. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Salih dan Muslih

Ada orang yang salih dan ada orang yang mushlih. Orang salih itu hampir bisa dipastikan disukai oleh semua orang. Sedangkan orang yang mushlih belum tentu disukai oleh semua orang. Mengapa? Karena orang yang salih itu artinya orang yang baik baru sebatas untuk dirinya sendiri atau sebagai dirinya secara personal. Sedangkan orang yang mushlih itu selain akhlaknya baik secara personal, dia juga mengajak orang lain dan lingkungannya untuk menjadi lebih baik.

Rasulullah saw sejak muda sudah sangat dikenal sebagai pribadi yang salih, akhlaknya mulia dan sangat bisa dipercaya. Semua orang di kota Mekkah menyukainya. Akan tetapi ketika beliau mulai menjadi sosok yang mushlih, sosok yang mengajak orang lain kepada tauhiid, kepada kebenaran dan kebaikan, maka sebagian besar orang-orang di Mekkah tidak menyukainya. Mereka bukan tidak menyukai akhlak Rasulullah saw yang mulia, akan tetapi mereka tidak suka diajak kepada nilai-nilai tauhid.

Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr [103] : 1-3).

Jadi orang yang beruntung itu pertama adalah orang yang beriman. Artinya dia harus belajar agar memiliki pemahaman tentang kebenaran, sehingga setelah paham dia menjadi yakin atau iman. Kedua, adalah orang yang mengamalkan pemahamannya dengan cara beramal sholih. Dan yang ketiga, yaitu nasehat-menasehati kebenaran dalam kesabaran.

Mengamalkan kebenaran itu ujiannya akan lebih berat dari sekedar memahami atau meyakini. Dan akan lebih besar lagi ujiannya manakala mendakwahkan kebenaran. Oleh karena itulah mendakwahkan kebenaran disandingkan dengan kesabaran karena memang memerlukan kesabaran ekstra dalam menjalaninya. Mengapa? Karena akan ada pihak-pihak yang tidak suka dengan kegiatan kita mendakwahkan kebenaran.

Rosululloh Saw. adalah sosok yang sholih sekaligus mushlih, mulia akhlaknya sekaligus mengajak orang lain pada kemuliaan akhlak. Bersih dan lurus tauhiidnya sekaligus mengajak orang lain kepada tauhiid yang kokoh. Berat ujian yang dihadapi oleh Rosululloh, namun sangat tinggi derajat beliau di sisi Allah SWT.

Jangan takut untuk menjadi pribadi sholih sekaligus mushlih. Jangan takut menyampaikan kebenaran dan kebaikan pada orang lain. Jangan takut mengajak  orang lain pada jalan yang diridai Allah. Semakin kita terlibat di jalan dakwah, semakin kita sabar dan tangguh dalam dakwah, maka semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah SWT. InsyaaAllah! [KH. Abdullah Gymnastiar]

LEAVE A COMMENT