. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Kematian Tak Hentikan Bakti kepada Ibu Tercinta

Sungguh sulit dipercaya. Dua hari lalu, dirinya dan Ibunya masih ber-video call. Ketika dirinya yang tinggal di Indiana, Amerika Serikat, menyuapi anaknya di pagi hari dengan ibunya di Indonesia. Hari ini kabar menyesakan dada seakan melunakan semua tulang. Tubuhnya terasa lemas saat dikabari ibunya tercinta menghembuskan nafas terakhir tanpa didampinginya.

Dengan air mata yang terus mengalir. Dia buru-buru mengurus segala dokumen untuk bisa pulang ke Indonesia. 48 jam perjalannya tidak cukup untuk melihat wajah terakhir perempuan yang memberinya kehidupan. Ketika tiba di Indonesia, ibunya sudah dikebumikan.

Rasa sedih terus berkecamuk. Sedih karena tidak bisa berbakti kepada ibu. Sedih karena belum bisa memberi apapun kepadanya. Sedih karena tidak sempat mengurus orang tua yang sudah ditinggal oleh Ayah dan kedua saudaranya. Sedih karena tidak bisa menemani saat-saat terakhirnya.

Sosok Ibu

Ibunya adalah sosok kuat dan tegar. Penyakit jantung, yang menjadi hadiah dari Allah, tidak menyurutkan semangat untuk membesarkannya sampai bisa mendapat Beasiswa S3 di Amerika Serikat. Penyakit jantung tidak menghalangi restu ibunya untuk membiarkan putri semata wayang terpisah waktu 12 jam.

Tahun 2000 lalu, ibunya mengganti klep jantung di Rumahsakit di Jakarta. Seiring waktu, fungsi klep jantung tersebut semakin menurun. Entah sudah berapa lama, ibunya merasakan sakit karena klep yang sudah tua. Namun, ibunya tidak pernah mengeluh sedikit pun, karena tidak ingin membuyarkan konsentrasi belajar sang putri. Ketegaran itu belum sanggup dilakukannya. Tapi, dirinya yang kini juga menjadi ibu akan berusaha setegar ibunya.

Ibunya juga sosok yang gemar memberi. Sedekah jadi kebiasaan. Nasehat yang kini selalu dicontohnya yaitu, jangan pernah menghitung pemberian kepada orang lain. Lakukan semua dengan ikhlas karena Allah pasti akan membalas.

Sosok tegar dan rajin bersedekah semakin menginpirasinya tatkala dia tahu ibunya tidak pernah bergibah. Bahkan hanya sekadar membicarakan orang lain pun dia tidak pernah. Hal itu diketahuinya saat dia mengembalikan beberapa amanah uang yang diurus oleh almarhumah.

Selain mengabdi kepada negara dengan bekerja di Kementrian Keuangan, ibunya juga diamanahi jadi Bendahara RT dan Bendaha RW sekaligus Bendahara RT. Setiap orang, yang ditemui ketika amanahnya dikembalikan, mengatakan ibunya tidak pernah sekalipun membicarakan orang lain. Tidak pernah sekalipun. Ternyata dengan seperti itu, Almarhumah juga menjadi sosok yang dikagumi oleh orang sekelilingnya. Kekaguman dan kerinduan kepada ibu pun semakin besar.

Bakti Setelah Ibu Pergi

Ibunya tidak akan pernah bisa hidup kembali di dunia. Berusaha ikhlas dan berbakti sekuat tenaga harus dilakukan agar ibunya bahagia di “sana”. Berdoa sambil terus memperbaiki diri dan mengajarkan ilmu yang diperolehnya dengan menjadi dosen, diharapkan bisa menjadi baktinya kepada ibu tercinta.

Namun, dia merasa masih ada yang kurang. Anak saleh dan ilmu bermanfaat, menurutnya, dua hal yang tidak bisa diukur dan belum jelas. Untuk menyempurnakan, keduanya, dia butuh bakti yang jelas nilainya.

Ia teringat hadis tiga amalan yang tidak terputus ketika seseorang telah meninggal. Selain anak saleh dan ilmu bermanfaat, wakaf yang merupakan sedekah jariyah ditunaikannya. Uang warisan senilai 60 juta diakadkan untuk Wakaf Masjid 3 in 1, Wakaf Asrama Tahfiz, dan Wakaf Quran Plus atas nama almarhumah ibunya.

“Jadi inilah bakti saya yang bisa saya lakukan. Semoga bisa diterima Allah. Semoga bisa nyampe. Semoga bisa membahagiakan kehidupan beliau di “sana”,” tutur pewakaf yang tidak mau disebut namanya ini sambil mengusap air mata, usai ikrar wakaf di Kantor Wakaf Daarut Tauhiid, Rabu (6/5) lalu.

LEAVE A COMMENT