. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Tauhid yang Kokoh

Setiap kali kita menjalankan shalat, baik pada rakaatbkedua maupun rakaat terakhir, kita senan tiasa berikrar, “asyhadu alla illaha illallah; wa asyhadu anna muhammadar-rasulullah. Artinya, “aku bersaksi (mengakui) bahwa tiada tuhan selain allahdan aku bersaksi (mengakui) bahwa nabi Muhammad adalah utusan allah.” Inilah dua kalimat syahadat yang wajib kit abaca, renungi, dan amalkan nilai-nilai yang ada di dalamnya.

Syahadat itu sendiri bermakna “pengakuan”. Dengan demikian, di dalam syahadat terdapat unsur pengakuan. Pengakuan terhadap dua hal. Pengakuan bahwa tiada tuhan yang patut disembah kecuali allah. Dan pengakuan bahwa rasulullah adalah utusan allah.

Pengakuan itu sebagai syahadat tauhid dan sebagai shayat rasulullah. Syahadat ini menjadi syarat utama menjadi seorang muslim, seorang tunduk patuh terhadap rabbnya.

Sekarang mari kita menafakuri diri. Sudahkan menempati janji kepada allah? Betulkah kita tidak mempertuhankan selain allah? Jangan-jangan syahadat kita hanya dimulut saja, tapi tidak diperbuatan.  Jangan-jangan kecintaan kita lebih besar kepada manusia daripada kepada allah. Astagfirullah.

Lihatlah betapa kokohnya keimanan dan ketauhidan sahabat Bilal bin Rabah ra. kepada Allah Azza wa Jalla. Dia memilih disiksa oleh kaum kafir Quraisy daripada harus tunduk pada mereka. Dia dipaksa untuk keluar dari Islam dan kembali menyembah berhala. Namun, dia tetap bertahan dalam keyakinannya. Dia lebih memilih untuk disiksa di padang pasir, di bawah terik matahari, di mana dadanya dibebani dengan sebuah batu besar.

Beratnya siksaan yang Bilal terima, sekali lagi, tidak membuat tauhidnya terkikis. Tidak sedikit pun ada rasa takut atau penyesalan dalam dirinya. Tiada keluhan yang keluar dari lisannya. Yang ada hanyalah zikrullah. Alldhu Ahad, Allahu Ahad, Ahad….Ahad…Ahad…. Allah Maha Esa, Allah Maha Esa, Esa …Esa Esa…. Itulah Bilal. Dia terus-menerus mengucapkan asma Allah dan menguatkan hatinya untuk tidak berpaling dari Allah Swt.

Pelajaran berharga tentang kuatnya keyakinan kepada Allah Azza wa Jalla diberikan pula oleh Bunda Hajar, istri Nabi Ibrahim as. Suatu saat dia berada di suatu padang pasir yang tandus berdua bersama bayinya yang masih merah. Tidak ada makanan, tidak ada perbekalan, tidak ada alat komunikasi, tidak ada tabungan, dan tidak pula ada orang lain yang bisa menolong mereka untuk bisa bertahan di padang tandus itu. Hanya keyakinannya yang kokohlah yang membuatnya bisa bertahan.

Bunda Hajar sangat yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt. Dialah Allah Ta’ala yang diyakininya sebagai satu-satunya yang dapat menolongnya. Dan, ternyata benar! Zat Yang Mahakuasa tidak membiarkan Hajar dan bayinya, Ismail as. kelaparan. Allah Ta’ala menciptakan bagi mereka mata air zamzam yang terus mengeluarkan air sampai sekarang.

Saudaraku, selain Rasulullah saw. dan para nabi lainma, jadikanlah Bilal bin Rabah dan Hajar sebagai bagian dari guru besar tauhid yang kuat. Maka, kala kita terpuruk, tidak ada tempat meminta pertolongan, tidak ada pasangan tempat berbagi suka dan duka, dan lainnya, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala; tidak kepada selain-Nya. Yakinilah bahwa Allah akan menolong kita. Allah akan selalu bersama kita. Tentu saja, apabila kita berusaha untuk terus mendekat kepadaNya.

Semakin besar harapan seorang hamba terhadap karunia dan rahmat Allah dalam memenuhi kebutuhannya, niscaya akan semakin kuat pula penghambaan dia kepadaNya, dan semakin besar pula kebebasannya dari rasa bergantung kepada selain-Nya” (Ibnu Taimiyah). (Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT