. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Apa yang Mengancam Kita

Saudaraku, seseorang yang yakin kepada Allah ia akan berbeda melihat dunia ini. Bahkan melihat musuh yang sangat besar kebencian kepadanya, ia tidak sedikitpun merasa terancam. Ia merasa terancam adalah justru oleh keburukan dirinya sendiri. Karena, yang pasti membahayakan kita adalah keburukan diri kita sendiri.

Keburukan orang lain kepada kita itu hanya menyampaikan apa yang Allah tetapkan atas kita. Sedangkan, keburukan kita menjadi petaka bagi kita.

Allah SWT berfirman, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri..” (QS. An Nisaa [4] : 79)

Imam Ibnu Katsir menerangkan ayat ini bahwa nikmat yang kita peroleh adalah pemberian dari Allah SWT, sedangkan keburukan yang menimpa kita itu berasal dari diri kita sendiri dan disebabkan perbuatan kita sendiri, sebagaimana firman Allah SWT. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuro [42] : 30)

Jikalau ada orang lain yang berbuat buruk kepada kita, maka sikap terbaik adalah tidak menyimpan dendam kepadanya, apalagi sampai membalas dendam kepadanya. Karena jika orang lain berbuat jahat kepada kita dan kita membalasnya dengan kejahatan pula, maka apa bedanya antara kita dengan dirinya. Terlebih, Rasulullah saw pun mencontohkan hal ini, setiap keburukan yang datang kepadanya justru selalu beliau balas dengan kebaikan.

Bukan tidak boleh membela diri, karena membela diri juga bagian dari apa yang Rasulullah saw ajarkan. Akan tetapi membela diri berbeda dengan menyakiti orang lain. Bahkan, pada apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw, membela diri pun senantiasa diiringi dengan akhlak yang mulia.

Saudaraku, semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengutamakan akhlak mulia, menebarkan kebaikan sebagai tugas kita menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallohua’lam bishawab. [KH. Abdullah Gymnastiar]

 

LEAVE A COMMENT