. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Bersegera Menguburkan Jenazah

Ketika seseorang menghembuskan nafas terakhir, semua sistem pertahanan tubuh hilang sehingga bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan masuk ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah. Ini merupakan media terbaik bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri anaerob akan menyebabkan terjadinya hemolisa, pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trombus atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusuk. Bakteri pembusuk akan berkembang biak dengan sangat cepat menuju ke jaringan ikat dinding perut yang menyebabkan perubahan warna pada jenazah.

MENURUT pandangan Islam, ada sejumlah hal yang harus disegerakan. Satu di antaranya adalah menguburkan jenazah. Terungkap dalam sebuah hadis, ”Bersegeralah lam mengurus jenazah, karena jika dia baik maka engkau telah memajukan suatu kebaikan untuknya, dan jika tidak telah “kau menurunkan suatu kejelekan dari lehermu ” maka eng (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Hadis ini menginformasikan bahwa menyegerakan proses penguburan jenazah, setelah sebelumnya dimandikan, dikafani, dan disalatkan akan membawa kebaikan bagi si jenazah maupun orang yang ditinggalkannya. Dengan menyegerakan pemakaman, kita seakan mempercepat satu kebaikan bagi jenazah tersebut, yaitu dia dapat ”segera kembali” kepada Allah Ta’ala dan ”mempercepat urusannya”, terlebih apabila dia termasuk orang yang saleh. Namun, ketika kita menunda-nunda pemakaman, apalagi dengan alasan yang tidak syar’i, kita telah mencederai haknya dan membuka timbulnya kemudharatan bagi yang hidup.

Apa kemudharatan yang dimaksud? Ada banyak interpretasi di sini. salah satunya dari aspekkesehatan, yaitu kemungkinan tersebarnya bibit penyakit yang bersarang di tubuh jenazah. Dalam dua jam tanpa nafas, bakteri anaerob yang ada di dalam tubuh akan bekerja dalam proses pembusukan. Pembusukan sendiri merupakan sebuah proses penghancuran jaringan pada tubuh yang umumnya disebabkan oleh bakteri anaerob yang berasal dari traktus gastrointestinal, di mana basil Coliformis dan Clostridium Welchii sebagai aktor utamanya.

Adapun bakteri yang lain seperti Streptococcus, Staphylococcus, B. Proteus,jamur dan enzim-enzim seluler juga memberikan kontribusinya sebagai organisme penghancur jaringan pada fase akhir dari pembusukan. Darah yang berhenti beredar pun menjadi medium mikroba-mikroba patogen tersebut yang dapat membahayakan lingkungan, khususnya manusia di sekitarjenazah.

Ketika seseorang menghembuskan nafas terakhir, semua sistem pertahanan tubuh hilang sehingga bakteri yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan masuk ke jaringan tubuh melalui pembuluh darah. Ini merupakan media terbaik bagi bakteri untuk berkembang biak. Bakteri anaerob akan menyebabkan terjadinya hemolisa, pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum dan sesudah mati, pencairan trambus atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas pembusuk. Bakteri pembusuk akan berkembang biak dengan sangat cepat menuju ke jaringan ikat dinding perut yang menyebabkan perubahan warna pada jenazah

Walaupun proses pembusukan terjadi tidak lama setelah seseorang menjadi mayat, tetapi tanda pembusukan yang kasat mata, yaitu berupa munculnya warna kehijauan pada dindingabdomen bagian bawah yang kemudian meluas ke seluruh dinding abdomen sampai ke dada dan selanjutnya tercium bau busuk, baru terjadi sekitar 24-48jam setelah kematian. Proses pembusukan yang bertahap seperti ini merupakan sebentuk kasih sayang Allah Ta’ala. Artinya, orang yang hidup diberi tenggang waktu melakukan proses pemulasaraan jenazah, mulai dari memandikan sampai menguburkan. Dalam jangka waktu tersebut, sebelum jenazah membiru dan membusuk, kita diwajibkan segera menguburkannya sehingga risiko menyebarnya kemudharatan berupa bau busuk dan penyebaran bibit penyakit dapat dihindari.

Dengan mempercepat proses penguburan, kita pun telah mengondisikan seluruh bagian tubuh jenazah-yang kini tersusun dari sel-sel mati-agar segera terurai di dalam tanah. Sel-sel yang tidak terurai dapat mengakibatkan memori dari molekul CREBP yang berisi catatan amal orang tersebut, tidak dapat dilepas ke alam dan diproses sebagai catatan kehidupan.Wallahu a’lam. (Dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes)

LEAVE A COMMENT