. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Dahsyatnya Wakaf Produktif

Bicara wakaf uang, saat ini sudah ada 17 perbankan syariah yang telah ditetapkan sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang. Ada tambahan dua bank. Pada 2016 baru 15 bank. Dua yang terbaru adalah Bank BRI Syariah dan BPD Sumatera Selatan.

Sementara itu, Nazhir wakaf uang yang sudah terdaftar di BWI sebanyak 173 nazhir wakaf uang. Semuanya berbadan hukum. Ada yang berbadan hukum yayasan dan ada yang berbadan hukum koperasi, yang bekerja sama dengan kementerian koperasi dalam proses seleksinya. Sampai dengan 1 Januari 2016, data penghimpunan wakaf uang oleh nazhir-nazhir wakaf uang yang sudah terdaftar di BWI baru mencapai Rp. 185 miliar.

Wakaf Produktif di Indonesia

Berkaca kepada pengelolaan wakaf di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Mereka sudah mengelola wakaf secara produktif. Dengan dikelola secara produktif, manfaat aset wakaf pun benar-benar dirasakan umat. Bukan hanya pahala mengalir yang diraih oleh para wakifnya. Tetapi, perekonomian umat pun menjadi meningkat.

Di Singapura misalnya, melalui perusahaan Warees Investments, dimana seluruh sahamnya dimiliki Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), umat Islam di Negeri Singa itu sudah memiliki aset wakaf produktif, berupa 114 ruko, 30 perumahan, dan 12 gedung apartemen dan perkantoran. Keuntungan dari pengelolaan wakaf produktif tersebut digunakan untuk membiayai operasional masjid, madrasah, beasiswa, dan lain-lain.

Sementara itu di Malaysia, Kumpulan Waqf An-Nur sukses membangun beberapa klinik dan rumah sakit. Hasil dari keuntungan wakaf mereka gunakan untuk kepentingan anak yatim beasiswa, orang miskin, anak yatim dan lain-lain.

Patut disyukuri bahwa wakaf produktif sudah bukan lagi wacana, tetapi sudah dipraktikkan di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya mulai menunjukkan kemajuan yang patut dibanggakan dan dicontoh nazhir-nazhir yang lain.

Salah satu di antaranya Wakaf Daarut Tauhiid (DT). Lembaga yang ada sejak tahun 1999 ini mengelola aset wakaf secara produktif dengan menjadikannya pertokoan, gedung serba guna, penginapan, swalayan, serta ternak lebah madu. Hasil dari keuntungannya digunakan untuk operasional nazhir, biaya dakwah, dan pengembangan aset wakaf lainnya. Masyarakat juga terbantu untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan adanya aset-aset wakaf produktif itu.

Di tahun 2018, Wakaf DT bahkan menggulirkan Program Wakaf Ketahanan Pangan, yakni program pengelolaan aset wakaf berupa lahan persawahan secara produktif. Pengelolaannya diakukan oleh petani peggarap yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Sampai September 2018, sudah ada dua lahan di dua tempat berebeda yang dikelola, di Subabumi dan Banjara, Kabupaten Bandung.

Guna meningkatkan perkembangan wakaf produktif, Badan Wakaf Indonesia telah menginisiasi pembentukan Forum Wakaf Produktif. Forum ini diisi para pengurus nazhir yang sudah mengembangkan wakaf produktif termasuk Wakaf DT. farum ini difasilitasi untuk mengadakan rapat dan pertemuan di kantor BWI, membuat proyek wakaf bersama, mendata berbagai permasalahan perwakafan dan mencarikan solusinya.

BWI juga bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti Kementerian Agama, Kementerian Koperasi, Bank Indonesia, MUI, Kementerian Kesehatan, dan lembaga-lembaga lain. Karena urusan wakaf itu bersinggungan dengan banyak hal, maka hubungan yang dibangun pun dengan berbagai lembaga dan instansi. (Sumber: berbagai sumber)

LEAVE A COMMENT