. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Salat yang Menenteramkan

Di antara semua ibadah ritual, tidak ada yang paling sering dilakukan selain shalat. Lima kali sehari semalam kita diseru untuk shalat fardhu, plus tambahan shalat-shalat sunnah yang dicontohkan Rasulullah saw. mulai dari Rawatib sampai Tahajud. Hal ini memberi kita gambaran tentang betapa penting shalat dalam kehidupan kaum Muslimin.

Saudaraku, ada berpuluh keutamaan shalat yang tidak dimiliki oleh ibadah-ibadah lainnya dalam islam. Beberapa di antaranya dapat kita sebutkan di sini.

Pertama, shalat adalah tiang agama.

Rasulullah saw. bersabda bahwa shalat itu tiang agama (Islam), barangsiapa mendirikan shalat sama artinya dengan mendirikan bangunan agamanya. Sebaliknya, Siapa meninggalkan (serta menyianyiakan) shalat, sama artinya dengan meruntuhkan bangunan agamanya. (HR Al-Baihaqi).

Kedua, shalat adalah amalan pertama yang diperintahkan.

Shalat adalah perintah pertama dari Allah Ta’ala kepada Rasulullah saw. tidak lama setelah beliau diangkat menjadi rasul. Pada bagian pertama surah Al-Muzzammil disebutkan, “(1 ) Hai orang yang berselimut (Muhammad), (2) bangunlah (UHtUk shalat) Pada malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (3) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, (4) atau lebih dari seperdua itu …”

Ketiga, shalat termasuk ibadah yang disyariatkan kepada para nabi.

Sebelum diutusnya Rasululah saw., shalat juga disyariatkan kepada para nabi sebelumnya. Hanya saja, tata cara pelaksanaannya tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Adapun tata cara shalat yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. adalah yang paling sempurna.

Keempat, shalat adalah sarana menggugurkan dosa-dosa.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Tahukah kalian sekiranya ada sungai di depan pintu (rumah) salah seorang di antara kalian, dia mandi di dalamnya setiap lima kali, apakah masih ada yang tersisa dari kotorannya ?”

Mereka menjawab, “Tidak ada yang tersisa sama sekali.”

Nabi saw. bersabda, “Yang demikian itu adalah perumpamaan shalat lima (waktu). Allah menghapuskan dosa-dosa dengannya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Kelima, shalat adalah amal pertama yang dihisab di akhirat.

Nabi kita bersabda, ‘Amal pertama yang akan diperhitungkan tentang seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat; jika baik shalatnya, maka baik pula semua

amalnya, dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.” (HR Ath-Thabrani)

Keenam, shalat menjadi penentu nasib manusia di akhirat.

Shalat menjadi penentu nasib manusia di akhirat, apakah mendapatkan surga ataukah neraka. Rasulullah saw. bersabda, “(Ada) lima shalat yang diwajibkan Allah kepada para hamba; siapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakan salah satu di antaranya sama sekali karena meremehkan kewajibannya, maka baginya janji Allah untuk memasukkan dia ke dalam surga; dan siapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak mendapatkan janji di sisi Allah: ]ika suka Dia menyiksanya dan jika suka Dia memasukkannya ke dalam surga.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban)

Ketujuh, shalat adalah pengundang cinta dan kasih sayang Allah Ta’ala.

Kewajiban shalat adalah hadiah dari Allah bagi orangorang beriman. Siapa saja yang menerimanya, menjaganya, dan berusaha optimal dalam menjalankannya, dia berhak mendapatkan cinta dan limpahan rahmat dari-Nya. Maka, Rasulullah saw. pun mengabarkan bahwa, ”Amal yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah shalat (tepat) pada waktunya.” (HR Muslim dari Abdullah bin Anas)

Sejumlah ayat Al-Quran menyebutkan pula beberapa fungsi shalat, di antaranya sebagai berikut.

Pembeda antara seorang Muslim dan kafir (QS At-Taubah 9:11) ,

Kunci kesuksesan hidup (QS Al-Mu’minan, z3zz.)

Mencegah seorang Muslim dari perbuatan keji dan mungkar (QS Al-Ankabiit, 29:45)

Pengundang datangnya pertolongan Allah (QS Al. Baqarah, 2:45, 153)

Memupuk rasa persamaan, persatuan, dan persaudaraan (QS An-Nisa’, 4:102.)

Sarana efektif mendisiplinkan diri (QS Had, 11:114) Sarana menjaga kebersihan diri (QS Al-Ma’idah, 5z6) Peredam rasa gelisah dan keluh kesah (QS Al-Ma’arij, 70:19)

Momen yang sangat istimewa bagi seorang hamba untuk bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah Ta’ala. (QS Al-Ma’idah, 5:12; QS Thaha, 20:14)

Apabila shalat demikian istimewa, mengapa banyak orang shalat yang tidak mendapatkan aneka keutamaan tersebut. Ada orang yang shalat akan tetapi hatinya selalu resah gelisah. Padahal, menurut Al-Quran (QS 70:19), shalat bisa meredam kegelisahan dan keluh kesah. Ada orang yang rajin shalat akan tetapi maksiatnya pun terus jalan. Padahal, menurut Al-Quran (QS 29:45), shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Mengapa demikian?

Apabila hal ini sampai terjadi, yang salah bukan perintah shalatnya, akan tetapi orang yang melakukanya. Dia shalat akan tetapi shalatnya hanya sekadar ritual. Shalatnya tidak sampai ke hati.

Maka, kita dapat mengelompokkan orang-orang yang melaksanakan shalat ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama, orang jahil (tidak berilmu), yaitu mereka yang menjalankan shalat akan tetapi tidak mengetahui fikih shalat. Artinya, mereka tidak mengetahui syarat sahnya shalat serta tidak paham rukunnya. Mereka menjalankan shalat hanya ikut-ikutan saja.

Kelompok kedua, orang-orang ghafil, yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya. Golongan ini pada umurnya magetahui rukun serta syarat sahnya shalat, akan tetapi hati dan pikirannya tidak hadir ketika shalat. Hati dan pikirannya terfokus pada urusan lain, bukan pada shalat yang tengah dilaksanakannya.

Kelompok ini termasuk orang-orang celaka sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Ma’fln ayat 4-7. ”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan ( menolong dengan) barang berguna.”

Boleh jadi kita bertanya, mengapa mereka celaka padahal mereka melakukan shalat? Jawabannya adalah karena mereka lalai ketika menjalankan shalat. Sewaktu shalat mereka tidak ingat shalat dan tidak mengingat Allah Ta’ala. Sebaliknya, saat shalat mereka memikirkan urusan duniawi yang seharusnya mereka lupakan.

Kelompok ketiga, orang-orang khusyuk, yaitu mereka yang ketika shalat benar-benar taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala. Tiada urusan yang menjadi hijab (penghalang) antara hati dan pikirannya dari Allah Swt. Dia benar-benar berkonsentrasi pada shalatnya.

Allah Ta’ala menggambarkan orang yang khusyuk shalatnya, “ adikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu ) orang-orang yang ‘neyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah, 2:45-46)

Dengan demikian, shalat khusyuk setidaknya memiliki dua syarat. Pertama, yakin bahwa shalat merupakkan momen untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala sehingga mengakui kehinaan diri di hadapan-Nya. Sebelum memulai shalat mengakui dalam hati bahwa diri berlumur dosa dan benare benar hina di hadapan Allah Ta’ala, dan berharap semOga Allah Ta’ala menerima shalat yang akan dilaksanakan.

Kedua, memahami setiap bacaan dalarn shalat. Setiap kali dia mengucapkan bacaan shalat (dengan lisan), pikiran dan hatinya menyertai dengan memahami maknanya (arti bacaan tersebut). Dia tahu persis makna gerakan dan apa yang dibacanya. Dengan demikian, shalat yang dilakukannya dimaknai sebagai komunikasi yang indah antara dia dan Rabbnya.

Pada saat membaca surahAl-Fatihah misalnya, dia benarbenar memahami bahwa dalam setiap ayatnya mengandung dialog yang sangat indah dengan Zat Yang Mahakuasa. Terungkap dalam sebuah hadis qudsi berikut ini.

Abu Hurairah ra. berkata, “Bacalah AI-Fatihah untuk diri kalian sendiri karena aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat (maksudnya surah AI-Fatihah) di antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan hamba-Ku boleh meminta apa saja yang dia mau.”

Ketika dia mengucapkan, ‘Segala puji bagi allah, Tuhan semesta alam (AI-hamdulillahi Rabbi! Alamin),’ maka Allah Ta’ala menjawab, ”Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Ketika dia mengucapkan, “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Ar-Rahman ArRahim),” maka Allah Ta’ala menjawab, “Hamba-Ku telah memberikan pujian kepada Diri-Ku.” Ketika dia mengucapkan, ”Raja yang menguasai Hari Pembalasan (Maliki yaumiddin),” maka Allah Ta’ala menjawab, ”Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.”

Ketika dia mengucapkan, “Hanya kepada Engkau lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-Iah kami memohon pertolongan (Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in)”, maka Allah Ta’ala menjawab, “Inilah saatnya hamba-Ku menyampaikan permintaan dan Aku harus mengabulkannya. ” Ketika dia mengucapkan, ”Tunjukilah aku ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang orang yang sesat (Ihdina shirathal mustaqim, shirathal Iadzina an’amta ‘alaihim ghairail maghdhubi ‘alaihim wa ladhdhaillinL” Allah Ta’ala pun menjawab, “Inilah saat yang dimiliki oleh hamba-Ku dan Aku harus mengabulkan permintaannya.” (HR Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Demikian pula saat rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, dan lainnya, kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan. Dengan demikian, shalat pun benarbenar menjadi momen untuk online dengan Allah. kita bisa memuji-Nya, memohon ampunan dan karunia-Nya, bermunajat dan curhat kepada-Nya. Jika demikian adanya, shalat bisa menjadi charger bagi keimanan dan kesehatan jiwa raga kita. Ketenteraman jiwa pun bukan lagi sekadar harapan, melainkan bisa menjadi kenyataan yang senantiasa mewarnai hari-hari kita.

dalam alquran minhajul hayati seorang ulama berkata “didalam shalat terdapat tiga karakter 1.ikhlas 2.takut dan 3.zikir. ketahuilah ikhlas akan memandu seorang hamba kepada kebaikan, takut akan melarangnya berbuat kemungkaran, dan zikir (emngingat allah ta’ala) akan memerintahkannya kepada kebaikan dan melarangnya dari kemunglaran. maka, salat yang tidak mengandung ketiga hal tersebut, sesungguhnya bukanlah salat (yang sempurna)” (Nninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT