. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Jangan Sakiti Ibumu!

Suatu hari, ada seorang Muslimah datang ke rumah. Nada bicara dan ungkapan kata-katanya penuh dengan penyesalan. Walau ucapannya kurang jelas, akan tetapi Teteh masih bisa menangkap maksud dari apa yang dibicarakannya.

”Suatu hari, ibu meminta saya untuk mengantarnya pergi ke suatu tempat. Tetapi saya menolaknya. Sambil mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa ke tempat kerja, dengan suara yang meninggi, saya bilang kepada Ibu kalau saya sedang sibuk dan harus masuk kerja!

Lalu, saya pergi ke kantor dan meninggalkan Ibu. Boleh jadi, saat itulah hati Ibu terluka karena ucapan dan sikap saya. Dan, kejadian seperti ini bukan hanya terjadi saat itu saja, tetapi telah berulang kali.

Saya berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa. Waktu itu saya sendiri yang menyetir mobil. Di tengah perjalanan, mobil yang saya kemudikan tiba-tiba menabrak mobil yang sedang parkir. Wajah saya membentur setir mobil dengan sangat keras. Saat itulah, lidah saya tergigit sehingga hampir putus. Darah bercucuran. Saya pun pingsan!

Ketika siuman, saya telah berada di sebuah rumah sakit yang boleh dibilang sangat sederhana. Lidah saya yang hampir putus itu di jahit tanpa menggunakan obat bius (karena tidak tersedia). Masya Allah, sakitnya bukan main. Tidak pernah saya merasakan sakit seperti saat itu. Saya hanya bisa menangis dan menjerit kesakitan.

Setelah lidah dijahit, saya harus istrahat bicara, juga istirahat makan dan minum (secara normal) selama dua bulan.

Suatu waktu, kala tengah dalam perawatan, Saya mengambil selembar kertas. Di atas kertas itu saya menulis surat untuk Ibuku.

”Ibu maafkan aku. Rasa sakit yang tidak tertahankan telah kurasakan saat lidahku dijahit. Ini mungkin hukuman atas dosa lidahku yang lancang pada Ibu. Ibu, maafkan anakmu. Mungkin anakmu ini tidak akan bisa berkata-kata lagi. Ibu, maafkan aku!”

Air mata yang terus menetes di pipi tidak bisa kubendung saat kutulis surat itu. Saya berpikir bahwa lisan ini tidak akan bisa berbicara lagi .

Beberapa jam kemudian, Ibu datang dan langsung memelukku dengan penuh kasih sayang. Saat membaca surat yang saya tulis, ibu langsung menangis. Dia berkata, ”Enggak apa-apa, Nak. Lupakan saja! Ibu telah memaafkanmu.”

Kemudian saya mengambil lagi kertas itu dan kutulis, ”Wahai manusia, jangan engkau sakiti ibumu. jangan engkau undang siksa Allah Ta’ala.”

Betapa besar jasa dan pengorbanan seorang ibu terhadap anaknya. Ketika mengandung dan melahirkan, dia harus menanggung penderitaan yang tidak mungkin dirasakan seorang ayah.

Setelah si anak lahir, dia menjaga, membesarkan, dan mandidiknya dengan telaten. Dia tetap bersabar ketika hari-harinya diganggu oleh rengekan dan tangisan anaknya. Dia pun rela menghemat uang agar bisa membeli sepatu bagus, tas sekolah, atau apa pun untuk kebahagiaan anaknya.

Aah betapa banyak pengorbanan seorang ibu yang tidak mungkin kita perinci satu per satu. Tidak akan cukup lembar demi lembar kertas untuk menuliskannya.

Maka, Rasulullah saw. menegaskan bahwa apa pun yang diberikan seorang anak kepada orangtuanya, itu tidak akan pernah cukup untuk membalas budi baiknya. Lihatlah, betapa hebatnya pengorbanan Uwais Al-Qami yang ratusan mil menggendong ibunya sehingga dari jauh Rasulullah saw. dapat mencium bau kemuliaannya. Namun, apa yang beliau katakan? Walau Uwais menggendong ibunya lebih jauh lagi, dia tidak akan pernah mampu membalas budi baik ibunya!

Saudaraku, apabila amal baik kita tidak mungkin menyamai kebaikannya, menyakitinya termasuk seburukburuk maksiat. Allah dan Rasul-Nya dengan tegas melarang kita menyakiti orangtua. Jangankan mengucapkan kata-kata kasar atau memperlakukan mereka dengan perlakuan yang buruk, sebagaimana dilakukan saudari kita sebelum kecelakaan, mengatakan ”ah” saja pun itu dilarang oleh Allah Swt.

“Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam peliharaanmu, maka sekaIi-kali janganlah kamu mengatakan pada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al-lsra, 17:23)

Bahkan, satu-satunya dosa yang dijanjikan akan mendatangkan kesialan hidup dan musibah yang kontan di dunia adalah dosa kepada orangtua. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa dosa kepada orangtua adalah tangga kedua setelah musyrik. “Maukah engkau aku tunjukan dosa besar di antara dosa-dosa besar,” kata Nabi saw. Sahabat mengiyakan. Beliau lalu bersabda, ”Menyekutukan Allah.” Kemudian Nabi saw. diam, lalu bersabda kembali, “Menyakiti kedua orangtua” Nabi mengulangnya berkali-kali’f (HR Mutafaqun ‘Alaih)

Beliau pun bersabda, “Ada dua macam dosa yang Allah Ta’ala dahulukan siksanya di dunia, yaitu al-baghyu ( berbuat zalim, aniaya, atau sewenang-wenang terhadap orang lain) dan durhaka kepada orangtua.” (HR Al-Bukhari)

Maka, berhati-hatilah kita agar tidak menyakiti hati ibu atau ayah, sekecil apa pun. Lebih baik kita diam daripada mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti hatinya. Andai sudah terlanjur berbuat salah, bersegeralah untuk memohon keridhaan-Nya. Jangan ditunda-tunda. Sesungguhnya, keridhaan Allah ada pada keridhaan orangtua. Dan, kemurkaan Allah ada pada kemurkaan ibu dan ayah kita.

Boleh jadi, ada yang bertanya, bagaimana cara kita menebus dosa akibat menyakiti atau durhaka kepada orangtua sedangkan mereka telah meninggal dunia? Dengan demikian, kita tidak bisa lagi memohon maaf kepada mereka, meminta keridhaannya, tidak lagi bisa mencium tangannya. Sesungguhnya, Allah adalah Zat Yang Maharahman dan Maharahim. Dia tetap membukakan aneka pintu kebaikan yang bisa kita masuki demi menebus dosa-dosa kita kepada ibu atau ayah. Berikut ini beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, azamkan dalam hati bahwa kita benar-benar bertobat. Lakukan shalat dua rakaat. Bersujudlah di hadapanNya. Akui dosa-dosa kita terkhusus dosa kepada orangtua. Mohonkan ampunan-Nya. Lalu, perbanyak istighfar kapan dan di mana pun kita berada.

Kedua, perbanyak amal saleh, baik yang bersifat mahdhah (ritual) ataupun muamalah. Cari tahu ibadahibadah apa yang disukai Allah Ta’ala, lalu kita berusaha untuk mendawamkannya. Insya Allah, aneka perbuatan baik kita bisa menghapus beragam perbuatan buruk yang pernah kita lakukan.

Ketiga, jaga tali silaturahim dengan kerabat, teman, atau guru Ibu kita. ]adikan diri kita sebagai orang yang menjaga dan melestarikan kebaikan yang pernah beliau lakukan selama hidup.

Keempat, kalau memungkinkan, penuhi hajat orangtua yang belum sempat tertunaikan saat masih hidup. Misal, saat masih hidup ibu ingin menyumbang masjid, tapi beliau belum punya uang. Maka, sebagai anaknya, kita layak untuk menunaikan hajat beliau.

Kelima, jangan pernah putus untuk mendoakannya, terkhusus setelah shalat fardhu dan shalat Tahajud. Doa yang tulus dari seorang anak kepada orangtuanya akan diijabah Allah.

Keenam, kalau mampu, jadilah seorang penghafal AlQuran. Sesungguhnya, orang yang hafal dan dekat dengan Al-Quran, dia bisa menjadi jalan terangkatnya kemuliaan orangtua di akhirat. Kalau belum bisa, biayai atau fasilitasi orang-orang untuk bisa dekat dengan Al-Quran

”Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu aku kecil” (QS Al-Isra’, 17:24).

(Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT