. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Merenungi Tabiat Buruk Manusia

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan dia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij, 70 : 19-21)

Katanya sih, di antara cara mudah untuk menjadi bodoh adalah jangan pernah bersyukur, jangan pernah pula senang melihat orang lain bernasib mujur! Hmmm, bagaimana bisa?

Alkisah dalam sebuah penelitian terkait neuroekonomi atau ilmu otak yang melandasi munculnya motif-motif ekonomi seseorang atau sebuah komunitas, dilakukan sebuah percobaan yang sangat unik. Peneliti menawarkan sejumlah uang pada orang percobaan, missal satu juta rupiah, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Syarat dan ketentuan ini bersifat mengikat dan harus terpenuhi jika orang percobaan ingin memiliki uang yang ditawarkan peneliti.

Syaratnya adalah orang percobaan yang dipilih secara acak itu harus mencari seorang lainnya juga secara acak, untuk ditawari sejumlah uang dari uang satu juta rupiah itu. Jika orang kedua menerima penawaran yang diajukan, mereka berdua akan mendapatkan uang yang ditawarkan. Namun, jika orang kedua menolak besaran penawaran dari orang pertama, mereka berdua tidak akan mendapatkan apa-apa alias akan gigit jari saja! Adapun ketentuan yang berlaku adalah orang yang wajib memberitahukan kepada orang kedua syarat yang berlaku, yaitu mereka baru bisa menerima uang yang dijanjikan apabila terjadi “deal” atau kesepakatan soal persentase pembagian.

Di sinilah terlihat kerakusan dan keserakahan manusia, meski mereka yang berkesempatan menjadi orang pertama sebenarnya mendapat rezeki nomplok tanpa banyak usaha dan sekedar diminta berbagi kebahagiaan saja, rerata mereka menawarkan pada orang kedua persentase bagi rezeki hanya sekitar 20%. Penawaran yang diajukan berkisar sekitar dua ratus ribu rupiah. Meski secara logika, rasional, dan akal sehat meraka menyadari sepenuhnya bahwa besaran penawaran meraka sesungguhnya beresiko tinggi. Terlebih dengan keterbukaan informasi yang memungkinkan orang kedua untuk mengetahui posisi tawarnya dalam proses bargaining ini. Dan, sebagaimana bisa kita duga, rerata orang kedua yang mendapatkan penawaran 20% dari rezeki nomplok itu menolak!

Bayangkan betapa bodohnya manusia! Rezeki gratis saja ditolak karena terkalahkan oleh rasa iri dan merasa tidak adil; rasa ketidakadilan yang bersumber dari sesuatu yang sebetulnya maya dan sebelumnya bahkan sama sekali bukan milik kita!

Orang pertama sulit sekali berbagi pada saat dia merasa sebagai sumber rezeki bagi orang kedua. Sedangkan orang kedua sulit sekali berempati pada saat dia memegang posisi kunci yang amat menentukan takdir rezeki. Kalau melihat fenomena seperti ini memang benar idiom kuno yang menyebutkan bahwa power tends to corrupt. Adanya kekuasaan dan otoritas seseorang terhadap nasib orang lain yang membuatnya sewenang-wenang memanfaatkan kekuasaan itu untuk memenuhi kebutuhan ataupun kepentingannya sendiri.

Saya jadi teringat pesan senior saya di ikatan orangtua Mahasiswa ITB, Ustadz Muttaqin. Beliau mengatakan bahwa disebuah komunitas social beliau belajar berterimakasih kepada orang-orang dhuafa atau mereka yang termajinalkan karena mereka bersedia dibantu dan menerima bantuan. Jika mereka tidak mau dan menolak tawaran, bagaimana kita bisa beramal?

Fenomena ini ini menggambarkan orang senang melihat orang lain susah dan sebalinya kini mulai terkuak misterinya. Rupanya ada unsur pengasuhan dan kondisi lingkungan yang terlibat disana.

Peneliti neuromolekuler menunjukkan anak kera ditinggal mati induknya serta tidak mendapat belaian kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi destruktif. Padahal konsep ini lebih satu level lebih tinggi disbanding agresif. Jika agresivitas memiliki motif adanya unsur pemenuh kebutuhan, missal lapar, ingin makan, da tindakan merebut makanan.

Dikatakan sudah kenyang tapi masih merebut makanan kera lain bukannya di makan tetapi dibuang! Curahan kasih saying dan lingkungan turut menentukan gen-gen yang terkait dengan pembentukan reseptor hormone menentukan mood serta perilaku primate.

Maka tidak heran terjadi juga di manusia. Belakangan semakin banyak tindak kekerasan tanpa alas an? Tawuran dimana mana korupsi merajalela. Lho apa hubungannya? Bukankah orang korupsi mendekstruksi banyak kepentingan orang lain dan dilakukan denga penuh kesadaran.

Kitapun bertanya-tanya para koruptor itu disusui emaknya? Selain untuk upaya mendapatkan gizi, juga sebagai proses komunikasi pesan yang menyuburkan kelembutan jiwa serta ketulusan hati! (Dr. Tauhid Nur Azhar, M. Kes)

LEAVE A COMMENT