. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Menjaga Pandangan

Mata adalah satu indra yang teramat berarti bagi manusia Dialah jendela yang membuat kita bisa mengindra dunia. Dengan mata, kita bisa melihat beraneka ragam warna dan keindahan yang ada di alam semesta. Dengan mata kita juga bisa membaca dan mengkaji Al-Quran, wahyu teragung yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Rasulullah saw. Dengan mata, kita bisa mengenali rupa orangtua, pasangan, anak, teman, atau orang-orang di sekitar kita.

Lalu, bagaimana apabila Allah Ta’ala mengambil penglihatan kita dengan tiba-tiba?

Tanpa hadirnya indra yang amat berharga ini, yang ada hanya hitam kelam yang terlukis dalam penglihatan. Seorang hamba Allah menceritakan pengalamannya berikut ini.

Suatu hari, seorang Iaki-laki mengendarai sepeda motor. Di depannya ada sebuah truk yang mengangkut beberapa batang bambu. Tidak disangka, tiba-tiba secara mendadak truk itu mengerem. Dan, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, kedua mata laki-laki itu tertusuk bambu dari truk tersebut. Dia pun. mengalami luka yang sangat serius. Saat dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan kalau lelaki ini akan mengalami cacat mata permanen. Artinya, matanya tidak akan bisa melihat lagi.

Selama berbulan-bulan laki-Iaki itu tenggelam dalam kekecewaan yang teramat sangat. Dia Tidak menerima takdir dan dia marah kepada Allah Swt. Dia juga minder jika bertemu orang lain.

Namun, seiring berlalunya waktu, Allah Ta’ala membuka dan melapangkan hatinya. Dia pun kini menerima takdir-Nya. Bahkan, ketika dia ditanya oleh keluarganya, “Apakah kamu kecewa?”

laki laki itu menjawab ”Awalnya seperti itu. Akan tetapi kini saya.. bersyukur kepada Zat Yang Mahakuasa.. Ketika mata saya masih normal, saya banyak menggunakannya untuk bermaksiat Padahal maksiat itulah yang akan menjerumuskan saya ke dalam neraka. Saya sekarang bersyukur karena kedua mata saya telah diambil oleh Allah Swt. Saya kembalikan kedua mata saya kepadaNya ini artinya dosa saya berkurang.“

Kisah tersbut membawa ibrah (pelajaran) bahwa nilai mata bisa bercabang dua. Apabila digunakan untuk beramal saleh, mata akan membawa kita ke surga. Namun, apabila mata digunakan untuk bermaksiat, dia akan membawa pemiliknya ke neraka.

Terkait yang pertama, ada satu jaminan dari Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkankan oleh Abu Umamah ra., “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Berilah jaminan kepadaku enam perkara, niscaya akujamin bagi kalian surga. jika salah seorang kalian berkata janganlah berdusta; dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.” (HR Ath-Thabrani, No. 8018)

Surga yang Allah janjikan bagi orang yang menjaga pandangannya tidak hanya di akhirat, di dunia pun dia akan mendapatkan “surga” berupa manisnya keimanan, bersihnya hati, dan dekatnya pertolonganAllahAzzawaJalla. Imam IbnulQayyim Al-Jauziyah dalam Raudhatul-Muhibbin, merangkum tidak kurang dari 40 manfaat menjaga pandangan. Beberapa di antaranya dapat kita sebutkan di sini.

  • Menjaga pandangan dari yang diharamkan akan menyelamatkan hati dari pedihnya penyesalan. Bagaimana tidak, seseorang yang mengumbar pandangannya, dia

akan mengalami penyesalan dan penderitaan yang berkepanjangan. Sesungguhnya pandangan mata ibarat bunga api yang menimbulkan besarnya nyala api. Maka, satu maksiat besar sering kali berawal dari satu lirikan mata.

