. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Bersyukur, Satu Keluarga Pilih Pahala Mengalir Abadi

“Jadi ini harta terbesar kami. Untuk bangunan, tanah, dan sebagainya itu, kami sudah menghabiskan 1,5 M. Ini adalah hasik kerja keras kami berdua,” ungkap Neneng di hadapan  tim Wakaf DT, pertengahan Desember lalu.

Neneng dan Dwina, pasanan suami-istri sekaligus rekan dalam bekerja menghabiskan waktu 16 tahun untuk memiliki sebidang tanah yang di atasnya dibangun kos-kosan itu. Tidak seperti keluarga lainnya yang membuat barang paling berharga menjadi harta warisan atau investasi jangka panjang di dunia, mereka lebih memilih menjadikan hartanya mengalirkan pahala yang terus bertambah. Mereka memilih mewakafkannya.

Sebagai Tanda Syukur

Neneng mangaku, memilih mewakafkan aset terbesarnya sebagai tanda syukur kepada Allah SWT. Dia bersama keluarga merasa selalu diberi keberkahan, termasuk dalam bisnisnya. DI saat Neneng bersama suami berkomitmen untuk tidak melibatkan riba dalam setiap langkah usahanya, Allah memberikan kemudahan dan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapi.

“Ini adalah persembahan kami, tanda rasa syukur kami. Sekian belas tahun kamu beriwiraswasta. Rasa syukur kami kepada Allah SWT,” kata Neneng Mantap.

Neneng dan keluarga meyakini setiap barang yang diwakafkan merupakan harta yang sebenarnya dimiliki. Berbeda dengan harta biasa yang hanya habis di dunia dan terputus manfaatnya, harta yang diwakafkan akan terus mengalirkan pahala dan “dibawa” sampai akhirat kelak. Mereka memilih wakaf asrama tahfiz untuk dhuafa. Kos-kosan yang mereka wakafkan nantinya akan dijadikan asrama tahfiz dan wakaf produktif sebagai pendukung program tahfiznya.

Selain diakadkan atas nama mereka berdua, Wakaf itu juga diakadkan untuk kedua anak laki-lakinya. Mereka berharap cara mereka bersyukur itu bisa menjadi teladan bagi kedua buah hatinya dan menjadi “warisan” bagi mereka. Kedua anaknya diharapkan memiliki tanggung jawab untuk terus membantu perkembangan asrama tahfiz itu dan bisa berwakaf lebih dari mereka.

Wakaf yang mereka tunaikan juga diakadkan untuk kedua ibu yang memberikan mereka kehidupan dan membesarkan mereka berdua, yakni ibu dari Neneng dan Ibu dari Dwina. Wakaf ini menjadi salah satu bakti anak kepada ibunya.

“Kami persembahkan untuk keluarga kami, ibu saya, ibunya pak Dwina. Kami juga tidak mau mendapat jariah ini sendirian, karena kamu seperti ini karena hasil doa dari orangtua. Kemudian ada dua putra kami menjadi muwakif, karena mereka juga ingin terlibat. Supaya kelak, setelah mereka mapan, ada rasa kewajiban. Nih dulu ada seperti ini, tolong kalau punya rezeki tetap disalurkan. Intinya ada monumenlah buat kami,” jelas Neneng.

Ajal Datang Tanpa Bicara

Neneng mengatakan, niat untuk berwakaf sudah ada sejak dulu. Biaya besar untuk menempuh pendidikan kedua anak mereka membuat wakaf menjadi tertunda. Namun, Neneng dan keluarga kembali diingatkan bahwa kematian itu datang tanpa bicara.

Kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu menjadi pengingat bagi Neneng dan keluarga bahwa kematian bisa datang kapan saja. Mereka langsung ingat bekal yang harus mereka bawa. Dalam suatu kajian, Neneng diingatkan bahwa ada tiga amal yang pahalanya tidak terputus, salah satunya adalah wakaf. Dan wakaf terbaik itu adalah wakaf untuk asrama tahfiz.

“Karena peristiwa kecelakaan pesawat itu membuat kami, berpikir, mendingan sekarang aja dech. Lebih baik diserahkan sekarang. Apalagi kami mendengar, ini cuma alih kepemilikan, dalam arti dunia. Padahal ini sesungguhnya yang akan kita bawa. Dan kami juga tidak tahu, umur saya, umur pak Dwina sampai kapan. Sementara anak-anak kami masih kecil. Orangtua kami dua-duanya sudah sepuh,” tutur Neneng sambal berkaca-kaca.

Suasana haru begitu terasa sesaat setelah pernyataan wakaf dilakukan. Binar mata bahagia bercampur dengan tangis bahagia. Ibu dari Neneng dan Dwina,  yang juga menyaksikan pernyataan wakaf anaknya, tidak sanggup menitikan airmata. Doa yang dipanjatkan oleh ustaz Fahrudin pun terasa khidmat dan penuh kekhusuan.

 

Memilih Wakaf DT

Keduanya, baik Neneng, maupun Dwina menginginkan aset yang diwakafkan dikelola secara professional. Oleh karena itu memilih lembaga wakaf profesional besar dan berpengalaman. Pilihan itu jatuh ke Wakaf DT.

“Suatu badan yang kami anggap kredibel untuk mengelola aset tersebut, karena ya itu tadi, harapan kami wakaf ini jadi amal jariyah, terus mengalir. Tidak hanya satu generasi, pengeleloaannya tidak jelas. Insya Allah ini dikelola secara professional, sehingga generasi seterusnya bisa menggunakannya,” jelas Dwina.

“Kami memilih Daarut Tauhiid karena ini Lembaga besar sudah lama. Artinya sudah memiliki SOP dalam mengelola aset wakaf, supaya tetap amanah sesuai akad muwakif,” tambah Nenang. (Agus)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A COMMENT