. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Belajar Aplikasikan Kaidah Emas

Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menemui orang dengan berbagai karakter, budaya, dan latar belakang yang berbeda. Ada yang emosional. Ada yang sabar. Ada yang lambat. Ada yang cepat. Ada yang semangat. Ada yang malas-malasan.

Banyak hal yang mempengaruhi karakter seseorang. Hal itu ditentukan oleh bagaimana pendidikan ia di rumah dan di luar rumah. Tak mudah tentunya untuk menyatukan komunikasi antara dua orang atau lebih yang berbeda budaya, tanpa mempelajari budaya masing-masing. Salah satu contohnya kata yang sama di dua budaya yang berbeda, dapat berbeda arti.

Banyak dari kita yang bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan dan budaya masing-masing. Sehingga tidak sedikit, orang yang akhirnya tersinggung, sehingga memunculkan konflik. Ingat! Penyebab konflik utama itu karena adanya Missed Communication, baik verbal maupun nonverbal. Dan komunikasi itu bersifat Irreversible alias tidak dapat diulang!

Salah satu pelajaran yang terus harus dipelajari sampai akhir hidup nanti, adalah komunikasi. Karena kita tidak dapat lepas dari aktivitas tersebut. Lulusan jurusan komunikasi sekalipun belum tentu mampu berkomunikasi dengan baik, jika tidak mau belajar sabar, mereda emosi, dan mengenyampingkan ego.

Kaidah Emas adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan dan tidak memperlakukan orang lain sebagaimana kita tidak ingin diperlakukan. Kaidah Emas seperti mudah dilakukan. Cukup bertanya kepantasan mengenai suatu hal pada hati. Ketika hati tenang, maka ia akan menuntun kita untuk berperilaku dan berkata sesuai dengan yang Allah ridai.

Lain hal jika hati gelisah, ia akan menjadi alarm untuk kita berhati-hati dalam berperilaku. Cek lagi niat. Bagaimana respon orang yang menerima hal ini? apa baik-baik saja atau menyinggung? Jika efek yang ditimbulkan adalah mudarat, maka hati akan menuntun untuk mengurungkan niatnya untuk melakukan hal tersebut.

Terkadang, kita saksikan orang yang menegur orang lain, mempermalukan, bahkan menyakiti orang lain di depan umum. Dan Astaghfirullaah, mungkin kita pernah melakukan hal yang sama baik disadari ataupun tidak. Pernahkah sebelum kita melakukan hal tersebut, memikirkan bagaimana perasaan orang yang kita tegur? Marah-marah dengan puasnya? Tapi kita terlalu besar memiliki rasa toleransi pembenaran pada diri.

“Kan memang sudah seharusnya dia mendapatkan hal itu atas apa yang dia lakukan?” Rasa seperti ini yang akhirnya menghilangkan nurani seketika. Serasa benar sendiri dan seenaknya pada orang lain. Dan kita lupa, tentang hadiah menahan amarah adalah surga.

Untuk diri sendiri, rasa ingin dihormati dan dihargai adalah fitrah yang Allah uji. Apakah kita bisa mengolah hati kita untuk tetap ikhlas, atau justru menggerutu tak menentu. Apalagi jika berlebihan dan gila hormat, tentu hal ini akan membuat sengsara dan membuat orang sekitar tidaklah nyaman.

Berbeda hal dengan orang lain, kita sudah sepatutnya menghormati dan menghargai sesama apalagi jika orang tersebut sudah berlaku baik kepada kita. Penghargaan dan ucapan terima kasih adalah rasa syukur kita kepada sesama manusia. Jika kepada sesama manusia saja tidak bisa berterimakasih dan menghargai, tentu ia tak akan bersyukur pada Allah, pencipta-Nya.

Bagaimana cara kita agar dapat bersikap dan berkata sesuai dengan kaidah emas? Jawabannya, belajar, berlatih, disipilin, dan memohon pertolongan pada Allah agar dapat melakukannya dengan niat yang ikhlas. Apapun yang ingin kita raih untuk dunia dan akhirat ini, maka lakukanlah dengan terus berlatih, latih diri untuk memahami sekitar, latih diri untuk sabar dan muhasabah diri. Pembiasaan diri melakukan hal yang baik akan mengasah kepekaan diri dan hati agar terbiasa bersikap sesuai dengan yang Allah inginkan.

Guru Kita, KH. Abdullah Gymnastiar selalu berpesan dengan singkatan-singkatan unik yang mudah untuk dihapal. Kaidah Emas ini, berhubungan dengan Pesan 3 SA. Saya Aman Bagimu, Saya Menyenangkan Bagimu dan Saya Bermanfaat bagimu. Bukankah hati kita senang, ketika diri merasa aman. Bukankah hati kita senang, jika lingkungan dan orang sekitar menyenangkan. Dan bukankah hati kita senang, jika orang lain menolong kita ketika kita membutuhkan pertolongan?

Rasa aman, senang dan bermanfaat yang kita ingin dapatkan, diinginkan juga oleh orang sekitar. Kalau kita hanya menginginkan “Di”, maka tidak akan ada orang yang nyaman bersama-sama kita, kecuali terpaksa karena takut. Ketika ingin melakukan ini, harus dilayani, diambilkan, dibelikan, di, di, di, maka tidak akan pernah ada orang yang nyaman dengan tipe dictator seperti itu. Kita juga harus “Me”, melayani, membantu, menolong, dsb.

Mengingat para pemimpin yang betul-betul memiliki jiwa pemimpin yang waro mereka memposisikan diri sebagai pelayan. Mereka tidak mati-matian agar nafsu dunianya terpenuhi, tetapi sungguh-sungguh memikirkan kesejahteraan orang banyak. Apakah para rakyatnya dapat makan dan berpakaian dengan layak, tidur dengan nyenyak di rumah yang dapat melindungi dari panas dan hujan? Itu hal yang mereka persiapkan untuk pertanggungjawaban atas amanah di dunia ini.

Kita pun sama, pemimpin. Untuk diri sendiri, keluarga dan sekitar. Kita akan ditanya mengenai kehadiran kita berada di suatu tempat, bermuammalah dengan sekitar, apakah sesuai dengan  yang Allah inginkan dan sesuai dengan yang Rasulullah SAW. contohkan?

Maka, mari kita belajar Akhlaqul Karimah dari Rasulullah Saw. Sebaik-baik teladan. Insya Allah hati akan menjadi tenang, nyaman dan tentram. Selamat Belajar. Semoga Allah menolong kita agar dapat mengaplikasikan Kaidah Emas dengan 3 SA. Saya Aman Bagimu, Saya Menyenangkan Bagimu dan Saya Bermanfaat Bagimu. Aamiin. (Alma Fauzal Jannah)

LEAVE A COMMENT