. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Memancing Keberkahan dengan Berwakaf

Selalu saja ada cerita menarik dari setiap wakif (pewakaf). Tentunya cerita ini memberikan inspirasi dan menyebarkan semangat untuk terus berbuat kebaikan. Cerita kali ini, datangnya dari sosok ibu paruh baya yang rutin berwakaf ke Wakaf Daarut Tauhiid sejak 2014. Sebut saja Umi, karena namanya enggan ditampilkan.

Dalam silaturahimnya ke Kantor Wakaf DT pada Februari lalu, dia mengungkapkan efek wakaf yang ditunaikannya. Alma, Staf Pelayanan Wakaf DT yang menyimak langsung penuturannya, mengaku merasa tersulut semangatnya untuk terus berwakaf, setelah mendengarkan cerita dari Ibu tersebut.

Hidup Berkah dengan Berwakaf

Awalnya Umi mengetahui program Wakaf DT dari Radio MQ FM. Beliau merasa tertarik berwakaf, karena selain memang gemar bersedekah, beliau tahu wakaf itu amal jariyah yang terus mengalirkan pahala, walaupun dirinya sudah meninggal dunia. Umi memutuskan wakaf rutin. Awalnya untuk wakaf pembangunan Rumah Penghafal al-Quran (RPA). Saat ini, wakafnya diakadkan untuk pembangunan Masjid DT.

“Wakafnya itu setahun empat kali atau dua bulan sekali. Akadnya dulu untuk RPA, terus wakaf umum juga pernah, sekarang wakaf Masjid DT,” ujar Alma, saat ditemui di Kantor Pelayanan Wakaf, Kamis (15/3).

Waktu terus bergulir, keajaiban demi keajaiban dalam hidupnya terjadi. Yang paling diingat dan menjadi pengalaman paling luar biasa terjadi pada 2017 lalu. Kala itu, Umi menderita sakit pinggul. Dokter mengharuskan dirinya menjalani operasi untuk menyembuhkan sakitnya itu. Perasaan sedih dan takut bercampur. Dirinya enggan menjalani operasi.

Di tengah sakit dan kesedihannya, dia berdoa, meminta kepada Allah untuk kesembuhan, dibalut ikhtiar dengan mengkosumsi obat. Wakaf menggenapi ikhtiarnya, mengantarkannya kepada kesembuhan tanpa operasi. Umi mengungkapkan, kesembuhannya merupakan salah satu keberkahan wakaf yang dirasakannya.

“Dari Wakaf itu berkah. Dimudahkan dalam Ilmu, rezeki, dan kegiatan di rumah, yakni pengajian, setiap Kamis. Itu pengajian rutinan. Setelah berwakaf, diberikan kelimpahan rezeki dan ketenangan rumah tangga,” tutur Alma, sambil mengingat percakapannya dengan Umi.

Komitmen dan Mangajak Berwakaf

Berbagai keberkahan yang dirasakan semakin menguatkan komitmen Umi untuk berwakaf. Dirinya bertekad untuk terus berwakaf. Menurutnya, wakaf itu adalah pemancing keberkahan. Jika ingin hidup berkah, maka jalannya adalah dengan berwakaf.

“Wakaf itu seperti memancing. Wakaf yang ditunaikan itu memancing keberkahan. Walaupun sedikit, tapi itu juga untuk akhirat. Dalam memancing keberkahan itu, akhlak juga harus dijaga,” kata Alma menirukan ungkapan Umi. Alma mengaku, ungkapan ini yang terus terngiang di telinganya sehingga semangat berwakaf menggebu dalam dirinya.

Karena berbagai keberkahan wakaf, Umi juga semangat mengajak orang lain untuk berwakaf, dimulai dari orang terdekatnya, yakni keluarga. Anak-anaknya diajarkan untuk berwakaf. Dia menanamkan kepada anaknya bahwa harta tidak bisa dibawa mati, yang dibawa mati itu pahala dari harta yang diwakafkan. Wakaf juga menjadi ikhtiar untuk meraih husnul khatimah (akhir hidup yang baik).

Bagi sahabat yang juga merindukan keberkahan dalam hidup dan kebahagiaan di surga, masih memiliki peluang, dengan berwakaf berbagai program Wakaf DT. Saat ini, ada enam program utama Wakaf DT, yakni Wakaf Masjid 3 in 1, Wakaf Asrama Tahfiz, Wakaf Quran Plus, Wakaf Produktif, Wakaf Pendidikan (asrama dan kelas), dan Wakaf Umum. (Agus Iskandar)

LEAVE A COMMENT