. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Riya, Perusak Amal

Beramal saleh itu sangat penting. Namun, menjaga amalamal tersebut dari parasit yang merusakkan juga tidak kalah pentingnya. Mengapa? Tanpa dijaga, amal ibadah kita tidak akan mendatangkan apa-apa, selain letih dan lelah. Alih-alih mendapatkan pahala, amal ibadah kita justru mendatangkan dosa!

Satu di antara parasit atau perusak amal adalah sikap riya. Para ulama berpendapat bahwa riya adalah melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi ibadah tersebut dilakukan bukan karena Allah melainkan karena tujuan duniawi.

Imam Al-Qurthubi mengatakan bahwa hakikat riya adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah, sedangkan arti asalnya adalah mencari tempat di hati manusia.

Pada intinya, riya adalah beramal untuk tujuan pamer kepada orang lain. Seseorang shalat, tapi shalatnya tidak bertujuan untuk mendapatkan mardhatillah atau ridha Allah. Dia shalat agar dilihat manusia, dipuji, dan dinilai sebagai orang yang saleh. Dengan demikian, riya berbanding terbalik dengan ikhlas.

Riya termasuk penyakit yang sulit dideteksi oleh orang lain. Bahkan, orang yang melakukannya sekalipun, dia sering kali tidak menyadarinya. Itulah mengapa, riya diibaratkan sebagai semut kecil lagi hitam yang berjalan di tengah gelapnya malam; sangat tidak terlihat.

Walaupun kecil lagi tersamar, riya bisa berakibat fatal. Simaklah hadis Rasulullah saw. berikut, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya. Allah akan mengatakan kepada mereka pada Hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia: Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka ?” (HR Ahmad)

Hadis tersebut menjelaskan betapa tidak sukanya Allah Ta’ala kepada orang yang berbuat riya. Dia di akhirat kelak diperintahkan untuk mendatangi dan meminta pertolongan kepada orang-orang yang pernah diharapkan pujiannya.

Dalam AlQuran, Allah Ta’ala menggambarkan bagaimana hasil yang akan didapat manusia dari sebuah amal yang dilandasi riya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan ( pahala) sedekahmu dengan menyebutnyebut dan menyakiti, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Maka, perumpamaan orang itu, seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih ( tidak berdebu lagi ). Mereka tidak memperoleh apa pun dari apa yang mereka usahakan.” (QS Al-Baqarah, 2:1264)

Riya pun dapat mencemarkan kemurnian tauhid seorang hamba. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Azza wa )alla berfirman pula, aku (Allah) adalah sebaik-baik yang dipersekutukan. Siapa yang mempersekutukan-Ku dengan sesuatu, maka bagian-Ku dalam persekutuan ituAku serahkan kepada yang dipersekutukan dengan-Ku.’

Maka, dari sinilah riya dikatakan sebagai asy-syiHmlashghar (syirik kecil), karena pelakunya bermotivasi ganda dalam beribadah.

Pada kenyataannya, sebagaimana diungkapkan Sahl bin Abdullah At-Thustary, seorang sufi besar (200-283), riya terwujud dalam tiga tahap aktivitas.

Pertama, sebelum atau sejak awal aktivitasnya. Kedua, ketika sedang melakukan aktivitasnya. Ini berarti riya belum menyentuh jiwa pada awal beraktivitas, namun ketika sedang melakukannya, riya tersebut muncul. Ketiga, setelah selesai beraktivitas. Artinya, boleh jadi ada amal yang sejak awal sampai akhir dilakukan dengan ikhlas, tapi kemudian melenceng di pertengahan atau di akhir hanya karena ada orang yang mengetahuinya. Dia pun dipuji dan hatinya menjadi bahagia dan berbunga-bunga. Sikap ini bisa menimbulkan riya apabila pujian tersebut dijadikan tangga untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi.

Maka, saudaraku, perkuatlah terus keyakinan kepada Allah Ta’ala. Cukuplah Dia sebagai tujuan kita. Andai mengharap balasan, cukuplah balasan dari Allah. Jangan pernah mengharap balasan dari manusia. Sungguh, keinginan untuk dihargai, dipuji, dan dinilai oleh selain Allah adalah pintu bagi setan untuk menggelincirkan manusia.

Sungguh, setan bisa datang dan menggoda saat kita hendak beramal. Kalau lolos, dia akan mendatangi kita di pertengahan. Kalau masih lolos juga, dia akan berusaha menggelincirkan kita di akhir. Tiada yang bisa lolos dari jebakan ini kecuali orang orang lurus akidahnya lagi ikhlas hatinya Layaknya tanaman, amal ibadah pun dapat diserang hama. Riya (beramal untuk dilihat), Ujub (kagum diri)”, sum’ah (beramai agar popular ‘ atau didengar), mann (menyebut-nyebut pemberian) adalah hama pemakan amal saleh.

Kala amal dihinggapi hama hama tersebut, musnahlah dia. Maka, wajib bagi seorang Mukmin untuk mengimunisasi amalnya (dengan keikhlasan) agar di Hari Perjumpaan dia tidak kecewa, karena amalnya bagai haba’an mantsura (debu yang beterbangan) (Ustadz Rahmat Abdullah).

(Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT