. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Pemilik Pribadi Mulia

Tiada manusia yang paling mulia selain Rasulullah saw. Dari sisi mana pun kita memandangnya, kemuliaan beliau terpancar jelas cahayanya. Kata-kata dan seluruh tindak tanduknya senantiasa menampakkan kemuliaan. Kita tidak akan menemukan sedikit pun cacat dari pribadi beliau. Maka, tiada yang layak untuk kita jadikan sebagai panutan, teladan, dan ikutan, selain Rasulullah Al-Musthafa. Dengan mengikutinya, kita akan mendapati limpahan rahmat dan kebaikan, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

Inilah pesan tersirat dari Al-Quran, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut ( nama) Alla h “(QS Al-Ahzab, 33: 21)

Dengan bimbingan wahyu yang terjamin kebenarannya, Rasulullah saw. memberikan contoh tentang bagaimana berakhlak mulia, baik dalam beribadah kepada Allah Ta’ala maupun dalam bergaul dengan sesama.

Ibadah Rasulullah saw. adalah ibadah terbaik. Sangat sulit bagi siapa pun untuk menandingi ketangguhan, kesabaran, dan baiknya kualitas ibadah Rasulullah saw.

Mari kita lihat salah satu ibadah harian beliau, yaitu shalat Tahajud, sebagaimana dijelaskan Dr. Nizar Abazhah dalam Pribadi Muhammad saw. Diriwayatkan, Rasulullah saw. amat senang berlama-lama dalam Tahajudnya. Saat ditanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosamu, baik yang dulu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bukankah aku harus menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Muslim)

Mughirah bin Syu’bah ra. berkata, “Rasulullah shalat sampai kedua kakinya bengkak.” Mengapa demikian? Sebab, beliau sangat banyak melakukan shalat dan waktunya sangat lama. Allah Ta’ala kemudian menurunkan wahyu yang memberi keringanan kepada Nabi saw. dan para sahabatnya, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (QS AlMuzzammil, 73:20)

Bagaimana semangatnya Nabi saw. dalam beribadah sebagiannya dituturkan oleh sahabat Hudzaifah ra. Menurutnya, sujud Rasulullah saw. sama dengan lamaberdirinya, duduknya di antara dua sujud juga sama lamany dengan berdirinya. Adapun waktu berdiri, beliau membaca surah Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan Al-Ma’idah. (HR Abu Dawud)

Di atas itu semua, dalam Tahajudnya, Rasulullah Saw. memasuki situasi yang khas; terisak dalam tangis dan penuh rasa takut. Berikut penuturan Abdullah Al-Syikhkhir”Pernah suatu ketika aku mendatangi Rasulullah saw. saat itu kudapati beliau tengah shalat. Aku mendengar suara didihan dari dalam (dada) beliau, seperti suara didihan air dalam periuk.” (HR At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Abu Dawud)

Jelasnya, apa yang didengar sahabat ini adalah suara tangis yang tertahan. Beliau merintih dan menangis karena takut kepada Allah Azza wa Jalla. Sungguh, tidak banyak sahabat yang mampu beribadah sehebat beliau.

Apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud ra. bisa menjadi ukuran, “Suatu malam aku shalat bersama Rasulullah. Beliau berdiri terus sampai aku ingin sekali melakukan sesuatu yang buruk.” Ibnu Mas’ud kemudian ditanya tentang apa yang ingin dilakukannya, dia pun menjawab, “Aku ingin duduk atau meninggalkan Rasulullah (membatalkan shalat).” (HR A.l-Bukhari dan Muslim)

Auf bin Malik ra. pun berkata, “Aku bersama Rasulullah pada suatu malam. Beliau bersiwak, wudhu, lalu berdiri untuk shalat. Aku juga berdiri. Pada rakaat pertama beliau membaca surah Al-Baqarah. Apabila sampai pada ayat tentang rahmat, beliau berhenti lalu memohon kepada Allah. Begitu pula, setiap kali sampai pada ayat tentang azab, beliau berhenti untuk memohon perlindungan kepada-Nya. Setelah itu, beliau rukuk, diam seukuran berdirinya sambil membaca. ‘Subhdna dziI-jabarat waI-malakfzt wal-“azhamah. Mahasuci Zat yang memiliki kekuasaan, kerajaan, dan kebesaran.” Beliau lalu bersujud dan (kembali) membaca (doa) itu. Selanjutnya, beliau membaca surah ‘Ali ‘Imran, lalu surah berikutnya dan berikutnya.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Pada malam yang lain, beliau membaca ayat tertentu dan mengulang-ulangnya. Aisyah ra. pernah mengatakan bahwa Nabi saw. pernah Tahajud dengan mengulang-ulang ayat ke-u8 dari surah Al-Ma’idah.

Begitulah nabi kita yang mulia, beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam. Apabila sedang sakit dan sangat lelah, beliau akan menunaikannya sambil duduk. (HR Abu Dawud dan Al-Baihaqi)

Ini baru shalat. Ibadah lainnya pun tidak jauh beda, semisal zikir dan doanya, shaum dan sedekahnya, atau kesungguhan dalam membela agama Allah. Semuanya menunjukkan kualitas terbaik.

