. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Mengendalikan Amarah

Suatu saat, seorang Yahudi menghampiri Rasulullah saw Beliau memang memiliki urusan utang-piutang dengan Yahudi tersebut. Dengan kasar si Yahudi menarik selendang Rasulullah saw. sehingga leher beliau memar.

“Hai Muhammad, bayar utangmu! Memang kalian ini, Bani Hasyim, suka mengulur-ulur utang!” cerca Yahudi ini. Dia seakan ingin puas menghina dan memaki-maki Rasulullah saw. Padahal, waktu itu, utang beliau belum jatuh tempo.

Melihat tindakan Yahudi yang kasar ini, Umar bm Khathab langsung bangkit dan berkata, “Ya Rasulullah. izinkan aku memenggal leher orang ini !’

Namun, apa yang dikatakan Rasulullah?

Beliau berkata, ‘Wahai Umar, bukan itu yang aku dan dua perlukan darimu. Perintahkanlah dia untuk belajar menagih utang dengan baik dan mintalah aku untuk membayar utang dengan baik. Ketahuilah, utang ini belum jatuh tempo, masih ada tiga hari lagi. Berdirilah engkau, wahai Umar. Bayar hak dia dan lebihkan 20 dinar dari jumlah piutangnya sebagai pengganti atas ancamanmu kepadanya.”

Umar bin Khathab segera membayarkan hak orang tersebut berikut tambahannya sebanyak 20 dinar. Yahudi itu kemudian berkata. “Sebenarnya aku melakukan hal itukarena aku pernah membaca perihal sifat seorang utusan Allah dalam Taurat. Aku menemukan seluruh sifat tersebut ada pada Muhammad, kecuali dua sifat yang belum aku lihat dengan mataku sendiri, yaitu sifat bijak dan semakin arif apabila menerima perlakuan kasar dari orang lain. Dan, han mi aku telah bisa membuktikan keduanya ada pada dirinya. Maka, aku menyatakan diri masuk Islam. Adapun uang ini (pembayaran piutang tadi) akan aku sedekath kepada orang-orang Muslim.”

Setelah berkata demikian, orang Yahudi ini datang menemui Rasulullah saw. dan berkata, “Rentangkan tanganmu, Muhammad. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah.”

Saudaraku, apa yang hadir di benak kita kala membaca lusah yang diriwayatkan Imam Al-Hakim dalam kitab hadisnya ini? Ada banyak kecamuk dalam pikiran. Namun, ada satu yang akan hadir dalam diri kita, yaitu semakin bertambahnya kekaguman kita kepada Rasulullah saw. Bagaimana tidak, sudah habis-habisan beliau direndahkan. dihinakan, dan dipermalukan di depan para sahabatnya. beliau tetap tenang, tidak marah, bahkan berlaku ihsan terhadap orang Yahudi tersebut.

Apa jadinya kalau waktu itu beliau marah, atau mengizinkan Umar “memberi pelajaran” kepada si Yahudi?

Pertama, akan gugur sifat kenabian beliau. Ini sangat berbahaya. Puluhan tahun beliau berdakwah menyebarkan Islam bisa hancur hanya oleh satu kemarahan.

Kedua beliau dianggap berlaku zalim kepada orang yang leh ini belum tahu tentang kebenaran lslam.

Ketiga, orang Yahudi ini tidak akan masuk Islam sesungguhnya, penghinaan dia kepada Nabi saw. bertujuan untuk menguji kebenaran beliau sebagai utusan Allah.

Di sini, ada kata kunci yang layak kita pegang teguh, yaitu menahan dan mengendalikan amarah. Marah yang terkendali dipastikan akan membawa kebaikan. Adapun marah yang tidak terkendali dipastikan akan membawa keburukan.

Maka, Rasulullah saw. pernah bersabda, “La taghdhab La taghdhab La taghdhab (Jangan marah, jangan marah, jangan marah),” saat seseorang meminta nasihat kepada beliau. (HR Al-Bukhari)

Saudaraku, amarah itu dari setan. Apabila marah diperturutkan, setan akan dengan mudah mempermainkan manusia. Akibatnya, perkataan dan perbuatan kita menjadi tidak terkontrol, cenderung merusak, dan menyakiti. Alihalih menyelesaikan masalah, sikap kita justru semakin memperumit masalah. Bahkan, dalam kondisi marah, seseorang bisa melakukan perbuatan nekat yang bernilai dosa besar, semisal membunuh.

Pernah terjadi sebuah peristiwa, seorang ibu melemparkan bayinya mengenai dinding sehingga sang bayi meninggal dunia. Ibu ini sangat kesal dan marah hanya karena bayinya terus menerus menangis.

