. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Ada Hikmah di Balik Ujian

Musibah itu bagaikan alarm. Dia hadir sebagai bentuk peringatan dari Zat Yang Mahakuasa agar manusia tidak lum kepada-Nya. Dan, itulah kenyataannya. Ada banyak orang ingat kepada Allah setelah ujian, musibah, dan hal-hal yang tidak mengenakkan datang menghampirinya. Maka, setiap musibah pasti akan membawa kebaikan atau hikmah bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran darinya.

Masalahnya, bagaimana agar kita bisa berlapang hati kala menghadapi musibah? Di sinilah seninya. Apa yang dikatakan tidak semudah pelaksanaannya. Perlu kesabaran, proses, dan pemahaman yang baik tentang apa dan bagaimana musibah tersebut, plus perenungan tentang mengapa Allah Ta’ala menakdirkan musibah itu menimpa kita.

Agar tidak berpanjang cakap, ada sejumlah hal yang bisa kita lakukan agar musibah yang menimpa bisa mendatangkan berkah. Pertama, berusaha meyakini bahwa setiap kejadian itu adalah kehendak Allah Ta’ala. Jadi, ketika musibah itu datang, ucapkanlah kalimat istirja’, inna lillahi wainnd ilaihi rdji’an. Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan hanya kepada-Nya kami kembali. Kedua, menjadikan musibah sebagai sarana evaluasi diri. Ketiga, menjadikan musibah sebagai sarana tobat. Keempa t, memohon kepada Allah Ta’ala agar diberi kesabaran dan jalan keluarnya.

Menerima musibah dengan keikhlasan hati sering kali memerlukan proses panjang. Maka, apabila ketidakikhlasan terus hadir, mintalah kepada Allah Ta’ala agar hati bisa tulus menerima segala ketetapan dari-Nya, lalu bertobat karena ketidakikhlasan tersebut.

Segerakan diri untuk mengambil air wudhu, lalu shalatlah dua rakaat, dan ucapkan, “La haula wa Ia quwwata illd billahil’aliyyil-azhi’m. Lalu bacalah doa seperti yang tercantum dalam Al-Quran, “Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Thhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. ( Mereka bendoa), ‘Ya ‘Ihhan kami, limpahkan kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri ( kepadaMu)’.” (QS Al-A’raf, 7:126)

Saudaraku, apabila telah mengadu kepada Allah, engkau boleh mengadu kepada teman atau saudaramu yang engkau yakini akan menjaga rahasiamu dan bisa memberikan solusi atas masalah yang sedang engkau hadapi. Ingatlah, jangan salah memilih teman curhat (mengadu). Jika salah, engkau tidak akan mendapatkan solusi darinya dan bahkan aibmu akan diketahui banyak orang.

Maka, akan sangat baik bagi kita untuk tidak curhat kepada sembarang orang. Ingatlah, satu orang membuka rahasia, maka ribuan pintu akan terbuka untuk tersebarnya informasi tersebut. Cukuplah Allah Ta’ala sebagai Penolong kita dan cukuplah Allah Ta’ala yang akan memberikan jawabannya.

Ingatlah pula bahwa Allah Ta’ala tidak akan menimpakan suatu ujian melainkan sesuai dengan kemampuan seorang hamba menerimanya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan ) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan ) yang dikerjakannya …” (QS Al-Baqarah, 2:286). Ini artinya, ketika Allah Ta’ala menghadirkan ujian, dengan izin-Nya, kita pasti akan bisa melawati ujian tersebut dengan baik.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang terdesak oleh kebutuhan, kemudian (dia) mengadukannya kepada manusia, maka sangat layak apabila kebutuhan itu tidak mendapat kemudahan; akan tetapi siapa mengadukannya kepada Allah, niscaya Dia akan menganugerahkan rezeki yang cepat atau kematian yang lambat.” (HR Ahmad, No. 3513)

Maka, sangat layak apabila kita mendahulukan curhat kepada Allah sebelum curhat kepada manusia. meminta pertolongan kepada Allah sebelum kepada manusia. andaikan harus meminta pertolongan kepada manusia, itu pun dilakukan dalam kerangka ikhtiar setelah hati sepenuhnya berserah kepada-Nya.

(Ninih Muthmainnah)

LEAVE A COMMENT