. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Dari Wakaf, Daarut Tauhiid Centre Australia Berdiri

Muslim Indonesia di Perth Australia merasa bahagia dan terharu, saat Daarut Tauhiid (DT) berhasil membebaskan lahan dan bangunan untuk dijadikan Daarut Tauhiid Centre. Berkat dana wakaf yang dihimpun KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) bersama Wakaf DT, lahan seluas 1400 meter persegi berhasil dibebaskan di 214 Nicholson Road, Longford, Perth, Australia.

Sebuah bangunan, yang dulunya digunakan sebagai rumah ibadah agama lain, berdiri di atas lahan tersebut. Bangunan dengan luas sekitar 750 meter persegi itu difungsikan menjadi masjid. Aa Gym menamainya Masjid al-Latief.

Masjid yang tepat berada di sisi jalan utama itu mampu menampung 88 orang salat berjamaah. Angka itu didapat berdasarkan lahan parkir yang mampu menampung 22 kendaraan roda empat, dengan aturan setiap mobil mampu menampung empat orang. Jika melebihi jumlah itu, kemudian mengganggu orang lain, maka ada sanksi hukum yang harus diterima. Begitulah aturan di Australia.

 

Masjid Indonesia Pertama di Perth Australia

Aa Gym bersama Gatot Kunta Kumara, Ketua Yayasan DT; Iskandar, Bendahara Yayasan DT; dan belasan santri serta beberapa masyarakat sekitar Masjid al-Latief melakukan salat subuh pertama, pada Rabu (24/10), di Masjid al-Latief

Momen salat subuh itu menjadi sejarah luar biasa bagi muslim di Perth. Karena untuk pertama kalinya, muslim Indonesia salat di “masjid sendiri”. Karena ketatnya peraturan, belum ada Masjid Indonesia satu pun di Perth sebelumnya. Masjid al-Latief Daarut Tauhiid Centre menjadi catatan sejara baru bagi Muslim Indonesia di Perth, sebagai Masjid Indonesia pertama di sana.

Hal itu terjadi bukan berarti Muslim Indonesia di Perth tinggal diam untuk memiliki “masjid sendiri”. Pada tahun 1995, dua tahun setelah adanya konsulat Indonesia di Perth, Muslim Indonesia di Perth membentuk Persatuan Muslim Indonesia (PIMSI), sebagai awal perjuangan untuk mendirikan Masjid Indonesia.

Setelah itu, organisasi dan pengajian Muslim Indonesia bermunculan, di antaranya Cahaya Hati, NU Westren Australia (WA), Muhammadiyah WA, dan Karyawan Indonesia Perth Australia (Kipas). Pada tahun 2015, terbentuklah Indonesian Ukhuwah Centre (IUC) menjadi wadah berbagai organisasi dan pengajian di Perth, untuk bersama mendirikan masjid muslim Indonesia.

Pada tahun 2017, Aa Gym mulai berdakwah ke Australia. Melihat perjuangan Muslim Indonesia di sana, Aa Gym tergerak untuk ikut membantu mendirikan Masjid Indonesia di sana.

Setahun kemudian, pada Oktober 2018 perjuangan itu berbuah manis. Sebuah rumah ibadah agama lain yang sudah tidak dipakai bisa dibebaskan dengan harga 7,8 milyar, dengan dana wakaf, setelah proses legal yang cukup panjang dan menguras banyak sumber daya. Itulah lahan yang dijadikan Daarut Tauhiid Centre, dengan Masjid al-Latief atasnya.

Pada Jumat (26/10), Peresmian Masjid al-Latief Daarut Tauhiid Centre dilakukan. Peresmian Masjid al-Latief DT Centre dilakukan oleh Aa Gym dan disaksikan oleh tokoh-tokoh muslim Indonesia di Perth, di antaranya Dede Sujatna, sesepuh muslim Indonesia yang menjadi dosen di Curtin University; Ustaz Mumu Mubarok, Ustaz Achmad Abdul Jalil, dan Ustaz Erwin Faza.

Berbagai organisasi muslim Indonesia juga turut menghadiri, seperti Cahaya Hati, Muhamadiyah WA, dan NU WA. Tidak ketinggalan tetanga sekitar masjid, termasuk nonmuslim. Tercatat sebanyak 135 orang yang menghadiri momen bersejarah itu.

 “I am very happy, all of you come here. And I hope this place (can be) beautiful place (with) beautiful activity (that) can be beneficial for the people, not only for muslim, but also for everyone, because Islam comes for Rahmatan Lil Alamin. Islam (does) not come only for muslim, not only for mukmin, but Rahmatan Lil Alamin; for plants, for animals, for everything, especially for human*,” tutur Aa Gym saat peremian Masjid al-Latief Daarut Tauhiid Centre.

 

Wakaf Masjid Lintas Batas

Deni Nugraha, salah seorang pengurus Indonesian Ukhuwah Centre merasa bersyukur, Muslim Indonesia akhirnya memiliki “masjid sendiri”. Sebagai pengurus IUC, Deni mengatakan, DT Centre dengan Masjid al-Latiefnya akan digunakan untuk memaksimalkan Syiar Islam di Australia, khusunya di Perth.

“Alhamdulillah kita sudah memiliki “masjid sendiri” yang sudah kita usahakan berpuluh-puluh tahun untuk memiliki masjid. Alhamdulillah dengan kedatangan DT dan kehadiran Aa Gym, kita mendapatkan Masjid al-Latief, yang insya Allah akan kita makmurkan bersama, kita niatkan mensyiarkan Islam, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Australia, khususnya di Perth,” ungkap Deni.

Perjuangan pembebasan lahan untuk Daarut Tauhiid Centre belum berakhir. Pembebasan lahan dan bangunannya itu masih memilki kekurangan dana. Butuh sebesar 2,8 milyar lagi untuk membebaskannya menjadi Daarut Tauhiid Centre seutuhnya.Wakaf DT memberikan peluang kepada siapa saja untuk ikut membebaskan lahan Daarut Tauhiid Centre sekaligus meraih rumah di surga, dengan Wakaf Masjid Lintas Batas.

Selain ditunaikan di Kantor Wakaf, Wakaf Masjid Lintas Batas bisa ditransfer melalui BNI Syariah; 48005 48005 atau Mandiri; 13200 6612 6666. Semua atas nama Yayasan Daarut Tauhiid. Untuk informasi lebih lengkap dan konfirmasi wakaf bisa menghubungi call Centre Wakaf DT; 085 200 123 123.(Agus)

 

*Saya sangat bahagia, Sahabat semua bisa hadir di sini. Dan saya harap masjid ini menjadi tempat yang sangat baik dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat semua orang, bukan hanya orang muslim, tapi setiap orang. Karena Islam datang sebagai Rahamtan Lil Alamin. Islam bukan hanya untuk muslim, bukan hanya untuk mukmin, tetapi Rahmatan Lil Alamin; untuk tumbuhan, untuk hewan, untuk semuanya, terutama untuk manusia.

 

LEAVE A COMMENT