. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

“Membeli” Surga, Mungkinkah?

Memiliki barang mewah dan berharga merupakan keinginan hampir setiap manusia. Tak jarang, saking menginginkan atau memerlukannya, orang rela menabung hingga bertahun-tahun atau rela berutang dan mencicil demi benda yang sangat diinginkannnya itu. Lantas, bagaimanakah dengan surga? Apakah kita rela mencicil atau membelinya meski harganya selangit, atau harus dicicil seumur hidup?

Surganya Allah SWT semestinya menjadi sesuatu yang dicita-citakan setiap manusia. Mengapa? Karena surga adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah, dan balasan terbaik dari Allah bagi makhluk-makhluk-Nya yang menaati perintah dan larangan-Nya. Untuk mendapatkannya, manusia harus rela berkorban mengerahkan segenap kemampuannya, baik itu harta, waktu, tenaga, dan pikirannya di jalan yang Allah ridai.

Salah satu pengorbanan yang dilakukan agar mendapat surganya Allah adalah dengan mengorbankan harta. Harta adalah sesuatu yang sangat dicintai manusia, bahkan hampir separo usia manusia digunakan untuk mengumpulkan harta. Demi mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, sebagian orang rela menghabiskan waktunya bahkan mempertaruhkan nyawannya sekali pun.

Harta untuk ke Surga

Apakah mungkin kita dapat “membeli” surga Allah dengan harta yang kita miliki? Mungkin saja! Selain berjihad dengan jiwa, Allah SWT juga menekankan umat-Nya untuk berjihad harta. Bahkan, jihad harta telah menjadi amalan dominan kaum muslimin sejak jaman Rasulullah. Muslim yang melakukan jihad harta dan jiwa, Allah tegaskan sebagai Muslim yang sesungguhnya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” (QS. Al-Hujurat [49]: 15).

Usia biologis manusia pasti berakhir dan secara otomatis, tugas kita di dunia pun ikut berakhir. Tetapi, ada sesuatu yang membuat pahala atau amal kebaikan kita terus mengalir meskipun usia berakhir. Sedekah jariyah (wakaf) akan membuat pahala terus mengalir meskipun kita telah tiada.

Seperti sebuah pisau, jika digunakan untuk memasak atau digunakan untuk kebaikan lainnya, pisau tersebut akan sangat bermanfaat dan mengantarkan pada kebaikan. Tetapi, jika pisau tersebut digunakan oleh penjahat untuk menzalimi orang lain, maka pisau tersebut dapat mengantarkan pada keburukan.

Begitu pun harta. Sangat disayangkan, jika harta yang kita dapatkan dengan susah payah, kerja siang-malam, tetapi tidak dapat mengantarkan kita ke surganya Allah. Padahal, harta yang kita dapatkan tersebut bersumber dari Allah, dan akan kembali kepada-Nya. Ada pun salah satu cara memanfaatkan harta di jalan Allah yakni dengan sedekah jariyah atau wakaf.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 133-134)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan waktu lapang dan waktu sempit adalah dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan bersemangat maupun tidak berdaya, baik dalam kondisi sehat maupun sakit”.

Apakah mungkin kita dapat membeli surga hanya dengan berwakaf? untuk mendapatkan surganya Allah tidak hanya dapat “dibeli” dengan wakaf. Wakaf hanya salah satu cara kita mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan berwakaf, secara tidak langsung bertransaksi dengan Allah SWT. Tentu saja, harus diimbangi dengan amalan-amalan lainnnya. Selain wakaf, ibadah mahdhah, mematuhi perintah dan menaati larangannya pun dikerjakan karena salah satu proses perniagaan transaksi jual-beli dengan Allah SWT dengan berwakaf dan juga ibadah lainnya.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu. (QS. Ash-Shaff [61]:10-12)

Di ayat tersebut, yang dapat mengantarkan kita ke surganya Allah, tetapi juga beriman kepada Allah, Rasulullah, dan berjihad dengan harta yang Allah titipkan kepada kita, salah satunya dengan berwakaf. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang gemar memanfaatkan harta di jalan Allah. Aamiin. (Astri Rahmayanti)

LEAVE A COMMENT