. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Ketika Wakaf Berbuah Ketenangan Hati

Pertengahan November lalu, seorang bunda berusia 60 tahun datang ke kantor Pelayanan Wakaf Daarut Tauhiid (DT). Penampilannya bersahaja, dengan kerundung ungu dan gamis hitam sederhana. Siapa sangka, dia sengaja berangkat dari rumahnya di Jakarta, untuk menyerahkan cek bertuliskan angka serratus juta ke Wakaf DT. Dia akadkan uang itu untuk Wakaf Graha Daarut Tarbiyah (GDT).

“Kemarin waktu ada Pertemuan PMK (Pesantren Masa Keemasan-Pen), ustaz Mumu ngumumin, gedung ini belum selesai dan masih butuh dana. Saya tergerak, saya ke sini lagi jadinya. Kayanya kesempatan ini kesempatan yang sangat baik bagi saya,” ujarnya diringi senyum.

Berbuah Ketenangan Hati

Wakafnya untuk Graha Daarut Tarbiyah ternyata bukan wakaf pertamanya. Sebelumnya, bunda empat anak ini sudah rutin berwakaf. Walaupun, dengan malu-malu dia mengungkapkan, wakafnya tidak sebesar wakafnya kali ini. Dia mengaku, kemantapan hati dan yakin dengan berbagai keutamaan wakaf membuat dirinya begitu ringan untuk berwakaf.

Wakafnya berbuah manis. Dia mengaku, wakaf yang ditunaikannya berbuah ketenangan hati. Hatinya selalu merasa lapang, walaupun persoalan hidup menghadang. Tidak seperti dulu, gelisah senantiasa menghantuinya, terutama saat hidupnya disandung peliknya masalah. Ketenangan jadi barang mahal untuk didapatkan.

“Saya punya ketenangan dibandingin saya tidak suka wakaf dulu. Memang rezeki ada, tapi hati masih gelisah. Tetapi ketika sudah berwakaf, ngadepin apa aja bisa aja gitu. Tidak terpikir terus. Ya udah ini mah memang ujian,” ungkapnya.

Wakaf juga menggenapi pilihannya untuk berhijrah dan menguatkanya untuk tetap istiqamah. Hal itu karena, salah satunya, ketenangan hati mengiringi setiap langkah. Dia yang dulunya getol mengkreditkan motor demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, berubah 180 derajat. Kini bunda yang sudah ditinggal suaminya ini mantap hanya menjual dengan cara tunai saja. Dia berusaha berhati-hati menghindari riba ketika menjual dengan cara dicicilkan.

Bunda ini pun jadi “keranjingan” berwakaf. Dia mengungkapkan, selama masih ada kesempatan dan harta, dirinya akan terus menunaikan wakaf. Apalagi, setelah dia tahu semua anaknya mendukung. Tak ada alasan lagi baginya, untuk menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya untuk berwakaf.

Seperti muslim lainnya, dia pun memilki doa dan harapan di balik wakafnya, terutama dari Wakaf Graha Daarut Tarbiyah yang baru saja ditunaikannya. Dimpuni segala dosa, tertuma dosa masa lalu, dan berkumpul kembali bersama suami tercinta serta anak-anak di surga, menjadi doanya.

“Mudah-mudahan dosa saya yang lalu diampuni. Terus , semoga bersama suami dan anak-anak bisa berkumpul di surga. Untuk Bangunan Graha Daarut Tarbiyah, Harapannya supaya cepat jadinya, supaya banyak lagi yang berwakaf, supaya cepet jadi,” katanya sambil senyum tidak lepas dari wajahnya.

Membangun Peradaban

GDT merupakan bangunan setinggi lima lantai dan empat lantai untuk memenuhi kebutuhan sarana Pesantren DT, khusus Program Pesantren Masa Keemasan (PMK), yang santrinya berusia 45 tahun ke atas, dan Daurah Qalbiyah (DQ).

Bangunan ini akan dijadikan asrama, kelas, dan ruang bisnis sebagai wakaf produktif yang akan menjadi penopang program PMK dan program pesantren lainnya. Tujuannya, manfaat yang didapat dari aset ini menjadi berlipat yang otomatis juga mengalirkan pahala berlimpah.

Wakaf DT memberikan peluang membangun peradaban oleh para santri masa keemasan dengan berwakaf  pembangunan Graha Daarut Tarbiyah. Keseluruhan pembangunan GDT membutuhkan dana sebesar Rp. 6.774.305.000.

Wakaf bisa ditunaikan dengan transfer ke rekening BNI Syariah: 82001-82007 atas nama Yayasan Daarut Tauhiid. Informasi, konfirmasi, dan penjemputan wakaf bisa menghubungi call center Wakaf DT; 085 200 123 123. (Agus)

 

 

 

 

LEAVE A COMMENT