. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Membangun Ketangguhan di Keluarga

Miris rasanya kalau melihat pemberitaan media massa saat sekarang, entah televisi, koran, radio, atau dunia maya (internet). Tidak terhitung kejadian memilukan yang menimpa anak-anak kita, mulai dari tawuran, kekerasan seksual, pergaulan bebas yang berakhir dengan pembunuhan, aborsi, dan permusuhan. Kerap pula kita mendengar ada anak yang tega membunuh orangtuanya hanya karena tidak dibelikan motor. Atau, ada anak yang membunuh temannya hanya karena ingin mengambil hapenya. Tidak sedikit pula anak yang bunuh diri karena malu tidak bisa membayar SPP, . putus cinta, atau dimarahi orangtua.

Terang saja, apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan berat, bahkan sudah termasuk tindak kriminal. Atau, dalam bahasa agama, mereka sudah melakukan dosa besar dan kefasikan. Akan tetapi, kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Mereka hanyalah korban dari permasalahan yang mendera orang-orang dewasa di sekitarnya. Persoalan pun tidak akan pernah selesai apabila orangtua, atau pihak-pihak berwenang, hanya fokus pada kesalahan si anak.

Sesungguhnya, fenomena ini bagaikan gunung es. Yang muncul ke permukaan hanya sedikit saja dari gunungan masalah yang tertutupi pekatnya lautan. Artinya, ada sebuah proses yang telah berlangsung dalam waktu yang lama. Hal yang paling kentara adalah buruknya proses pendidikan yang diterima si anak. Ini kemudian diperparah dengan ketidakpedulian yang dia terima di rumah, dan lingkungan luar rumah yang jauh dari kata ramah.

Maka, kita layak merenung dan terus berpikir tentang solusi apa yang bisa kita lakukan. Minimal untuk membentengi anak di dalam rumah kita sendiri. Satu yang terpikirkan adalah betapa pentingnya memiliki jiwa tangguh. Ya, kondisi jiwa yang tahan menghadapi kesulitan dan terpaan badai kehidupan.

Ketangguhan ini sesungguhnya berbanding lurus dengan kekuatan iman. Tidak ada yang bisa membuat seseorang memiliki ketangguhan sejati kecuali keimanan. Ciri orang yang kuat imannya adalah bersyukur saat diberi nikmat dan bersabar ketika diberi ujian. Keduanya lahir darikekuatan iman yang didukung ilmu serta latihan tiada henti, plus dukungan lingkungan, terkhusus ayah dan ibu.

Kita kerap melihat seorang ibu menangis saat anaknya terluka. Atau, seorang ibu menangis saat melihat anak gadisnya menangis karena putus cinta. Sikap seperti itu akan menjadikan anak kehilangan sosok tegar yang dia butuhkan. Ini tentu saja berbeda dengan ibu yang tegar menghadapi kecelakaan anaknya sambil tetap diobati. Atau, ibu yang mampu berempati dengan perasaan anak tanpa ikut larut dalam kesedihan, yaitu dengan tetap membantu mencari solusi terbaik bagi masalah yang mereka hadapi. Sesungguhnya, empati berlebihan akan membawa kerugian bagi orangtua dan anak. Minimal, mereka kehilangan momen untuk berlatih menjadi pribadi tangguh.

Idealnya, sebuah keluarga sudah harus dipersiapkan sejak awal. Setiap orang yang ada di dalamnya sudah harus disadarkan bahwa hidup adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah lain. Hidup adalah rangkaian ujian. Anak harus disiapkan untuk menghadapi kenyataan adanya orang yang suka dan tidak suka. Mereka harus siap dipuji dan dicaci siap dengan kemudahan dan kesempitan siap dengan suasana nyaman dan tidak nyaman.

Lalu, bagaimana cara membangun kekuatan mental anak sehingga dia tahan banting menghadapi deraan kesulitan dan aneka ketidaknyamanan? Setidaknya ada tiga POin penting yang dapat kita lakukan untuk menyiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh.

Pertama, mulai dari diri sendiri. Orangtua tidak bisa menuntut anak menjadi tangguh, sebelum dia menuntut diri menjadi Pribadi tangguh. Maka, ketika menghadapi masalah, bertekadlah “Saya harus menjadi ibu yang tangguh masalah apa pun, sehingga bisa menjadi teladanbagi anak!” Demikian pula dengan ayah, jangan menjadi ayah yang cengeng, mudah mengeluh, gemar menyalahkan, atau mudah marah saat sedang ada masalah.

Kedua, ketika anak-anak menghadapi masalah dan ujian, jadikan itu sebagai sarana melatih diri. Hal minimal adalah memberi nasihat dan memberi bimbingan secara langsung kepada anak. Jangan panik ketika menghadapi masalah. Tunjukkan ketegaran di depan anak.

Kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah, justru hanya akan menambah masalah.

Ketiga, iringi pendidikan anak dengan doa. Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar anak kita menjadi anak yang kuat iman dan tangguh mentalnya. Ada sebuah ayat Al-Quran yang layak kita renungkan, kita gali kedalaman maknanya, untuk kemudian kita jadikan panduan. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa, 4:9)

Ciri orang yang kuat Imannya adalah bersyukur saat diberi nikmat dan bersabar ketika diberi ujian. Syukur dan sabar lahir dari kekuatan iman yang didukung ilmu, latihan tiada henti, dan dukungan dari lingkungan. (Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT