. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Syahid, Cita-cita Tertinggi Anak-anak di Palestina

Berasal dari Yogyakarta yang sangat dimanjakan oleh budaya tutur, membuat pria bernama lengkap Bambang Bimo Suryono ini, memantapkan tekadnya sebagai pendongeng. Sebuah peran yang mungkin tidak begitu populer di kalangan da’i maupun masyarakat. Akan tetapi, pria kelahiran Bantul, 14 Mei 1974 itu amat yakin dunia anak-anak merupakan wilayah dakwah yang sangat penting.

Metode dongeng, menurut ayah enam anak yang akrab disapa Kak Bimo ini, lebih cocok dengan nasihat dakwah ketimbang metode lain, misalnya lagu dan permainan edukatif lainnya. Lewat penyampaian kisah, banyak pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan dapat diajarkan tanpa anak-anak merasa diceramahi.

“Ciri khas anak itu dunia fantasi, maka kita manfaatkan dengan sentuhan religius. Di dalamnya kita masukkan banyak pengetahuan, terutama tentang keimanan. Tanpa keimanan yang baik, saya rasa akan banyak masalah dalam kepribadian mereka nantinya,” kata Kak Bimo yang merasa lebih tepat dirinya dipanggil “juru kisah”.

Dakwah melalui kisah ia yakini sebagai pertanggungjawaban atas amanah yang diemban. Yakni mewujudkan generasi berkarakter atau berakhlak qurani, sehingga di masa mendatang mereka siap sanding dan tanding, serta layak untuk memimpin.

“Saya menyebutnya sebagai gerakan transformasional, bukan transaksional. Meskipun saya disebut ahli bercerita, tapi saya tidak menyebutnya sebagai profesi. Ini murni pengabdian. Karena metode bercerita bagi saya hanyalah alat, dan kemampuan mendongeng bagi saya adalah sebuah keterampilan atau kompetensi seorang da’i,” lanjutnya.

Berikut ini perbincangan Kak Bimo dengan tim dari majalah Swadaya di Masjid Syuhada, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Akidah sebagai Formula Berkisah

Kak Bimo yang beristrikan Elis Purwaningsih ini, berharap dengan kisah yang disampaikannya anak-anak menjadi takut kepada Allah SWT. Pengantar dongengnya selalu tentang ketauhidan. Tentang keberadaan Allah, dan bagaimana memperkenalkan anak-anak kepada Allah. “Jadi cerita kita bukan sekadar lelucon atau hiburan, tapi ada formulanya,” ujarnya.

Persoalan akidah pada anak-anak menjadi darurat untuk diperhatikan. Karena sekarang ini tidak sedikit anak-anak yang akhlaknya babak-belur oleh sampah atau virus peradaban dan sangat jauh dari nilai-nilai islami.

Jika di masa kanak-kanak akhlak dan kepribadiannya sudah dilemahkan virus tersebut, maka masa remaja apalagi dewasanya akan semakin bermasalah dan tidak jelas. Dan itu belum menimbang keadaan zaman ke depan yang besar kemungkinannya akan penuh kejutan.

“Kalau tidak ada anti virusnya, yakni akidah, maka anak-anak kita makin ke depan makin tidak jelas kepribadiannya. Nah, semoga saja, kisah yang kami tuturkan itu bisa menjadi salah satu anti virus dalam diri anak-anak,” harap Kak Bimo yang pernah mewakili Indonesia dalam festival Story Telling Internasional di Malaysia, awal 2011 lalu.

Oleh sebab itu, Kak Bimo bersama kawan-kawannya berupaya mengedepankan kisah-kisah qurani ketika mendongeng, terutama kisah para rasul, nabi, dan alim ulama. Mereka juga menyeleksi dan memfilterisasi berbagai cerita yang ada dari mitos, legenda, khurofat, dan semacamnya yang dapat merusak akidah dan akhlak. “Jadi, bagaimana kita menghidupkan ruh tauhid dan menumbuhkan akhlaqul karimah,” ujar Kak Bimo.

Kisah Air Mata di Palestina

Pada 2012, anak kedua dari empat bersaudara ini pernah ke Jalur Gaza, Palestina. Menghibur anak-anak yang dalam kondisi trauma, setelah perang delapan hari. “Saya pakai bahasa Arab. Dan bahasa Arab saya yang sangat standar ternyata juga dipahami orang sana,” katanya sambil terkekeh.

Namun karena didapati banyak perbedaan profemnya, ibarat beda antara bahasa Yogyakarta dan Banyumas, akhirnya kak Bimo menggunakan bahasa Indonesia saja. “Dengan modal ekspresi dan suara yang saya miliki, alhamdulillah, mereka tertarik,” lanjutnya.

Di Gaza, Kak Bimo memperoleh banyak pengalaman berharga. Salah satu yang terus menggema di dadanya adalah pengalaman ketika ia bertanya tentang cita-cita kepada anak-anak di sana. Apabila anak-anak di Indonesia akan berebut mengangkat tangan saat ditanya siapa yang bercita-cita ingin menjadi dokter, pemain sepak bola, atau pun memiliki pabrik pesawat, maka hal yang sama tidak terjadi di Gaza.

“Ketika di sana saya bertanya, ‘Anak-anak siapa yang ingin jadi presiden?’ Tidak ada yang angkat tangan. ‘Siapa yang mau jadi menteri?’ juga tidak ada,” ujar Kak Bimo. “Kecuali ada dua atau tiga anak dari 163 anak TK, yang malu-malu merespons saat ditanya tentang siapa yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional,” lanjutnya.

Perbedaan respons yang begitu kentara dengan anak-anak Indonesia membuat kak Bimo berpikir sejenak. Mereka-reka pertanyaan lain yang mungkin cocok bagi mereka. Kemudian pelan-pelan kak Bimo mencoba bertanya, “Siapa di antara kalian yang ingin mati syahid?”

Tiba-tiba 163 anak yatim itu berdiri. Seluruhnya serentak berucap, “Saya ingin mati syahid!” Kak Bimo amat terperanjat dengan jawaban mereka. “Saya terdiam, dan merinding kuduk saya. Saya menghapus air mata setengah-setengah, karena saya tidak boleh tampak lemah di depan mereka,” ucap Kak Bimo dengan tatapan berkaca-kaca.

Anak-anak Gaza itu semakin heboh mengangkat tangan saat Kak Bimo bertanya, “Siapa yang ingin mati duluan?” Semua itu karena sambung menyambung dengan etos Alquran. Demikian pula kenapa anak-anak usia TK di sana sudah hafal 20 sampai 25 juz Alquran. Mereka mengetahui, dan sudah amat yakin mati syahid akan membuka pintu langit, membuat malaikat tersenyum, dan meraih rida Allah SWT.

“Pakai bahasa anak TK, ‘kami akan saling berlomba siapa yang paling banyak hafal Alquran, agar mulia di sisi Allah dan agar bisa berbakti kepada orangtua kami,” kata Kak Bimo menirukan ucapan mereka. Subhanallah! (Zamroni)

 

LEAVE A COMMENT