Lihatlah bagaimana mudahnya Rasulullah saw. menafkahkan hartanya di jalan Allah. Tidaklah seseorang yang tengah kesusahan mendatangi beliau untuk meminta bantuan, kecuali beliau akan membantunya. Bahkan, kalau tidak memiliki harta atau barang yang bisa diberikan, beliau rela berutang agar bisa membahagiakan orang tersebut.

Sahl bin Sa’ad bertutur, Suatu hari datang seorang perempuan menghadiahkan kepada Nabi saw. sepotong syamlah yang ujungnya ditenun. (Syamlah adalah baju lapang yang menutupi seluruh badan). Perempuan itu berkata, ”Ya Rasulullah, akuIah yang menenun syamlah ini dan aku hendak menghadiahkan kepada Engkau.

Rasulullah saw. pun sangat menyukai hadiah tersebut. Tanpa banyak bicara, beliau langsung mengambil dan memakainya dengan sangat gembira dan berterima kasihh kepada wanita itu Rasulullah saw betul betul sangat membutuhkan dan menyukainya.

Tidak lama setelah wanita itu pergi, tiba-tiba datang seorang laki laki meminta syamlh tersebut Rasulullah pun memberikannya. Para sahabat yang lain lalu mengecam laki laki tersebut Mereka berkata, ”Hai Fulan  Rasulullah saw.  sangat menyukai syamlah tersebut, mengapa engkau memintanya? Engkau, kan, tahu Rasulullah tidak pernah tidak memberi kalau diminta?

laki laki itu menjawab, ”Aku memintanya bukan untuk dipakai sebagai baju, melainkan untuk kain kafanku nanti kalau aku meninggal”

Tidak lama kemudian, lakilaki itu meninggal dan syamlah tersebut menjadi kain kafannya (HR AIBukhari)

Abu Dzar AI-Ghiffari bertutur pula tentang pengalamannya saat bersama-sama dengan Rasulullah saw.

Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw. di sebuah tanah lapang di Madinah, sehingga di hadapan kami terlihat Jabal Uhud.

Beliau menyapaku, “Wahai Abu Dzar!”

”Labbaik, ya, Rasulullah,” jawabku.

Beliau pun bersabda, ”Tidak akan pernah membuat senang memiliki emas seperti Jabal Uhud ini, jika sampai melewati tiga hari dan aku masih memiliki satu dinar, kecuali yang aku gunakan untuk melunasi utang. Jika aku memilikinya, pasti akan aku bagi-bagikan semuanya tanpa sisa dan aku katakan kepada hamba-hamba Allah begini, begini, begini (beliau mengisyaratkan arah kanan, kiri, dan belakangnya” (HR AI-Bukhari dan Muslim) Pada waktu yang lain, bunda Aisyah ra.

Berkisah suatu hari, ketika sakit, rasulullah saw. menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah Setelah menyuruhku bersedekah beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah saw, bertanya kembali, Uang itu sudah engkau sedekahkan?”

“Belum, karena aku kemarin sangat sbuk,” Jawabku

Rasulullah bersabda, ”Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!”

Begitu uang sudah di hadapannya, beliau lalu bersabda ”Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba tiba meningggal, Sementara aku mempunyai uang yang belum kusedekahkan? Uang ini tidak akan sekarang, sementara dia mempunyai uang yang belum diSedekahkan.” (_HR Ahmad)

Ummu Salamah pun punya cerita.

Suatu hari Rasulullah saw. masuk ke rumahku : dengan muka pucat. Aku khawatir beliau sedang sakit. ”Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begini? tanyaku.

Rasulullah menjawab, ”Aku pucat begini bukan karena sakit, melainkan karena aku ingat uang tujuh dinar yang kita dapat kemarin sampai sore ini masih berada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya.” (HR AI Haitsami)

Selain sempurna dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, Rasulullah saw. juga mulia dalarn berperilaku. Sikap beliau dalam menghadapi orang-orang di sekitarnya, baik kawanmaupun lawan, teramat mengesankan. Beliau mampu menunjukkan sikap terbaik dalam situasi ketika kemarahan seakan lebuh “wajar” daripada memaafkan.

Dalam sebuah perjalanan ‘tiba-tiba Nabi saw dihadang oleh seorang Afab dari suku pedalaman Dia mendatanggi Nabi saw. lalu menarik tali kekang atau tali unta yang dia kendarai. Orang kemudian bertanya, ”Wahai Muhammad beri tahu aku tentang apa saja yang bisa mendekatkan aku ke Surga dan apa yang dapat menjauhkan aku dari neraka?”

Mendengar pertanyaan ini, Nabi Saw menghentikan laju untanya Beliau kemudian menatap para sahabat yang menyertainya, “Sungguh dia telah diberi taufik ‘atau telah menerima hidayah”

orang Arab pedalaman heran dengan kata kata yang diucapkan Nabi saw. sehingga dia bertanya ”Mengapa engkau bertanya demikian?” mengulangnya sampai dua kali

Nabi saw pun menjawab ”Engkau menyembah ‘allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, melaksanakan shalat, menunaikan Zakat, dan menyambungkan tali silaturahim. Lepaskanlah tali kekang unta ini.”

