. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Perhatikan Rekam Jejaknya ketika Memilih Pemimpin

Saudaraku, jika kita mendengar persoalan kepemimpinan disampaikan di masjid atau di pengajian, kita tidak perlu alergi mendengarnya. Apalagi menuduh ustaz atau pencermahnya itu menyebarkan paham Islam radikal. Jangan, itu terlalu berlebihan dan tidak mendasar.

Kepemimpinan adalah urusan yang sangat krusial dalam Islam. Kita paham bahwa salat merupakan tiang agama, dan salah satu hikmah besar yang bisa kita petik dari salat berjamaah adalah kepemimpinan. Kaum muslimin harus peduli dan ikut serta dalam urusan yang satu ini, karena siapa yang akan mengurus urusan kaum muslimin selain kaum muslimin itu sendiri.

Nah, terkait urusan memilih pemimpin, setelah yakin dengan akidah dan kapabilitasnya, hal berikutnya yang penting kita pertimbangkan adalah rekam jejaknya. Yaitu berupa berbagai pengalaman dia sebelumnya. Perhatikan beragam catatan baik dan buruknya di waktu-waktu ke belakang. Jika ada yang baik-baiknya, maka itu adalah nilai penguat yang perlu terus ditingkatkan. Sedangkan jika ada ditemukan catatan yang tidak baiknya, maka itu kesempatan untuk diperbaiki dan terus diawasi supaya tidak terulang.

Kita senantiasa mengharapkan punya pemimpin yang baik. Tapi kita tidak bisa memungkiri setiap orang pasti punya titik kekuatan dan kelemahan, punya sisi baik dan buruk, punya kelebihan dan kekurangan. Tidak mungkin kita memiliki pemimpin yang sepenuhnya sempurna. Namun, memilih pemimpin adalah ikhtiar memilih yang terbaik di antara yang baik, memilih yang paling ringan kekurangannya di antara orang-orang yang pasti punya kekurangan.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (HR. Ahmad)

Dengan memperhatikan rekam jejak seorang calon pemimpin, maka kita mendapatkan infomasi mengenai kebaikan apa saja yang pernah ia lakukan dalam pekerjaannya, dan kekhilafan apa saja yang pernah ia perbuat. Hal ini penting karena jika ia terpilih menjadi pemimpin, kita memiliki pengetahuan mengenai urusan apa yang ia punya potensi melakukan kesalahan.

Sebagai orang yang dipimpin atau yang memilih seseorang sebagai pemimpin, maka kita punya kewajiban mengingatkannya agar senantiasa ada di jalan Allah SWT. Inilah yang pernah disampaikan Abu Bakar ash-Shiddiq manakala beliau diangkat sebagai khalifah, “Sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pemimpin atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik. Maka jika aku berbuat kebaikan, bantulah aku. Jika aku bertindak keliru, luruskanlah aku.”

Seorang pemimpin mungkin punya kesalahan di masa lalu, tetapi jika ia membuktikan dirinya punya niat memperbaiki diri dan niat itu ia tunaikan dengan amal saleh, membela agama Allah dan istiqamah, maka inilah sikap terbaik.

Allah SWT berfirman, “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud [11]: 114)

Semoga Allah senantiasa memberian taufik dan hidayah kepada kita, membimbing kita agar senantiasa istiqamah di jalan-Nya, dan memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kita. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin. (KH. Abdullah Gymnastiar)

 

 

LEAVE A COMMENT