. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Obat Terbaik saat Ditimpa Musibah

Hidup adalah perpindahan dari satu kondisi ke kondis lainnya. Dia terus berubah. Ada siang-malam, terang-gelap kaya-miskin, sulit-mudah, susah-senang, suka-duka, sedih! bahagia, sehat-sakit, harapan-ketakutan, tertawa-menangis dan sebagainya. Mereka datang dan pergi silih berganti.

Di sinilah kita harus paham bahwa ada qudrat (kuasa) dan iradat (kehendak) Allah Ta’ala. Satu waktu kita berada dalam kemudahan dan pada waktu yang lain kita berada dalam kesulitan. Selama hidup di dunia, kita tidak akan pernah lepas dari dua kondisi tersebut. Bahkan, kesulitannya boleh jadi lebih banyak daripada kemudahannya.

Saudaraku, yang harus kita siapkan dan kita perkuat dalam diri adalah syukur dan sabar. Saat mendapatkan kemudahan dan segala yang mengenakkan, syukurlah solusinya. Saat ditimpa aneka kesulitan, musibah, atau ujian, sabarlah solusi utamanya.

Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskan, “Ada empat keadaan yang ada pada seorang hamba, yaitu kenikmatan, kesengsaraan, ketaatan, dan kemaksiatan. Pada setiap keadaan terdapat kewajiban yang harus ditunaikan untuk Allah Azza wa Jalla. (1) Saat dalam kenikmatan adalah dengan bersyukur kepada-Nya (QS Saba’, 34:15); (2) saat dalam kesengsaraan adalah dengan rela dan sabar terhadap ujian lagi tetap berdiri di hadapan-Nya (QS Al-Baqarah, 2:155-6); (3) saat dalam ketaatan adalah dengan memohon hidayah dan taufik agar bisa istiqamah di jalan-Nya (QS Ali ‘Imran, 3:8); dan (4) saat dalam kemaksiatan adalah dengan segera bertobat dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya (QS AzZumar, 39:53).”

Oleh karena itu, apabila kenyataan pahit datang menimpa, langkah pertama dan utama adalah bersabar. Sungguh, kesabaran adalah kunci hadirnya solusi dan kebahagiaan. Allah Ta’ala menjanjikan, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah, 2:155)

Namun demikian, manusia tidak mungkin bisa bersabar, tidak berkeluh kesah atau berputus asa, kecuali orang-orang saleh. Siapakah mereka? Menurut Al-Quran, mereka adalah (1) orang-orang yang mengerjakan shalat; (2) yang tetap mengerjakan shalatnya; (3) menginfakkan sebagian hartanya kepada orang-orang miskin; (4) yang memercayai adanya Hari Pembalasan; (5) yang takut terhadap azab Allah Ta’ala; (6) yang memelihara kemaluannya; (7) yang memberikan kesaksiannya; dan (8) yang memelihara shalatnya.

Hal ini sebagaimana terungkap dalam Al-Quran, “Sesungguhnya manusa diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah, dan apabila dia mendapat kebaikan. dia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. yang mereka itu tetap mengerjakan shalatya, dan orang orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa apa (yang tidak mau meminta) dan arang-orang yang memercayai Hari Pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya, karena sesugguhnya azab Tithan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orangorang yang memeliara shalatnya. Mereka itu kekal di surga lagi dimuliakan.” (QS Al-Ma’arij, 70:19-35)

Jika demikian adanya, alangkah beruntungnya orangorang yang tidak takut atau cemas menghadapi hari esok yang akan dihadapinya. Alangkah manisnya imbalan bagi mereka yang ridha akan takdir dari Allah, mereka yang tidak berkeluh kesah saat penderitaan menderanya. Tahukah engkau, mengapa demikian? Karena mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang yang tunduk dan patuh kepada Allah Ta ‘ala, yang telah dijanjikan surga yang mereka kekal di dalamnya.

Saudaraku, tentu saja kita boleh bersedih dan menangis saat cobaan datang menghampiri. Namun, janganlah berlama-lama dan terlena dalam kesedihan itu. Serahkanlah semuanya kepada Allah Azza wa Jalla. Ucapkanlah kalimat istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji ‘un. Sesungguhnya kami milik Allah Ta ‘ala, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali.”

Ingatlah kita akan firman Allah Ta’ala dalarn kitab-Nya yang mulia, “janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi ( derajatnya), jika kamu orang-orang beriman.” (QS Ali ‘Imran, 3:139)

Atau, dalam ayat lain, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalatsebgaipenolongmu. Sesungguhnya Allah Ta’ala beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah, 2:153)

Dari sini kita layak mengazamkan untuk berusaha ikhlas dan ridha menerima semua yang telah diputuskan Allah Ta’ala. Tidak ada pilihan lain, selain ridha atas kehendakNya. Bukankah siapa yang ridha atas ketentuan Allah, niscaya Allah pun akan ridha kepadanya?

Pada praktiknya, ada satu rumus “sederhana” dalam menyikapi apa yang terjadi, yaitu rumus HHN : Hadapi Hayati Nikmati. Dengan mempraktikkan ketiganya kita bisa mendapatkan janji Allah Ta’ala bahwa, “Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah, 94:6).

“Apa pun yang datang dari Allah Ta’ala senantiasa indah, walau manusia sering kali tidak mampu melihatnya kala musibah dan kesulitan datang menerpa. Renungkanlah keindahan dalam kisahnya Nabi Musa dengan Khidir (QS AI-Kahh, 18:65-82). Bagaimana perahu yandibocorkan, anak kecil yang dibunuh, dan dibangunnya kembali rumah yang hampir roboh. Semua tampak buruk dalam pandangan Nabi Musa. Namun, saksikanlah betapa keindahan itu terbentuk sedemikian rupa dari ketetapan Allah Ta’ala, yaitu setelah diketahui hakikat dan hikmah yang terkandung di dalamnya.” (Ibnul Qayyim Al-Iauziyah)

(Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT