. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Berwakaf, Amalan Orang Cerdas

Orang cerdas ternyata bukanlah mereka yang memiliki titel hingga prefesor atau mereka yang berhasil menjadi inventor (penemu). KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Pembina Wakaf Daarut Tauhiid (DT) menjelaskan, orang yang cerdas bukanlah mereka yang memiliki pendidikan tinggi atau harta berlimpah.

Aa Gym menyebutkan orang cerdas itu memiliki dua ciri, yakni orang yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkannya. Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas.” (HR. at-Tirmidzi)

Menurutnya, kematian itu memiliki tiga rahasia. Pertama, waktunya. Kedua, tempatnya. Ketiga, caranya.  Manusia tidak pernah tahu kapan, dimana, dan bagaimana nyawa terlepas dari raganya. Itu semua menjadi rahasia Allah SWT. Alasannya, agar manusia senantiasa mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Ia pun menuturkan, orang cerdas sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Ada kehidupan abadi di akhirat. Makanya, mereka sangat memperhatikan bekal kehidupan setelah mati.

Aa Gym mengatakan, ada satu amalan yang menjadi bekal bagi mereka yang cerdas tersebut. Amalan itu merupakan amal jariyah yang terus mengalirkan pahala hingga hari kiamat. Itulah wakaf, amalan orang-orang cerdas.

“Jadi, selain mengingat kematian, kita juga mempersiapkan kehidupan sesudah mati. Nah, salah satu amal yang ngalir tidak berhenti, yang gak bisa direm sampai kiamat. Makanya, ada sebuah keluarga yang kalau mendengar wakaf teh hejo,” ungkap Aa Gym.

Amalan wakaf ini sangat dicintai oleh Rasulullah saw. Beliau sendiri yang menjadi pelopor wakaf dalam sejarah Islam. Rasulullah saw juga mengajak kepada para sahabat dan umat Islam melaksanakan amalan yang disyariatkan sejak tahun kedua hijriah ini.

Rasulullah saw menegaskan, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang shalih. (HR. Muslim). Imam Ash-Shan’ani, dalam kitab Subul As-Salam, menyebutkan, “Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf.” Wallahualam bishawab. (Agus Iskandar)

 

 

 

LEAVE A COMMENT