. . .
  • Jalan Gegerkalong Girang No.67, Kec. Sukasari, Kota Bandung
  • 022 200-6655

Aa Gym: Menolak Bahaya dengan Berwakaf

Saudaraku, kita tidak tahu kapan jadwal musibah yang menimpa kita. Baik yang sudah tertulis ketika kita empat bulan di dalam perut ibu, atau yang tertulis karena kemaksiatan yang dilakukan. Tapi dengan sedekah atau berwakaf, bisa menolak bala atau musibah tersebut.

Seperti diungkapkan oleh Imam Ibnu Qayyim, bahwa sedekah atau berwakaf itu mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam menolak bencana. Bukan hanya bagi orang beriman, tapi bahkan terhadap orang yang suka maksiat dan tidak yakin kepada Allah. Kalau dia senang bersedekah atau berwakaf, maka akan ada takdir-takdir bencana yang diubah oleh Allah. Karena Allah Maha Melihat. Dan semoga Allah mengubahnya dengan memberikan hidayah.

Keuntungan berikutnya bagi yang gemar berwakaf, Allah terangkan dalam al-Quran Surat Saba’ [34] ayat ke 39. “Katakanlah, ‘Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan (wakafkan), Allah akan menggantinya dengan keuntungan lainnya, dan Dia-lah pemberi rezeki yang terbaik.”

Orang yang gemar berwakaf itu berkah rezekinya. Hal ini tersambung pula dengan keuntungan lainnya, yaitu diberikan hati yang tenang dan gembira oleh Allah, serta pahalanya terus mengalir hingga hari akhir. Masya Allah!

Bermimpilah Bisa Berwakaf Setiap hari!

Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Setiap hari ada dua malaikat turun kepada seorang hamba. Salah seorang malaikat berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak (berwakaf),’ dan malaikat yang satunya lagi juga berdoa, ‘Ya Allah hilangkan harta orang yang menolak berinfak (berwakaf),” (HR. Mutafaq’alaih).

Demikianlah saudaraku. Saya kira cukup jelas apa yang tertera dalam hadis tersebut. Karena itu, mohon maaf kalau telah berulang kali dan tak bosan dikemukakan, bahwa tidak penting jadi orang kaya. Terus terang saya heran, mengapa kita masih juga sering berteriak, bercita-cita atau bermimpi harus kaya.

Kita mau hidup bahagia, tapi malah bermimpi jadi kaya, yang berarti mengumpulkan. Padahal, yang didoakan malaikat dan disukai oleh Allah adalah orang yang gemar berbagi, dalam hal ini berwakaf. Mengapa kita tidak bermimpi untuk menjadi orang ahli berwakaf?

Jadi, kalau kita mau hidup bahagia, mau terhindar dari bala atau bahaya, bermimpilah bisa menjadi ahli wakaf, yang berusaha istiqamah setiap hari mewakafkan hartanya.

Berwakaf tidak perlu menunggu kaya. Karena tidak ada jaminan ketika saudara Allah berikan kesempatan menjadi hamba-Nya yang kaya raya, saudara akan ringan mengeluarkan harta a untuk berwakaf.

Kurang lebih begitu kebiasaan buruk kita. Melamun saja sudah pelit. Apalagi kalau pegang uang betulan. Misalnya, di kantong saudara ada uang satu lembar 50 ribu, dan satu 10 ribu. Lalu, datang kesempatan berwakaf. Yang dipikirkan biasanya, “50 ribu kebanyakan, kalau uang 10 ribu untuk ongkos angkot. Ah, besok sajalah wakafnya, nunggu kaya.” Ternyata besoknya malah sudah habis, bahkan berhutang.

Maka saudaraku, ayolah bermimpi dapat menjadi ahli wakaf. Bermimpilah dapat berwakaf setiap hari. Agar berkah rezeki yang kita dapatkan, serta selamat dari segala penyakit hati dan bala bencana lainnya.

Percayalah, berwakaf tidak akan membuat kita jatuh miskin. Bagaimana mungkin kita yang suka berwakaf dan disukai Allah, kemudian Allah menjadi pelit kepada kita? Mustahil! Yang membuat kita pelit kemudian enggan berwakaf itu karena kita kurang iman.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah kepada kita sehingga kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang ringan dalam berwakaf dengan ikhlas. Aamiin Ya Allah Ya Rabbal Alamiin. (KH. Abdullah Gymnastiar)

 

 

 

 

LEAVE A COMMENT