Ada kisah lainnya, yaitu tentang seorang istri yang membakar suaminya hidup-hidup karena terbakar api cemburu. Innalillahi, di manakah akal sehat mereka? Apakah rasa perikemanusiaan mereka sudah mati? Na’udzu billahi min dzalik.

Dua kisah ini hanyalah sebagian kecil dari contoh orang yang tidak bisa mengendalikan nafsu amarah. Ada ratusan, ribuan, atau malah jutaan kisah yang menggambarkan betapa bahayanya amarah yang diperturutkan. Para pelakunya sering lupa bahwa apa yang dilakukannya akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Memperturutkan amarah itu, puasnya hanya sesaat, adapun sisanya dipenuhi penyesalan dan kesengsaraan.

Tentu saja, setiap orang pasti pernah marah, laki-laki perempuan, tua muda, ulama atau orang awam, karena marah adalah fitrah. Namun, kapan kita marah, kepada siapa kita marah, bagaimana kita marah, dan berapa lama kita marah, itu yang akan menentukan kualitas marah kita. Marah karena agama kita direndahkan, Allah dan Rasul-Nya dihinakan, atau simbol-simbol Islam dinistakan, itu termasuk marah yang bernilai ibadah. Hanya saja, bagaimana marahnya itu diatur dalam agama.

Saudaraku, apabila kemarahan terlanjur membakar hatimu, apa pun sebabnya, kita dapat melakukan apa yang telah dinasihatkan oleh Rasulullah saw. untuk memadamkannya.

Pertama, apabila kita marah saat posisi berdiri, segeralah duduk; kalau sedang duduk, kita bisa berbaring. Kita pun bisa memalingkan fokus kepada yang lain.

Kedua, apabila hal ini belum mampu meredakan kemarahan, segeralah untuk berwudhu. Lakukan dengan sempurna. Ingatlah, bara api akan mati dengan air yang disiramkan kepadanya. Demikian halnya dengan api amarah dalam dada. Perlahan-lahan dia akan sirna dengan berwudhu.

Ketiga, apabila kemarahan belum juga reda setelah berwudhu, lakukanlah shalat. Insya Allah, gerakan-gerakan dan bacaan shalat akan membawa efek yang menenangkan terhadap pikiran dan tubuh.

Keempat, apabila setelah shalat ternyata amarah masih bersarang dalam dada, bersujudlah dan lupakan urusan yangmembuat kita marah. Saat bersujud itulah, pastikan hanya Allah yang kita ingat. Perbanyak pula ta’awwudz, istighfar, kalimat-kalimat thayyibah, atau membaca ayat-ayat AlQuran

Sesungguhnya kalau hati sudah bersih, kemarahan kita akan cepat pudar manakala ayat-ayat Allah diperdengarkan. Berikut adalah kisah tentang Umar bin Khathab ra.

Suatu ketika seseorang berkata kepada Umar ”Sesungguhnya engkau tidak bersikap adil dan tidak banyak memberi.” Sikap Umar pun langsung berubah, ini terlihat dari wajahnya.

Maka salah seorang hadirin berkata kepada Umar “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau pernah mendengar firman Allah; jadilah engkau pemaaf dan suruhlah  orang mengerjakan yang makruf serta barpalinglah dari orang-orang yang bodoh’

Umar pun menjawab ”Engkau benar, ibarat api, dia padam jika mendengar ayat tersebut”Saudaraku, agar bisa terampil mengendalikan amarah, kita perlu ilmu dan latihan terus menerus, plus memperbanyak doa kepada Allah Azza wa ]alla. Sebab, keterampilan dalam mengendalikan diri tidak diwariskan dari orangtua. Dia hanya bisa didapatkan dengan usaha dan doa. Ketentuan ini berlaku untuk semuanya, mulai dari ulama, guru, dokter, profesor, sampai dengan tukang becak. Siapa pun yang tidak melatih dirinya untuk sabar, dia akan mudah terbakar amarah.

Saudaraku, ingatlah, ada balasan yang luar biasa dari Allah Ta’ala bagi orang-orang yang terampil mengendalikanamarahnya Cukuplah surah Ali ‘Imran ayat 133-134 sebagai jaminannya.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orangorang yang menafkahkan ( hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orangorang yang berbuat kebajikan. ”

“ketahuilah, (1) siapa yang memnuhi ajakan iblis, hilanglah agamanya; (2) siapa yang memnuhi nafsu amaranya, hilanglah akalnya; (3) siapa memperturutkan ambisinya, hilanglah ruhnya; (4) siapa memenuhi bujukan dunianya, hilanglah akhiratnya; (5) siapa memenuhi keinginan anggota tubuhnya, hilanglah syurga darinya; (6) siapa memenuhi panghilan rabbnya, hilanglah keburukan darinya dan dia akan memperoleh segala kebaikan.” (abu bakar shiddiq, nashaihul ‘ibad) (Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT