. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Antara Pujian dan Koreksi

Allah SWT berfirman, “..dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm [53] : 32).

Saudaraku, wajar jika kita merasa senang ketika ada orang lain yang memuji kita, menyebut kita sebagai orang sholeh, baik hati, dermawan, pintar, atau sederet sebutan-sebutan lainnya. Akan tetapi, yang perlu kita waspadai adalah jika pujian-pujian tersebut sebenarnya tidak ada pada diri kita. Sedangkan ketika datang orang yang mengomentari kita apa adanya, memberi koreksian untuk kita, kita cenderung menolaknya.

Nah, inilah yang perlu kita renungkan ketika kita lebih mencari orang yang memuji kita ketimbang orang yang mau menyampaikan kepada kita tentang diri kita yang sebenarnya. Dan, kita cenderung akan lebih tidak suka manakala ada orang yang menyampaikan secara langsung kepada kita tentang kekurangan atau keburukan kita.

Padahal kalau kita renungkan, pujian yang datang selalu berpeluang melenakan kita. Dan, semakin berbahaya jika sebenarnya pujian itu tidak sesuai dengan diri kita yang sebenarnya.

Sedangkan orang yang berbicara apa adanya, menyampaikan kekurangan-kekurangan kita, memberi koreksi kepada kita, ini lebih berpeluang menjadikan kita lebih baik lagi. Karena kita memperoleh informasi tentang bagaimana diri kita dalam pandangan orang lain, yang sangat mungkin selama ini tidak kita sadari. Sehingga akhirnya kita bisa memperbaiki diri.

Semoga kita semakin bijaksana menyikapi pujian dan komentar orang lain terhadap kita. Yakinlah bahwa setiap kejadian mutlak karena izin Allah, termasuk datangnya orang lain yang memberikan pujian dan komentar tentang kita. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa memperbaiki diri. Aamiin yaa Robbal’aalamiin.  [KH. Abdullah Gymnastiar]

 

 

LEAVE A COMMENT