. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Sebab-sebab Penderitaan

Saudaraku, kita tentu mendambakan hidup yang bahagia. Bahkan, kita mendambakan kebahagiaan itu tetap hadir meski bagaimanapun keadaan kita. Namun, selalu ada saja celah untuk kita merasa menderita. Berikut ini beberapa sebab pemicu timbulnya penderitaan.

Pertama, tidak terima atas apa yang terjadi. Tidak ada seorang pun, sekuat apapun ia, yang mampu menolak takdir Allah SWT.

Jika Allah berkehendak maka pasti terjadi. Ketika kotoran burung menimpa rambut kita, mungkin kita akan menggerutu, mengeluh, tak terima atas kejadian itu. Padahal terima atau tidak terima, peristiwanya sudah terjadi. Maka, sikap terbaik adalah menerima saja, sembari melanjutkan dengan ikhtiar membersihkannya. Rasulullah saw bersabda, “..Maka barangsiapa yang rida (pada Allah), maka baginya keridhoan (dari Alloh).” (HR. Tirmidzi)

Kedua, buruk sangka. Penderitaan juga muncul karena buruk sangka kepada Allah SWT. Ia mengira bahwa Allah tidak menyayanginya, tidak peduli kepadanya, tidak mendengar doa-doanya. Kejadian yang tidak sesuai keinginannya ia jadikan alasan untuk menduga bahwa Allah tidak menolongnya. Padahal, setiap ujian hidup itu adalah bukti bahwa Allah memperhatikannya.

Di dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman, “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Hasan Al Bashri menerangkan, “Ketahuilah bahwa perbuatan manusia tergantung pada prasangka mereka kepada Rabb-nya. Adapun orang mukmin dia akan membaguskan amalnya. Adapun orang kafir dan munafik, dia berprasangka buruk kepada Rabb-nya, maka mereka buruk dalam amalnya.”

Ketiga, kurang syukur. Ingat perumpamaan jerawat dan hidung. Ada orang yang muncul jerawat di hidungnya, kemudian dia mengeluhkan jerawat itu. Padahal, jika dia mau melihat lebih luas, mestinya dia bersyukur bahwa jerawatnya tidak sebesar hidungnya dan bahwa masih banyak bagian di mukanya yang bersih dari jerawat. Ia akan menderita jika hanya fokus pada satu jerawatnya saja.

Maka, setiap kali ada kejadian yang tidak sesuai dengan harapan, senantiasalah melihat dari sisi lain atau dari sisi yang lebih luas, agar terlihat oleh kita betapa selalu lebih banyak karunia Allah yang kita terima. Dengan demikian, insyaa Allah kita jauh dari penderitaan, dan akan senantiasa merasa bahagia dalam setiap keadaan. Wallohu a’lambishawab.[KH. Abdullah Gymnastiar]

LEAVE A COMMENT