Orang ini kemudian melepaskan tali kekang unta nabi saw dengan hati’ puas. Bagaimana tidak dia telah mendapatkan pengajaran tentang Islam dari sumbernya langsung, Yaitu Rasulullah saw (HR Muslim)

Pada waktu yang lain, Abu Hurairah ra. berkisah tentang satu peristiwa terkait Rasulullah saw. yang dia lihat secara langsung.

Suatu hari kami duduk bersama Rasulullah saw. di masjid. Apabila beliau berdiri, kami pun berdiri. Suatu hari, beliau berdiri, lalu kami pun berdiri. Ketika beliau sampai ke pertengahan masjid, tiba-tiba seorang Iaki laki menarik mantel Rasulullah dengan keras, padahal mantelnya itu terbuat dari bahan yang kasar. Saking kerasnya, leher Rasulullah pun tampak memerah.

Laki-Iaki itu berkata, ”Wahai Muhammad, isikan kedua untaku dengan apa saja, karena engkau tidak pernah membawa harta, baik dengan hartamu sendiri maupun dari harta bapakmu.”

Rasulullah saw. menjawab, “Tidak, dan aku memohon ampun kepada Allah. Aku tidak akan memenuhi kedua untamu sehingga engkau terlebih dahulu melepaskan tarikanmu dari leherku.”

Laki-Iaki dusun itu berkata kembali, ”Tidak, demi Allah, aku tidak akan melepaskannya sebelum engkau memenuhi permintaanku.”

Rasulullah saw. lalu mengulang perkataannya tadi tiga kali. Namun, Iakilaki itutetaptidak mau melepaskan tarikannya.

Begitu mendengar jawaban Iaki-Iaki dusun tadi, kami para-sahabat segera bermaksud menghampiri Iaki-Iaki tersebut. Namun, beliau segera berpaling kepada kami dan berkata, “Tolong semuanya, jangan mengubah posisi dan tempat laki-Iaki tersebut sampai aku memberikan izin. ”

Rasulullah saw. lalu berkata kepada salah seorang lakilaki saat itu, “Wahai Fulan, penuhi unta Iakilaki tadi dengan gandum dan untanya yang satu lagi dengan kurma.”

Setelah dipenuhi, Rasulullah saw. bersabda, “Ayo, bubarlah kalian. ” (HR Abu Dawud)

Saudaraku, tidak akan cukup lembaran buku ini untuk met inci kemuliaan akhlak beliau. Maka, untuk saat ini, cukuplah kita menyimak penjelasan Ali bin Abi Thalib ra.

tentang bagaimana keindahan akhlak nabi kita yang mulia.

Beliau selalu bersikap layaknya manusia. Akhlaknya mudah dicontoh, ramah, tidak kasar, tidak kaku dan keras, tidak SUka menyindir, tidak berkata kotor tidak suka mencela, tidak suka main-main, serta cepat melupakan apa yang tidak disukainya. Siapa Saja yang mengharapkannya, tidak pernah putus harapan kepadanya. Beliau tidak suka mengecewakan.

Beliau meninggalkan kepada manusia tiga hal, yaitu beliau tidak pernah mencela seseorang dan tidak pernah menghinanya, tidak pernah membuka rahasia seseorang, tidak berbicara kecuali pada hal-hal yang diharapkan mendatangkan pahala. Jika beliau berbicara, para pendengarnya hening dan tenang, seolah-olah di kepala mereka ada burungnya. Jika beliau berbicara, mereka diam. Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah bersilat lidah di sisi beliau. Beliau tertawa pada hal yang membuat mereka tertawa dan heran pada hal yang membuat mereka heran.

Beliau sabar terhadap orang asing atas kekasaran pembicaraan dan permintaan-permintaannya, meski para sahabatnya menjawab dengan kasar pula. Beliau bersabda, “Apabila kalian melihat orang yang memerlukan bantuan, maka bantulah. [angan menerima pujian kecuali dari hal yang pantas. Jangan memotong pembicaraan seseorang sampai dia mengizinkan, atau memotongnya karena telah selesai berdirinya.” (HR AthThabrani)

Saudaraku, kini kita telah mengetahui betapa sempurnanya pribadi Rasulullah saw., betapa mulianya akhlak beliau, dan betapa melimpahnya cinta kasih beliau kepada sesama. Kita tahu bagaimana kasih sayang beliau yang tidak pilih kasih, termasuk kepada orang yang selalu mencaci makinya. Kebencian dia balas dengan kasih, hinaan dia balas dengan cinta.

Ya Allah, sampaikan shalawat dan salam kepada junjungan kami, Rasulullah saw.

Lembutkanlah hati kami seperti lembutnya hati kekasih-Mu. Amin.

“sesungguhnya allah dan para malaikatnya bershalawat kepada nabi. wahai orang orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepada nabi dan ucapkan salam kepadanya.” (QS Al Ahzab, 33:56). (Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT