. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Mengenal Sosok Guru Kehidupan

Menjadi guru tidaklah hanya semudah membalikkan telapak tangan. Beban berat dibalik nama guru, menjadi tantangan besar bagi setiap orang yang memiliki titel “guru”. Secara sederhana, guru diartikan sebagai orang yang memiliki keahlian tertentu, dan kemudian mengajarkannya kembali kepada muridnya.

Tugas guru tidak hanya bermakna memindahkan ilmu pengetahuan kepada para murid. Lebih dari itu, tugas guru adalah menyentuh kehidupan para muridnya. Guru harus membantu, menolong, dan membimbing para muridnya agar mereka menjadi orang berilmu, mandiri, dan berakhlak baik.

Guru adalah kehidupan, bukan penghidupan. Artinya, menjadi guru itu tak sebatas profesi. Apalagi menjadikan profesi guru untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupannya adalah menjadi guru, bukan menjadi guru untuk memenuhi kehidupan.

Masih ingat dengan Een Sukaesih, pejuang pendidikan asal Sumedang? Dengan segala keterbatasannya, Een tetap mengabdikan dirinya di dunia pendidikan dengan menjadi guru bagi puluhan anak disekitarnya. Setiap hari membimbing anak didiknya mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dan mengajar. Terkadang ia minta dibacakan surat kabar dan televise oleh anak-anaknya, hingga kemudian ia membahasnya dan menggali hikmah atau pelajarannya.

Di usianya yang tidak muda lagi, dan kelumpuhan yang menderanya hingga puluhan tahun, tidak membuatnya menyerah begitu saja. Cita-cita menjadi guru ia wujudkan dengan mengajar anak-anak disekitarnya. Dengan membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan membimbing muridnya ia merasa senang. Bahkan menurut Een muridnya memberikan kekuatan dan semangat hidup. Sesekali ia juga mengajarkan pelajaran agama, harapannya agar merekan memiliki akhlak dan karakter yang baik.

Tanpa memungut bayaran, profesinya sebagai wujud bakti kepada duni pendidikan. Selain mengisi waktu luang juga sebagai dedikasinya disunia pendidikan. Kini ia sudah tiada, namun semangat hidup dan pelajaran yang diberikan tetap hidup di dalam hati muridnya.

Alam Semesta, Guru yang Bijak

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti malam dan siang bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air ia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya)-nya dan dia sebarkan dibumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah [20] : 164)

Simak kisah berikut ini, Hasan dari Basrah, guru sufi besar yang sangat dikenal. Tatkala seorang guru sufi besar Hasan, bertanya kepadanya “Hasan, siapa gurumu?”

Dia menjawab “aku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka tidak akan ada waktu untuk menjelaskannya. Tapi ada 3 guru yang akan aku ceritakan.”

Pertama, seorang pencuri. Suatu saat aku tersesat d gurun pasir ketika tiba di desa dan karena larut malam,semua tempat tutup. Lalu aku bertemu pemuda yang sedang melubangi dinding, aku bertanya dimana aku bisa menginap, lalu dia menjawab “sulit mencarinya jika sudah larut malam, tetapi engkau bisa menginap denganku, jika engkau bisa menginap dengan seorang pencuri.”

Aku menetapnya selama satu bulan, setiap amalam ia berkata “aku akan pergi bekerja, kau istirahat saja dan berdoa.” Saat ia kembali aku bertanya “kau mendapat sesuatu?” dia menjawab “mungkin tidak malam ini, aku tapi besok aku akan mencobanya kembali. Semoga tuhan berkehendak.” Dia tidakpernah patah semangat dan selalu berbahagia.

Selama bertahun-tahun dan di akhir waktu tidak terjadi apapun banyak masa dimana aku begitu putus asa. Dan tiba-tiba aku teringan akan sipencuri “jika tuhan berkehendak, besok akan terjadi.”

Guru kedua seekor anjing,tatkala ak pergi kesungai karena kehausan, lalu seekor angjing mendekatiku ia juga kehausan. Saat ia melihat ke air dia ketakutan melihat bayangannya sendiri. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari, tetapi karna kehausan ia kembali lagi. Terlepas dari rasa takutnya ia langsung melompat ke airnya, dan hilanglah bayangannya. Sebuah pesan datang dari tuhan : ketakutanmu hanya lah bayangan, ceburkan dirimu kedalamnya dan rasa takutmu akan hilang.

Guruku yang ke tiga seorang anak kecil, tatkala aku disebuah kota melihat seorang anak kecil membawa sebatang lilin menyala. Dia menuju masjid untuk meletakkan nya disana.

“apakah engkau menyalakannya sendiri?” dia menjawab “ya, tuan.” “suatu waktu lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu lilinnya menyala. Bisakah engkau tunjukkan datangnya sumber cahaya pada lilinnya?”

Anak itu tertawa, lalu menhembuskan lilinnya, “sekarang cahayanya pergi. Bisakah tuan menjelaskan kemana perginya?”.

Egoku remuk, pengetahuanku remuk. Dan menyadari kebodohanku sendiri. Adalah benar aku tidak memiliki guru. Tetapi bukan berarti aku bukan seorang murid. Aku menerima semua kehidupan sebagai guru. Aku tidak memiliki seorang guru tapi aku memiliki jutaan guru dari berbagai sumber.

Rendah hati, kuncinya!

Orang yang rendah hati akan menerima masukan dari siapapun, menerima masukan dari anaknya, bawahannya, dan hal-hal yang berada disekitarnya.

dan hamba-hamba tuhan yang maha penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa meraka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqon [25] : 63)

Dalam tausiyah singkat aa gym, orang rendah hati jarang memiliki musuh, karna ia tidak pernah menganggap orang lain saingan. Ia sering berbaik sangka, siapa tau orang yang tampak biasa dalam pandangannya ternyata luar biasa dipandangan Allah SWT.

Sungguh beruntung sekali orang yang rendah hati. Karena pada banyak kesempatan, ia bisa banyak belajar dan memperkaya ilmu. Sedangkan orang sombong sebaliknya. (Astri Rahmayanti)

LEAVE A COMMENT