. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Belajar dari Wakaf Pendidikan di Timur Tengah

Wakaf berarti menghentikan perpindahan hak milik atas suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama dengan cara menyerahkan harta itu kepada pengelola, baik perorangan, keluarga, maupun lembaga untuk digunakan bagi kepentingan umum di jalan Allah SWT.

Sepanjang sejarah Islam, wakaf telah memerankan peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan soial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Islam. Selain itu, keberadaan wakaf juga telah banyak memfasilitasi para sarjana dan mahasiswa dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai untuk melakukan riset dan pendidikan sehingga dapat mengurangi ketergantungan dana pemerintah.

Didin Hafidhuddin dalam bukunya yang berjudul Islam Aplikatif menerangkan sumber-sumber wakaf tidak hanya digunakan untuk membangun perpustakaan, ruang-ruang belajar, tetapi juga untuk membangun perumahan siswa, kegiatan riset, seperti untuk jasa-jasa fotokopi, pusat seni, dan lain-lain.

Mohd Ali Muhamad Don dalam karyanya yang berjudul Peranan Wakaf Untuk Membangun Pendidikan Tinggi menjelaskan, sejarah perkembangan lembaga pendidikan wakaf (IPW) terkait erat dengan pembangunan masjid.

Nabi Muhammad SAW mendirikan konstruksi Masjid Quba dengan dana wakaf dan Masjid al-Nabawi di atas tanah wakaf dengan berbagai fungsi termasuk pusat penyebaran ilmu dan dakwah. Peran ini telah dimainkan sejak zaman awal Islam.

Selama pemerintahan Khalifah Umar al-Khattab, institusi pendidikan wakaf prasekolah yang dikenal sebagai kuttab diperkenalkan. Kuttab diambil dari kata taktib yang berarti mengajar menulis.

Ketika zaman pemerintahan Kerajaan Abbasiyah (750-1258M), Kota Baghdad telah menjadi pusat kegiatan intelektual. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Bayt al-Hikmah oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Bayt al-Hikmah merupakan pusat penerjemahan karya-karya Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab. Bayt al-Hikmah merupakan perguruan tinggi yang didanai oleh badan wakaf yang dipelopori oleh Khalifah al-Makmun di Baghdad.

Madrasah al-Nizamiyah atau juga dikenal sebagai Universitas Nizamiyah didirikan pada zaman pemerintahan Abbasiyah untuk menyebarluaskan ajaran Mazhab Ahlussunah waljamaah yang menjadi mazhab resmi Pemerintah Abbasiyah.

Sekolah tersebut didirikan pada 459 Hijriyah (1066-1067 M) oleh Nizam al-Muluk, yaitu seorang menteri dari pada bangsa Saljuk dan dianggap sebagai perguruan tinggi yang dibangun dalam Islam.

Ibnu Khaldun menyebutkan, Salahuddin al-Ayubi turut mewakafkan tanah pertanian, rumah-rumah, dan bangunan untuk tujuan pendidikan di samping Pemerintah Turki juga mewakafkan harta untuk tujuan pendidikan sehingga banyak siswa mendapat manfaat dengan pertambahan jumlah sarjana terkemuka.

Monzer Khaf dalam Financing The Development of Awqaf Property menambahkan, tanah wakaf pernah digunakan untuk membangun universitas selain membiayai peralatan pengajaran, honorarium untuk para guru, dan akomodasi siswa, baik yang lajang maupun sudah berumah tangga.

Mohd Ali Muhamad Don melanjutkan, Universitas Al-Azhar di Mesir merupakan lembaga pendidikan wakaf yang terulung dibangun oleh Pemerintah Fatimiyah pada 975 Masehi kemudian dikembangkan kembali pada tahun 1960 oleh Pemerintah Mesir.

Universitas ini dikelola dari harta wakaf yang mengutamakan kepentingan sektor pendidikan sehingga melahirkan banyak ilmuwan Islam tersohor. Dampak yang paling besar dari manfaat wakaf pendidikan ketika banyak siswa dari Asia dan Afrika melanjutkan pendidikan ke Mesir. (Sumber: Republika.co.id dengan Judul Mengenang Kejayaan Wakaf untuk Pendidikan)

LEAVE A COMMENT