. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Demi Masa

Kita tahu bahwa dalam sehari semalam ada 24 jam. Kita pun tahu bahwa pemaknaan terhadap waktu yang 2.4 jam itu bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Ada yang memaknai waktu sebagai uang sehingga dia memfokuskan waktunya untuk mencari, mengumpulkan, dan menumpuk kekayaan. Ada yang memaknai waktu sebagai ilmu sehingga seseorang pada siang-malam mencari, meneliti, menulis, dan membagikan ilmu. Ada pula yang memaknai waktu sebagai modal untuk beribadah dan beramal saleh sehingga waktu yang 24 jam tersebut digunakannya untuk mengabdi kepada Allah.

Simpulannya, dalam 24 jam . tersebut, ada yang memanfaatkannya dengan sangat baik, ada yang biasabiasa saja, ada pula yang acuh tak acuh, bahkan ada yang membuang-buangnya begitu saja. Kita termasuk yang mana? Walau penggunaan waktu bisa berbeda-beda, tetapi semua sepakat bahwa kunci keberhasilan atau kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh keberhasilannya dalam mengatur waktunya.

Bandingkanlah dua orang ibu berikut. Ibu pertama memiliki 13 orang anak. Adapun ibu kedua hanya memiliki satu anak. Kita bisa memprediksi bagaimana sibuknya seorang ibu yang memiliki 13 orang anak. Akan tetapi, apa yang terjadi?

Ini dalah kisah nyata. Ibu dengan 13 anak tersebut bisa mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang sukses.Bahkan, ada di antaranya yang hafal Al-Quran 30 juz. Sebaliknya, ibu dengan satu anak tersebut hanya bisa mendidik anaknya dengan standar yang biasa-biasa saja padahal waktunya dalam mendidik anak jauh lebih leluasa daripada ibu dengan 13 anak.

Mengapa dua kasus cara mendidik anak seperti yang telah diceritakan itu bisa berbeda, apa rahasianya? Jawabannya ternyata ada pada cara mengatur waktu dengan baik dan benar. Inilah ilmu manajemen waktu yang aplikasinya membutuhkan niat, semangat, kesungguhan, dan kebersamaan.

Di sini kita layak bertanya, apabila kita berposisi sebagai seorang yang sangat sibuk dengan pekerjaan, sudahkah kita memperhitungkan waktu untuk keluarga? Untuk pasangan dan anak-anak? Dan, tentu saja untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak?

Saudaraku, pasangan dan anak-anak kita adalah pihak yang teramat mengharapkan kita. Mereka menginginkan perhatian, kasih sayang, belaian, serta peluk-cium dari kita. Apa yang mereka butuhkan bukan sekadar harta benda yang sering diagung-agungkan. Hati mereka tidak terbuat dari sebongkah batu yang tidak memiliki perasaan rindu, sedih, dan bahagia. Ke dalam hati mereka Allah Ta’ala instalI-kan emosi atau perasaan. Maka, seperti halnya manusia yang lain, mereka memiliki keinginan untuk disayangi, dicintai, diperhatikan, dirindui, dibelai, dipeluk, dan dicium. Itulah fitrah yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada kita.

Teteh teringat sebuah cerita nyata tentang bagaimana beratnya penyesalan dan kesedihan seorang ibu. Mengapa? Dia teramat sedih saat menyadari bahwa anak kandungnya lebih menyayangi pengasuhnya daripada dirinya sebagai ibunya. Ketika ibu ini sakit, si anak hanya meresponsnya dengan ucapan, “Mama cepat sembuh, ya!” Itu saja, tidak lebih! Akan tetapi sebaliknya, ketika pengasuhnya sakit, si anak berusaha keras agar pengasuhnya itu lekas sembuh. Dia rela mengorbankan apapun demi kesembuhan pengasuhnya.

Setelah merenung, ibu ini barusadar bahwa dirinya banyak berlaku tidak adil kepada anaknya. Dia hanya mementingkan kariernya dan keberlimpahan materi daripada anak kandungnya sendiri. Dia habiskan sebagian besar waktunya untuk pekerjaannya di luar rumah. Adapun anaknya, dia lebih banyak mendapat perhatian, belaian dan kasih sayang dari pengasuhnya, bukan da1i ibu yang telah melahirkannya.

Si ibu pun akhirnya sadar bahwa perlakuan sang anak kepada dirinya adalah “balasan” atas ketidakadilannya dalarn memprioritaskan waktu. Dia lebih memilih hal yang kurang penting, yaitu karier dan harta kekayaan dengan mengabaikan hal yang paling penting, yaitu anaknya.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa optimal dan efektif dalam memanfaatkan waktu?

Satu hal yang harus kita lakukan adalah membuat program atau jadwal kegiatan yang akan kita lakukan, mulai dari jadwal harian, mingguan, bulanan, bahkan sampai tahunan. Adanya jadwal akan membatasi diri dari melakukan aneka kegiatan yang kurang bermanfaat dan menyita waktu, semisal menghabiskan waktu untuk menonton sinetron, infotainment, ngerumpi, dan lainnya.

Bagi orang-orang beriman, mengatur waktu adalah bagian dari ibadah yang sangat besar pahalanya di sisi Allah. Bagaimana tidak, Zat Yang Mahakuasa telah mengingatkan segenap hamba-Nya agar tidak terjerumus ke dalam kerugian hanya karena menyia-nyiakan anugerah waktu.

Terungkap dalam surah Al-‘Ashr ayat 1-3, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati agar menaati kebenaran dan saling menasihati agar menetapi kesabaran.”

Rasulullah saw. pun telah mewasiatkan kepada kita agar menggunakan lima waktu kita sebelum datang lima yang lainnya, yaitu: (1) masa muda sebelum datang masa tua,(z) masa kaya sebelum datang masa miskin, (3) waktu luang sebelum datang waktu sibuk, (4) waktu sehat sebelum datang waktu sakit, dan (5) waktu hidup sebelum datangnya kematian.

Pada intinya, agar waktu kita full manfaat, semua yang kita lakukan dalam kerangka ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Dengan demikian, berdiri, duduk, dan berbaringnya kita, semua bernilai ibadah di sisi Allah. Tidak hanya shalat, shaum, tilawah, sedekah, dan berhaji saja, makan, minum, mandi, mengurus anak, atau bekerja pun semuanya itu dicatat sebagai ibadah sehingga tidak ada satu pun yang siasia. Adapun dalilnya, bisa kita lihat dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56, “Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya.”

Berdasarkan pemahaman ini, kita harus mengazamkan dalam diri bahwa semua yang kita lakukan harus bernilai ibadah. Bagi seorang suami, jadikan aktivitas mencari nafkahnya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Apabila kita seorang istri, jadikan semua aktivitas mengurus rumah tangga sebagai ibadah. maka, saat menunggui anak di sekolah misalnya, kita bisa memanfaatkannya untuk memperbanyak zikir, muraja’ah, hafalah alquran, membaca buku, berbagi ilmu, atau aneka aktivitas yang bermanfaat dan tidak melalaikan kita dari Allah.

Sederhananya, satu aktivitas akan bernilai ibadah apabila kita meniatkannya karena Allah, baik secara hati, lisan, maupun perbuatan. Secara hati, kita mengazamkan bahwa apa yang kita lakukan semata-mata untuk meraih keridhaan Allah. Lalu, amalan hati ini kita pertegas secara lisan, yaitu dengan mengucapkan hamdalah atau doa. Adapun secara perbuatan, apa yang kita lakukan tidak melanggar aturan Allah dan dilakukan sesuai dengan arahan Rasulullah saw.

Di sini pun ada satu hal yang harus sangat kita perhatikan. Apakah itu? Kita harus adil dalam beramal. Artinya, kita tidak boleh melalaikan kepentingan duniawi karena terlalu fokus beribadah (ritual); atau sebaliknya terlalu fokus mengejar dunia sedangkan kepentingan akhirat terlupakan.

Diriwayatkan bahwa ada seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. tentang perilaku suaminya yang tidak adil. Dia lebih fokus beribadah sehingga hak istrinya terabaikan. Bagaimana tidak, pada siang hari suaminya berpuasa, lalu pada malam hari, dia mengabiskan waktunya untuk shalat dan berzikir.

Rasulullah saw. kemudian memanggil suami wanita itu dan menanyakan kebenaran berita yang beliau terima. Lak!laki itu menjawab, “Benar, ya Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah saw. berkata, “Kembalilah kepada istrimu karena dia memiliki hak atas dirimu.

Tahun demi tahun berlalu dengan kesenangan, sepertinya dia begitu cepat terbang. Hari hari pun datang dengan kesusahan, seolah dia begitu iambat tuk menghilang. Akhirnya, masa-masa pun berkesudahan, seakan mimpi di waktu siang.  Itulah karakteristik waktu: cepat sekali berlalu. Dia pun tak dapat kembali dan diganti apabila sudah pergi.

Maka, benarlah apa yang dikatakan AI-Imam ‘ Hasan Ai-Bashri rahimahullah, bahwa tidaklah fajar hari ini terbit, kecuali dia akan memanggil, “Hai anak Adam, aku adalah ciptaan baru dan aku akan jadi saksi atas pekerjaanmu. Maka, mintalah bekal kepadaku karena aku takkan  kembali lagi sampai Hari Kiamat apabila telah berlalu”.

(Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT