. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Amal yang Ikhlas

Di antara ciri bagusnya keimanan seorang hamba adalah bersegera menunaikan apa yang diperintahkan Allah Ta’ala kepadanya. Dia tidak menunda-nunda tanpa alasan yang dibenarkan. Saat tiba waktu shalat, dia akan tinggalkan semua aktivitas duniawinya. Bahkan, sesaat sebelum azan, dia sudah pergi ke masjid atau bersiap di tempat shalat.

Saat ada kewajiban untuk mengeluarkan harta, dia akan bersegera mengeluarkannya, tidak banyak berpikir. Setiap amal yang dicintai Allah Azza wa Jalla, dia akan menunaikannya dengan segera, tidak pakai lama.

Ini yang terpenting, dia akan melakukan itu semua murni karena Allah semata. Motivasinya adalah meraih mardhatilldh, keridhaan Allah, bukan keridhaan dan pujian makhluk.

Al-Quran mengungkapkan, “Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah, 98z5)

Ayat ini memberi petunjuk agar seorang hamba Allah tidak beribadah, baik mahdhah maupun ghairu mahdhah, kecuali dengan landasan keikhlasan.

Saudaraku, ikhlas adalah ruhnya amal. Sehebat apa pun amal kita, apabila tidak ada keikhlasan di dalamnya, dia menjadi tidak bernilai di hadapan Allah. Pahalanya nol.

Maka, kita harus terus melatih diri agar niat kita senantiasa lurus, dalam amal apa“ pun. Setiap kali hendak _ beramal, tanyalah kepada hati, apakah amal ini dilakukan karena Allah atau bukan, atau masih ada campuran riya. Apabila sudah bulat karena Allah, segera lakukan. Kalau belum, tunda terlebih dahulu sampai niat kita benar-benar lillahi ta’ala.

Boleh jadi, ada yang bertanya, apa tandanya kalau suatu amal itu ikhlas dilakukan? Berikut adalah sejumlah tanda yang dapat dijadikan bahan evaluasi diri.

Pertama, dia beramal bukan untuk mengharapkan pujian.

Apa yang dilakukannya lillahi ta’ala, karena Allah semata, bukan karena ingin dipuji oleh calon mertua, atasan, suami, tetangga, atau lainnya. Apabila terbetik keinginan untuk dipuji, dihargai, dinilai oleh manusia, dia akan bersegera untuk meluruskan niatnya.

Kedua, tidak mengeluh.

Orang ikhlas tidak mengucapkan kata-kata yang penuh dengan keluhan, cercaan, atau sibuk menyalahkan orang lain. Dia akan tenang menghadapi berbagai kemungkinan Bagaimana tidak, dia yakin bahwa semua terjadi atas izin Allah. Dia tidak mungkin menakdirkan sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya. Maka, bagaimana akan mengeluh sedangkan dia yakin dengan balasan dari Allah.

Ketiga, tidak setengah-setengah dalam beramal.

Orang ikhlas akan sangat serius dalam beramal. Dia akan melakukan amal terbaik sehingga bisa diterima oleh Allah Ta’ala. Dia tidak mau setengah-setengah dalam menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya.

Di sini, kita bisa belajar pada keluarga Rasulullah saw. tentang makna ikhlas dalam beramal. Ada banyak kisah terkait hal ini. Satu di antaranya kisah Sayyidah Fathimah ra. dengan seorang pengemis tua. .

Suatu hari, setelah Rasulullah saw. selesai mengerjakan shalat, beliau tetap berada di dalam masjid bersama para sahabatnya. Kemudian datanglah seorang Arab Badui yang sudah renta dan berpakaian kumal.

“Ya Rasulullah, saya sangat lapar. Mohonlah agar saya diberi makanan sekadarnya. Lihatlah saya tidak mempunyai pakaian selain yang saya pakai untuk menutupi aurat seperlunya,” kata orang ini dengan lirih.

Rasulullah saw. segera menanggapi, “Aku sendiri tidak mempunyai sesuatu yang pantas aku berikan kepadamu. Namun, cobalah engkau pergi menemui orang yang dicintai Allah dan rasul-Nya. Dia lebih mengutamakan orang lain yang menderita daripada dirinya sendiri. Diabernama Fathimah, putriku. Rumahnya dekat sekali dengan rumahku.”

Lalu, pergilah Arab Badui itu ke rumah Fathimah. Sesampainya di sana, orang tua itu disambut dengan baik dan ramah.

“Bapak dari mana?” tanya Fathimah dengan lembut.

Dia menjawab, “Saya orang tua dari jauh. Tadi saya bertemu dengan ayahmu, hai, putri Rasulullah. Saya lapar sekali. Pakaian ini pun sudah amat kumal. Tolong saya diberi makan dan pakaian seperlunya saja. Mudah-Mudahan Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu.”

Saat itu putri Rasulullah sangat bingung memikirkan sekiranya apa yang akan diberikan kepada orang tua itu. Dia dan keluarganya saja sudah berpuasa tiga hari karena tidak memiliki apa pun untuk dimakan.

Akan tetapi, melihat orang tua yang demikian sengsara, Fathimah tentu saja tidak bisa membiarkannya. Dia tidak ingin orang tua itu pergi dengan tangan hampa. Lalu, Fathimah mencari-cari apa yang bisa diberikan dan pilihannya jatuh pada alas tidur yang terbuat dari kulit kambing, alas ini milikAl-Hasan.

Setelah menerima alas tidur tersebut, ‘orang tua itu berkata, “Hai, putri Rasulullah, apa yang saya bisa perbuat dengan kulit kambing ini? Saya sangat lapar dan membutuhkan pakaian secukupnya. Kulit kambing ini tak dapat menghilangakan lapar dan menutupi aurat.”

Teguran itu tentu membuat Fathimah malu. Dalam keadaan itulah dia teringat akan kalung pemberian bibinya. Tanpa pikir panjang, putri kesayangan Rasulullah saw. ini segera menyerahkan kalung tersebut kepada sang tamu.

“Ambillah ini! Mudah-mudahan Allah menggantinya dengan karunia yang lebih baik,” kata Fathimah.

Hal ini tentu saja membuat hati orang tua itu gembira. Dia kemudian pergi ke masjid. Di sana Rasulullah saw. masih dikelilingi sahabatnya. Lalu orang Arab ini memberi tahu seraya menunjukkan kepada Rasulullah seuntai kalung yang diberikan Fathimah kepadanya. Melihat itu, Rasulullah meneteskan air mata. Beliau terharu menyaksikan kemurahan hati sang putri.

Ammar bin Yasir ra.. yang menyaksikan adegan itu lalu berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah aku membeli kalung itu?”

Sambil menyeka airmatanya, beliau berkata, “Belilah jika engkau mau.”

Inilah secuplik kisah, sebagaimana diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah ra. tentang kesungguhan beramal yang berjalin erat dengan keikhlasan. Tiada yang dihasilkan olehnya selain keindahan dan keajaiban.

Setiap amal ibadah pasti ada buahnya. Jika dilakukan karena riya, terpaksa, atau sekadar gugur kewajiban, buahnya adalah kebosanan, kekalahan, dari kekecewaan. Namun, jika dilakukan dengan ikhlas lagi pernah kesungguhan, buahnya adalah hadirnya rasa manis dalam menjalani rutinitas ibadah dan ketaatan. Mungkin mi buah yang paling sederhana Ketika ibadah terasa manis, seseorang niscaya akan semakin asyik melakukanzbadah bahkan bisa Sampai ke tarap ”ketagihan”

Abu Darda ra. berujar, ”Tanpa tiga hal, aku tidak tertarik hidup walau hanya sehari, yaitu (1) haus (berpuasa) untuk Allah pada siang hari yang panas, (2) bersujud untuk Allah Pada pertengahan malam, dan (3) duduk dengan orang-orang yang memilih ucapan“ ucapan bagus, seperti memilih buah-buahan yang bagus.”

(Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT