa ruginya kita apabila tidak segera menyambut keistimewaan yang Allah Ta’ala hadirkan setiap malam. Siapa lagi yang dapat memberi solusi atas segala permasalahan kita selain Allah Ta’ala? Siapa yang kuasa mengampuni dosa-doa kita Maka, kita dianggap tidak serius dalam bertobat dan meraih kebahagian hidup apabila kita tidak mau menghadap di sepertiga malam terakhir Allah Ta’ala mengaitkan kebahagiaan dengan amal saleh. Dia berfirman, ”Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS An-Nah|, 16:97)

Dan, salah satu kunci pembuka pintu kebahagiaan dan kehidupan yang baik adalah dengan memperbanyak istighfar. Rasulullah saw. bersa bda, “Siapa yang melazimkan istighfar, niscaya Allah Ta ‘ala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan kesedihan, serta melapangkannya dari setiap kesempitan dan akan mengaruniakan kepadanya rezeki dari jalan yang tidak terduga.” (HR Abu Dawud)

(Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT