. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Ciri Pribadi Dewasa

Saudaraku, cukuplah kita menjadi orang yang diridai Alloh. Tambah umur tapi tidak identik tambah dewasa.  Tambah umur tidak perlu keterampilan apa-apa dan menjadi tua dengan sendirinya, tapi menjadi matang dan dewasa ini perlu mujahadah, perlu perjuangan. Mari kita terjemahkan mengenai kata dewasa.

D artinya punya kemampuan diam aktif.  Karena diam ada macamnya. Ada yang diam bodoh, dia tidak mengerti apa-apa makanya diam. Ada diam marah. Ingin berbicara takut tapi hati membara tapi tetap diam. Ada diam jaim (jaga image)  ingin terlihat wibawa, maka dia memilih diam padahal sebenarnya bodoh. Ada juga diam menjerumuskan yaitu sengaja diam, supaya diskusinya kacau padahal dia tahu yang benar. Maka diam yang benar adalah diam faliakul khairat auliasmut artinya berkata baik, benar atau diam.

Diam yang merupakan hasil pemikiran, hasil pilihan terbaik. Manusia berkualitas jika bicara ada cirinya. Ciri pertama adanya zikrullah, selalu terkait kepada Alloh. Ciri yang kedua jadi ilmu bagi yang mendengarnya. Ciri ketiga jadi hikmah yang membuka hati orang yang menyimaknya. Dan keempat jadi solusi, bukan hanya sekadar bicara tapi jadi solusi.

Orang yang dewasa berpikir berlipat-lipat sebelum berbicara. Orang yang dewasa, dia tidak mau mengeluarkan kata-kata hina. Ingat, teko hanya mengeluarkan isi teko.

E artinya Empati. Kedewasaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia bisa pindah perasaannya ke orang lain. Orang yang empati ia menjadi bijak, karena mengetahui apa yang dirasakan orang lain. Saudaraku, mari kita berjiwa empati. Latihan untuk meraba. Makanya orang empati itu jarang berdebat, karena debat itu mencari kemenangan nafsu bukan kebenaran.

W artinya waro yaitu hati-hati. Orang dewasa seperti berjalan di atas onak dan duri. Seperti kisah Umar Bin Abdul Azis. Ketika ada urusan negara, dia menyalakan lampunya, namun ketika anaknya datang lampu dipadamkan. Kenapa dipadamkan? Karena minyaknya uang negara.

Begitu juga dengan kisah nabi Muhammad saw, gelar yang disandangnya adalah al-Amin, jujur tepercaya. Setiap perkataan pasti benar, tidak ada bohong. Setiap janji pasti ditepati. Setiap amanah tidak pernah dikhianati.

A artinya adil. Berlaku adillah, adil itu lebih dekat kepada takwa. Adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bersikap adillah bahkan kepada musuh sekali pun, tidak boleh zalim. Sikap adil ini sesuai dengan firman Alloh dalam surah al-Maidah [5] ayat 8 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Alloh, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Alloh, sungguh, Alloh Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

S artinya sabar. Sabar itu menahan diri, mengendalikan diri, sehingga keputusan yang kita lakukan adalah yang Alloh sukai. Sabar itu bukan diam, bukan pasrah. Tapi sabar itu sebuah energi kita mengendalikan diri. Kita melepaskan energi itu di jalan yang Alloh sukai.

Makin tidak bisa mengendalikan diri, makin bermasalah. Semua dosa dan masalah didasari ketidaksabaran dalam tiga hal:

Tidak sabar dalam taat.

Tidak sabar ketika menjauhi maksiat.

Tidak sabar ketika menghadapi musibah.

Maka, penting sekali bagi kita mujahadah mengendalikan diri. Karena kalau diri ini tidak terkendali, hidup hanya mengandung masalah demi masalah. Semua maksiat adalah buah dari ketidaksabaran.

A artinya amanah. Tanggung jawab ini sebuah kehormatan, sebuah harga diri, sebuah kebahagiaan. Maka, jangan pernah lari dari tanggung jawab. Hidup harus punya kehormatan, bukan pangkat, bukan gelar bukan jabatan harus melekat pada diri kita. Karena topeng ini akan dicopot. Wallahu ‘alam bishawab. (KH. Abdullah Gymanastiar)

 

 

 

 

 

 

LEAVE A COMMENT