. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Visi-Misi yang Tinggi dan Mulia

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hari (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.Al-Furqan [25] : 74).

Ibrahim dan Siti Sarah mendapat tawaran tinggal di Mesir, namun mereka lebih memilih berhijrah ketempat yang Allah tunjukkan. Mereka pun berpamitan dan melalukan perjalanan sampai tiba di negeri tujuan, yaitu palestina.

Atas pernikahannya dengan Siti Sarah, Nabi Ibrahim yakin suatu saat dikarunia amanah anak. Tentunya anak yang tidak sekedar buah hati dan pelanjut keturunan, melainkan tumpuan dan harapan yang melanjutkan cita-cita perjuangan di masa depan.

Sebelum tiba masanya (memiliki anak), Nabi Ibrahim mengumpulkan segenap bayangan atas sanga anak di setiap bait doanya. Berkaca dari kisah Nabi Nuh, ia meminta dua hal ats isteri dan keturunannya, yaitu : 1) penyenang hati, dan 2) imam (pemimpin) bagi orang-orang bertakwa.

Seiring berjalannya waktu, yang ditunggu pun belum tiba. Usia Nabi Ibrahim dan Siti Sarah terus merangkak menuju tua. Namun, tanda-tanda (kedatangan) yang dinanti juga belum ada.

Menjalani kondisi demikian, Siti Sarah menunjukkan sikap qurrata a’yun (penyejuk hati). Sebagai seorang yang pintar, ia mengetahui jalan mendapatkan anak bagi Nabi Ibrahim sangat terbuka. Ia tidak ingin menutup anugerah tersebut hanya karena keegoisannya. Ia pun menawarkan kepada suaminya untuk menikahi perempuan yang tepat menurutnya, yaitu Siti Hajar.

Nabi Ibrahim tersenyum simpul. Sikap Siti Sarah ini adalah pertanda besar baginya, yaitu awal dari terkabulnya doa yang dipanjatkan selama ini. Istri yang total menjadi penyenang hati telah ia dapatkan. Atas restu Allah, Nabi Ibrahim pun menikahi Siti Hajar.

Doa ibarat proposal. Agar mendapat persetujuan dan izin yang dimintai permohonan, maka isi proposal jangan asal-asalan. Seyogyanya sebuah proposal harus disertai sejumlah pernyataan, yakni menggambarkan kesungguhan dan kesiapan permohonan atas yang dimohonkannya. Begitulah kualitas doa yang Nabi Ibrahim panjatkan, yakni terus menerus ia sampaikan disertai lampiran-lampiran berupa kiprah perjuangan, sebagai gambaran cita-cita yang ingin diteruskan oleh keturunannya.

Allah sangat suka setiap orang yang berdoa kepada-Nya. Jangankan doa dalam bentuk permintaan, bahkan doa sebagai permintaan ampun (tobat) atas berbagai kesalahan pun sangat Allah sukai dan cintai. Di saat Allah belum mengabulkan doanya itu, Nabi Ibrahim menjadikan momen ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sedekat-sedakatnya.

Di saat semikian, Allah menyambutnya dengan sambutan hangat. Dia menyampaikan Nabi Ibrahim akan menjadikan imam bagi umat manusia. Gayung sambut. Nabi Ibrahim membalas sambutan Allah dengan doa agar keturunannya pun dimampukan Allah menjadi imam bagi segenap manusia.

Allah menangkap ada kemauan yang kuat dalam diri Nabi Ibrahim. Tinggal satu langkah lagi, yaitu diuji. Allah lalu menyampaikan satu pertanyaan besar kepada Nabi Ibrahim, apakah ia benar-benar mencintai Allah dan siap berkorban untuk-Nya? Nabi Ibrahim menjawab dengan lantang, tidak ada Dzat yang berhak dicintai kecuali Allah semata, dan ia siap mengorbankan semua yang dimiliki untuk membuktivannya.

Kasiapan iniah yanh Allah ambil sebagai janji Nabi Ibrahim jika kelak ia memiliki anak, bahwa kehadiran anak tidak akan mengurangi kecintaan Nabi Ibrahim kepada Rabbnya. Dalam waktu dekat, Allah pun mengaruniakan anak dari Rahim kedua istrinya. Kini, Nabi Ibrahim berada dalam puncak ujiannya, apakah ia mampu menempatinya? Wallahu a’lam (Ust. Edu)

LEAVE A COMMENT