. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Belajar Ikhlas Seperti Khalid Bin Walid

NAMA Khalid bin Walid terukir dengan tinta emas dalam sejarah Islam Khalid merupakan sosok panglima perang kepercayaan Rasulullah saw. Bahkan secara khusus Rasulullah memberikan gelar kepadanya dengan nama Syaifullah aI-MaskuL Artinya, pedang Allah yang terhunus Memang diakui dalam setiap peperangan yang dipimpin Khalid, atas izin Allah pasukan kaum muslimin selalu meraih kemenangan.

Saat masa kekhalifahan Umar bin Khatab, Khalid bin Walid dipecat dari jabatannya sebagai panglima perang menjadi prajurit biasa. Pemecatannya bukan karena Khalid bin Walid tidak lagi berkompeten memimpin peperangan. Namun, Sang Khalifah memiliki alasan demi kebaikan umat Islam. Umar khawatir jika setiap peperangan yang dipimpin Khalid meraih kemenangan, umat akan mengkultuskannya. Bahkan berlebihan menganggapnya sebagai pembawa kemenangan.

Kala itu di tengah genderang perang yang ditabuh, Khalid dengan segera melepas jabatannya. Tidak lama setelah surat dari Umar yang dibawa oleh Abu Ubaidah dibacanya. Khalid bin Walid dengan ikhlas melepaskan jabatan. Baginya, menjadi panglima yang suaranya paling didengar atau pun prajurit yang suaranya tak terdengar, tidak ada bedanya. Karena di mana pun posisinya, bagi Khalid. Allahlah alasan mengapa ia berperang.

“Aku berperang untuk Tuhannya Umar,” kata Khalid. ”Bukan untuk Umar,” lanjutnya.

Masya Allah, dari Khalid bin Walid kita belajar sebaik-baik ikhlas. Bahwa berjuang di mana pun, bagaimana pun kondisinya, apa pun rintangannya, tetaplah Allah yang harus menjadi alasan.

Maka, jika ada kondisi yang tidak sesuai di hati. Ada harapan yang tidak sejalan sesuai anggapan, maupun rencana yang batal terlaksana. Kecewa yang berlebih tidak akan menyergap selama Allah tetap menjadi alasan kita berjuang. (sumber: cahayasenjaandalusi.wordpress. com, dengan beberapa perubahan)

LEAVE A COMMENT