. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Merdeka, Menuhankan Allah Semata

Saudaraku, makna kemerdekaan adalah merdeka dari kemusyrikan, merdeka dari dijajah cinta dunia, diperbudak hawa nafsu, penilaian makhluk, dan kemunafikan. Orang yang merdeka adalah orang yang bertauhid hanya menuhankan Allah semata. Patuh dan pasrah kepada-Nya.

Allah Azza wa Jalla mengabadikan nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya di dalam al-Quran, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia member pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman [31] : 13).

Mari kita hijrah dari menuhankan harta kekayaan kepada hanya menuhankan Allah SWT semata. Allah Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi Rezeki. Hijrah dari sikap menuhankan jabatan dan kedudukan kepada hanya menuhankan Allah SWT. Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tidak sedikit manusia yang berpikir bahwa gelar akan bisa menyelamatkannya. Gelar akan memberikan rezeki kepadanya. Gelar akan memberikan kedudukan untuknya. Gelar pula yang akan memberikan kebahagiaan kepadanya. Jika gelar sudah dipertuhankan oleh seseorang, dijamin hidupnya tidak akan tentram. Dia tidak akan memperoleh kesuksesan yang hakiki.

Gelar memang boleh disandang. Gelar juga baik untuk dimiliki. Namun, apabila gelar sudah dipandang sebagai sumber kemuliaan, sumber kesuksesan, sumber kebahagiaan, sumber kesejahtreraan, ini adalah sikap yang keliru.

Bagi seorang muslim, sesungguhnya tidak ada kemuliaan kecuali bersumber dari Allah. Seorang muslim harus meyakini bahwa dunia hanyalah fasilitas untuk beribadah kepada Allah. Manusialah sang majikan, sedangkan kekayaan duniawi adalah sarana dan pelayanannya. Jangan sampai jadi terbalik, majikan diperbudak oleh pelayannya.

Berwakaf, Solusi Hindari Cinta Dunia

Saudaraku, betapa indah hidup yang diisi dengan kesenangan berbuat kebaikan, tanpa direpotkan dengan keinginan untuk dilihat atau diketahui oleh orang lain. Mau dilihat atau tidak oleh orang lain, mau diketahui atau tidak oleh orang lain, itu perkara yang sangat kecil bagi kita. Perkara yang besar bagi kita adalah Allah rida pada amal kita.

Berwakaf adalah salah satu dari sekian banyak amal baik yang dapat kita maksimalkan. dengan niat ikhlas lillaahi ta’ala niscaya jadi tabungan untuk kita. Karena tidak ada satupun perbuatan yang kita lakukan kecuali pasti akan kembali kepada kita sebagai pelakunya. Kita tidak pernah tahu besok lusa ada takdir apa untuk kita. Kita tidak tahu akan ada kesulitan seperti apa yang akan menimpa kita. Tapi jikalau kita senang melakukan kebaikan, itulah yang akan kembali kepada kita.

Allah Swt. berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..” (QS. Al Isro [17] : 7)

Allah SWT juga berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan, apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Alloh mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imron [3] : 92)

Dalam sebuah hadits qudsi Alloh Swt. berfirman, “Wahai anak Adam, bersedekahlah, niscaya Aku memberi rezeki kepadamu.” (HR. Abu Daud).

Saudaraku, berwakaf dapat menjadi jalan kita dicintai oleh Allah SWT, dan dihindarkan dari cinta dunia. Sebagian orang mungkin mengira bahwa jika ia kikir atau pelit, maka ia akan cepat kaya raya, hartanya akan bertambah dengan cepat jumlahnya. Padahal, sifat kikir justru merupakan penjara bagi dirinya. Tanpa disadari sifat kikir akan menghalangi dirinya dengan rezeki yang jauh lebih nikmat dan berkah.

Akan tetapi, jangan pula kita mengeluarkan wakaf dengan niat pamrih ingin mendapatkan balasan harta yang lebih banyak. Berwakaflah dengan niat ikhlas hanya mengharap rida Allah semata, demi agar Allah cinta kepada kita. Karena, sesungguhnya keridaan Allah akan mendatangkan berbagai karunia kepada kita dan dari berbagai jalan yang tidak kita duga sebelumnya.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah kepada kita sehingga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang ringan dalam berwakaf dengan ikhlas. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. [KH. Abdullah Gymnastiar]

 

 

LEAVE A COMMENT