. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Belajar Tangguh dari Keluarga Nabi Saw

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib ra. berkata kepada istrinya Fathimah ra. “Demi Allah, aku selalu mengambil air dari sumur hingga dadaku sakit. Ayahmu telah datang membawa seorang budak, pergilah dan mintalah budak itu sebagai pelayan kita.” Fathimah berkata, “Demi Allah, aku juga selalu menumbuk gandum hingga tanganku bengkak.”

Keduanya pun datang menghadap Rasulullah saw. meminta agar Rasulullah memberikan mereka budak sebagai pelayan. Akan tetapi, Rasulullah menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan memberi budak tersebut. Aku ingin memenuhi kebutuhan perut ahli shuffah (sahabat Rasulullah sejumlah kurang lebih 70 orang yang tinggal di bagian belakang Masjid Nabawi karena tidak memiliki punya harta dan tempat tinggal), tetapi aku tidak punya apa-apa untuk mereka. Jadi, aku akan menjual budak itu pada kalian agar uangnya bisa kuberikan pada ahli shuffah.”

Ali dan Fathimah pun pulang. Mereka kembali ke rumahnya dengan tangan hampa. Sesampainya di rumah, mereka menuju pembaringan lalu merebahkan diri di pembaringan, berselimutkan kain kasar.

Rasulullah saw. kemudian mendatangi mereka berdua di rumahnya. Mereka berdua kalang kabut ketika didatangi Rasulullah. Beliau bersabda, “Tetaplah di tempat kalian. Maukah kalian kuberi tahu tentang apa yang lebih baik dari permintaan kalian tadi?”

Keduanya menjawab, “Ya.”

Beliau bersabda, “]ika kalian hendak merebahkan diri di pembaringan kalian, bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33kali, dan bertakbirlah 34 kali. Ini semua lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pelayan.”

Kisah ini shahih, terdapat dalam beberapa riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, di antaranya HR Al-Bukhari ‘ No. 5843 dan No. 4942, juga HR Muslim No. 4906. Di dalam riwayat Muslim, ada tambahan bahwa Ali ra. berkata, “Saya tidak pernah meninggalkan bacaan tersebut semenjak saya mendengarnya dari Rasulullah.”

Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah saw. adalah sosok suami sekaligus ayah ideal dalam keluarga. Anas bin Malik mengatakan, “Aku tidak melihat ada seorang ayah yang lebih penyayang kepada keluarganya dari Rasulullah saw.” (HR Muslim)

Sebagai seorang ayah, beliau mampu memainkan setidaknya dua peranan penting, yaitu menjadi pembimbing dan sahabat terbaik.

Pertama, sebagai pembimbing, Rasulullah saw. mampu mendidik dan mengarahkan anak-anaknya menjadi sosok tangguh, cerdas, lagi berakhlak mulia. Beliau mampu mengeluarkan semua potensi terbaik yang dimiliki oleh keluarganya.

Hal yang sangat kentara adalah beliau tidak menyuruh orang lain sebelum beliau sendiri melakukannya. Setiap gerak-geriknya benar-benar pas untuk ditiru buah hatinya. Perannya sebagai f1gur ayah ideal mampu dijalankan dengan sangat sempurna. Dalam kisah ini, Rasulullah saw. mengajarkan Fathimah untuk hidup zuhud, sederhana, tidak mengeluh, apalagi sampai berputus asa. Beliau justru mengarahkan sang putri untuk membasahkan lisannya dengan zikrullah.

Tentu saja, sebelum mengajarkannya pada Fathimah, beliau mengamalkannya terlebih dulu. Ketika menginginkan anak bersikap A, beliau telah menjadikan sikap A tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya. Maka, Allah Ta’ala pun langsung menurunkan pujian kepada beliau, ‘Sesungguhnya telah ada pada ( diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan ( kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut ( mengingat) Allah.” (QS Al-Ahzab, 33:21)

Kedua, sebagai sahabat. Keteladanan yang bersumber dari akhlak mulia melahirkan “rasa aman” Fathimah. Apa hasilnya? Rasa aman inilah yang mendorong Fathimah “curhat” kepada ayahandanya tercinta.

Sesungguhnya orangtua yang baik tidak hanya menuntut anaknya mendengarkan apa yang dikatakannya, tetapi juga mampu mendengarkan apa yang dikatakan anaknya dengan empatif. Yang terlibat bukan hanya telinga, melainkan juga hati, pikiran dan mata. Inilah salah satu kunci penting dalam menjalin komunikasi efektif. Dengan mendengarkan seseorang akan lebih memahami. Adapun dengan memahami, dia akan mampu merespons lawan bicara dengan baik. Itulah yang dilakukan Rasulullah saw.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut (mengingat) Allah.” (QS Al-Ahzab, 33:21) (Ninih Muthmainnah)

 

LEAVE A COMMENT