. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Masyarakat Bahagia Terima Wakaf al-Quran

Lebih dari setahun, Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid (DT) menggulirkan program wakaf al-quran. Hingga 31 Agustus 2017, tercatat sebanyak 17.493 al-Quran yang disalurkan ke 448 masjid di Indonesia. penyebarannya pun tak hanya sekitar Jawa Barat.

Selain beberapa daerah di Jawa Barat, program wakaf al-Quran juga telah menyentuh berbagai daerah di Sumatera, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Jakarta, Banten, Flores, dan lain-lain. Penerima manfaatnya pun beragam, dari mulai masjid di pesantren, masjid di perkampungan, musala, dan masjid di rumah tahfiz.

Agus Kurniawan, Direktur Wakaf DT mengungkapkan, program wakaf bertujuan untuk memelihara al-Quran yang sudah tak terpakai. Adapun kertas yang digunakan untuk al-Quran yakni kertas berkualitas tinggi yang tahan hingga 100 tahun untuk al-Quran wakaf.

Kertas yang diberi nama Quran Pulp and Paper (QPP) tersebut, juga telah bersertifikat Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga kehalalannya pun terjamin.

Wakaf DT menggandeng CV Smarttauhiid dalam hal desain, distrbusi, dan pemilihan kertas. Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang penerbitan dan jasa media. Sementara itu, untuk mencetak al-Quran, Wakaf DT bekerja sama dengan Tasdiq, percetakan al-Quran yang sudah mengantongi surat resmi sebagai percetakan al-Quran.

Keunggulan Program Wakaf al-Quran

Berbagai keunggulan program ini pun sudah banyak dirasakan, terutama oleh para penerima wakaf al-Quran. Setidaknya, ada tiga keunggulan dari program Wakaf Quran Wakaf DT. Pertama, wakaf al-Quran menjangkau sebanyak mungkin masjid, baik di kota maupun pelosok. Berdasarkan data yang masuk, pengajuan tidak hanya berasal dari desa, tapi juga dari kota.

Keunggulan kedua, jamaah semakin antusias untuk belajar al-Quran karena al-Qurannya kini lebih bagus dan jumlahnya lebih pas, bahkan bisa satu orang memegang satu al-Quran. Sebelum adanya wakaf al-Quran, al-Quran yang dipakai jamaah tampak lusuh dan jumlahnya sangat terbatas.

Keunggulan ketiga, al-Quran Wakaf DT dinilai ramah untuk jamaah berusia lanjut. Ukuran huruf dan khot yang digunakan sangat mudah sekali dibaca oleh para jamaah lansia. Cetakan huruf yang tidak terlalu rapat dan cukup besar, membuat para jamaah nyaman membacanya.

“Alhamdulillah dari beberapa jamaah dan DKM dari masjid-masjid tersebut menyatakan al-Quran ini enak dibaca, terutama bagi ibu-ibu,” tuturnya.

Bangkitkan Semangat

Ribuan wakaf al-Quran yang telah disalurkan ke beberapa daerah di tanah air menjadi penyemangat warga sekitar masjid yang menerima wakaf al-Quran. Salah satunya adalah warga sekitar Musala KH. MU Yaqin, di Sampang, Madura.

Menurut Amira, relawan musala setempat, musala yang masih berbentuk panggung itu selalu ramai oleh pengajian anak-anak, terutama selepas magrib.

Al-Quran yang ada pada saat itu, lanjut Amira, sudah sobek-sobek dan jumlahnya sangat sedikit sehingga anak-anak  yang tidak punya al-quran sendiri, harus bergiliran menggunakan al-Quran musala

Amira menambahkan, setelah  wakaf al-Quran diterima, anak-anak semakin semangat belajar karena setiap anak menggunakan al-Qurannya dengan leluasa.

Selain ke berbagai masjid, wakaf al-Quran juga disalurkan ke beberapa lembaga pendidikan, salah satunya ke Pesantren Tahfidz Al-Karim, Bengkulu.

Menurut Ria, wakaf al-Quran yang diterimanya beberapa waktu lalu sangat bermanfaat bagi para santri yang sedang menghafal al-Quran. Menurutnya, al-Quran yang tersedia belum cukup memadai para santrinya karena setiap tahun santri terus bertambah dan antusias menghafal al-Quran semakin meningkat.

Pesantren yang berdiri sejak tahun 2011 ini memiliki banyak santri dan selalu bertambah setiap tahunnya. Menurutnya, minat santri untuk menghafal di pesantren ini terus bertambah. Sayangnya, sarana yang tersedia masih belum memenuhi kebutuhan para santri, salah satunya al-Quran.

Kebutuhan masyarakat terhadap al-Quran masih cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengajuan al-Quran dari berbagai daerah melalui Wakaf Daarut Tauhiid (DT). Ustaz Fachrudin, Tim Lajnah Syariah DT mengungkapkan, al-Quran yang ada di masjid-masjid pelosok kondisinya banyak yang memprihatinkan.

“Kalau di kota, al-Quran di masjidnya masih bagus-bagus, tapi kalau kita coba lihat ke satu kampung di daerah pelosok, kadang al-Quran yang 30 juz, terpecah menjadi tiga bagian. Karena sudah pada robek. Kadang halaman-halamannya banyak yang lepas,” tutur Ustaz Fachrudin.

 

 

 

LEAVE A COMMENT