  • Menjaga pandangan akan menyalakan cahaya dan kemuliaan di hati. Dia kemudian akan tampak di mata, di Wajah, serta di seluruh anggota tubuh lainnya.
  • Menjaga pandangan akan mendatangkan firasat (yang baik) bagi orang yang istiqamah melakukannya. Sesungguhnya firasat berasal dari cahaya sekaligus buah dari cahaya tersebut. Maka, apabila hati telah bercahaya, darinya akan lahir Hrasat yang benar. Hati yang demikian ibarat kaca yang telah dibersihkan dari aneka noda.
  • Menjaga pandangan akan membukakan baginya pintupintu kebaikan dan jalan-jalan ilmu. Maka, orang yang ‘ menjaga pandangan akan lebih mudah mempelajari dan memahami ilmu.
  • Menjaga pandangan akan melahirkan kekuatan, keteguhan, dan keberanian dalam hati.
  • Menjaga pandangan akan melahirkan kegembiraan, kesenangan, dan kelapangan dada. Semua ini lebih nikmat dibandingkan kelezatan dan kesenangan yang didapat oleh orang-orang yang mengumbar pandangan.
  • Menjaga pandangan akan membuat hati terselamatkan dari tawanan syahwat.
  • Menjaga pandangan akan menutup pintu di antara pintu-pintu Jahanam. Bukankah pandangan termasuk pintu syahwat yang akan mengantarkan seseorang untuk mengambil tindakan yang lebih diharamkan lagi? Menundukkan pandangan sejatinya akan menutup pintunintu ini
  • Menjaga pandangan akan menguatkan akal dan daya pikir, lalu menambah dan menegarkannya. Adapun mengumbar pandangan merupakan akibat dari sempitnya daya pikir. Pelakunya tidak memperhitungkan beragam akibat buruk yang ditimbulkannya.
  • Menjaga pandangan akan menyelamatkan hati dari jeratan syahwat sekaligus menolak hantaman kelalaian, dan lainnya.

Maka, siapa pun yang merindukan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat, wajib baginya untuk menjaga pandangan dari apa yang Allah haramkan. Salah satunya terungkap dalam ayat Al-Quran berikut ini.

“Katakanlah kepada orang Iaki-Iaki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang ( biasa ) tampak dari padanya …” (QS An-Nur, 24:30-31)

Apabila mata dibiarkan tidak terjaga (jelalatan), dia akan sangat cepat membawa kemudaratan. Setiap memandang yang diharamkan, akan muncul noktah hitam di hati. Semakin tidak terjaga, semakin hitam pula hati kita dibuatnya. Jika sudah demikian, cahaya hidayah akan sulit masuk. Ibadah menjadi kering. Membaca Al-Quran semakin tidak menarik. Tahajud menjadi teramat sulit. Kata-kata menjadi tidak terjaga. Kita pun lambat laun akan terseret arus kemaksiatan yang menghancurkan.

Maka, Rasulullah saw. menyebut dosa dalam hal pandangan ini dengan sebutan “zina mata”. Beliau bersabda. “Dua mata berzina. Adapun zina keduanya adalah pandangan.” (HR AlBukhari dan Muslim)

Penamaan zina pada pandangan mata yang tidak terjaga menjadi dalil yang sangat jelas akan haramnya memandang sesuatu yang diharamkan sekaligus menjadi peringatan keras bagi kita akan bahaya yang ditimbulkannya.

Di antara hal yang membuat rusaknya kualitas keimanan adalah tidak pandainya kita menahan pandangan. Siapa pun yang ketika hidup di dunia tidak mahir menahan pandangan, gemar melihat hal hal yang diharamkan Allah, jangan terlalu berharap dapat memiliki kebersihan jiwa.

Umar bin Khathab ra. pernah berkata, lebih baik “aku berjalan di belakang singa daripada berjalan di belakang wanita.”

Orang-orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal-hal yang tidak hak. hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat iman pun akan semakin hilang manisnya. (Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT